AHOK VS IMPERIUM CITRA

loading...

Oleh: Hiro Edison

Kontestasi pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta semakin mendekat. Kehadiran para kontestan yang akan terlibat dalam pesta demokrasi lima tahunan itu mulai bermunculan di tengah masyarakat. Sebuah momen yang menyenangkan. Sebab, mereka kini menjadi sorotan publik. Publik mulai mengenal siapa dan bagaimana asal-asul para calon pemimpinnya. Selain itu, para calon pun makin getol memeperkenalkan diri mereka masing-masing kepada khalyak ramai.Dalam konteks DKI Jakarta saat ini, tokoh yang sering disoroti ialah Basuki Cahaya Purnama, alias Ahok. Selain karena jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta saat ini, beliau juga disoroti oleh karena menjadi salah satu calon gubernur pada Pilgub DKI di tahun yang akan datang. Pasca deklarasi adanya teman Ahok di Jakarta, serta pendeklarasian dirinya maju lewat jalur independen, beliau menjadi sosok yang paling banyak disoroti. Sorotan yang ditujukan padanya tentu bukan hanya yang positif saja melainkan juga yang negatif. Tidak hanya dari para bakal calon lawannya dalam pesta demokrasi tetapi juga oleh warga masyarakatnya sendiri.

Imperium Citra

Salah satu magnet para calon pemimpin dalam sebuah dinamika politik ialah rekam jejaknya. Rekam jejak merujuk pada prestasi, keberhasilan, dan juga semua kesuksesan lainnya yang telah mereka raih dalam hidup. Semua hal itu menjadi imej sekaligus kekuatan yang padanya setiap orang menggantungkan diri. Itulah yang disebut dengan citra. Kekuatan magnet citra akan terasa ketika para calon mulai mendeklarasikan diri untuk bertarung dalam sebuah kontestasi pemilihan umum, entah untuk menjadi anggota Legislatif (Pusat dan Daerah), Eksekutif (Presiden, Gubernur, dan Bupati), maupun jabatan negara lainnya.

Rekam jejak (baca: citra) seorang calon pemimpin merupakan magnet yang harus ada dalam diri para calon pemimpin. Citra harus menjadi kekuatan yang mampu menarik simpati dan juga rasa ketertarikan masyarakat. Selain memiliki kemampuan untuk mendulang suara, citra juga memiliki daya untuk mengikat sekaligus menarik massa.

Kekuatan citra seorang calon pemimpin tentu tidak akan cukup jika terbatas hanya pada prestasi dirinya. Demi mendukungnya, tidak jarang janji dan juga karya sosial lainnya menjadi solusi praktisnya. Maka muncullah karya-karya berikut: membagi sembako, memberikan dana hibah, mengadakan lomba ini dan itu, serta beragam karya sosial dan amal lainnya. Masyarakat pun menjadi tuan. Sebab dari merekalah suara kemenangan itu akan bergema.

Demi meningkatkan daya jangkauan sebuah citra, tak jarang orang mulai merebut pengaruh melalui media massa, entah cetak dan/ataupun elektronik. Tidak jarang, halaman-halaman berita media cetak penuh dengan berita seputar kesuksesan dan juga karya baik para calon. Tidak berhenti di situ. Media elektronik pun tidak akan pernah bosan untuk menampilkan para calon beserta dengan profil karya dan kesuksesannya. Mereka menjadi orang bak kain putih polos tanpa noda. Artinya ialah, mereka adalah orang yang paling baik dan berhati mulia. Sebab mereka tak segan-segan membagikan harta, tenaga, dan waktunya untuk membantu sesama.

Menemukan para calon yang penuh cacat entah dari beragam dimensi diri kemanusiaannya (sosial, politk, hukum, agama, dan lain-lain) ibarat mencari orang waras di antara para pemabuk. Maksudnya ialah, semua calon pemimpin adalah orang baik. Tidak ada cacat cela dalam diri mereka yang dapat menghalangi mereka untuk maju sebagai calon pemimpin. Terlepas dari intrik politik, mereka semua mau menampilkan yang terbaik agar masyarakat tertarik dan terpikat pada diri mereka. Itulah yang disebut dengan imperium citra. Membuat citra diri sebaik-baiknya demi mendulang simpati massa yang sangat banyak.

Ahok vs Imperium Citra

Bagaimanakah pergerakan calon petahana, yakni Ahok menjelang Pilgub DKI Jakarta nanti. Menarik bahwa menjelang akhir masa kepemimpinannya, Ahok tidak banyak menampilkan beragam karya sosial bagi warganya. Tak banyak berita yang menampilkakn seorang Ahok sedang mengadakan kegiatan bagi sembako bagi warganya. Sebaliknyalah yang terjadi. Penggusuran masih terjadi di mana-mana. Pemecatan terhadap para pejabat pemerintah yang tidak becus masih juga belum berakhir.

Selain melakukan karya-karya yang kontroversial itu, beliau juga disoroti sebagai pemimpin yang keras sehingga orang berani menyebutnya ‘bajingan’. Saking bajingannya, beliau hanya disoroti dari sisi negatifnya saja oleh media massa tertentu. Bagi mereka Ahok bahkan tidak ada baiknya. Tidak hanya berhenti di situ. Ia bahkan dituduh telah melakukan korupsi sehingga ada yang menuntut agar Komisi Pemberantasan Korupsi segera menahannya. Itulah ironisnya negara kita. Jika terlahir pemimpin yang bersih, jujur, dan juga setia melayani kebutuhan rakyatnya maka kita tidak bangga padanya. Kita bahkan ngotot untuk menunjukkan bahwa ia pasti melakukan korupsi. Sebab, di negeri ini pemimpin selalu diasosiasikan dengan korupsi. Seolah-olah, pejabat tanpa korupsi itu mustahil terjadi di Indonesia.

Jika kita menyimak apa yang terjadi dengan Ahok di atas maka kita dapat mengatakan bahwa imperium citra seakan kehilangan daya magisnya. Artinya, citra para calon yang umumnya selalu dikaitkan dengah hal-hal yang baik, prestasi, dan kesuksesan diri dalam diri Ahok menjadi kebalikannya. Rasa simpati masyrakat kepadanya justeru muncul dari citranya yang “negatif” dan “buruk”. Tanda kutip menunjuk pada serangan yang didapatkan oleh Ahok. Serangan itulah yang tersebar tentangnya. Menarik bahwa, masyarakat tidak terpengaruh dengan berita tentang citra buruk itu. Sebab warga masyarakat kini makin cerdas dalam menilai. Rupanya mereka melihat sisi lain dari semua serangan yang ditujukan kepada Ahok dengan semakin menaruh simpati dan bahkan mendukungnya. Terbukti bahwa masyarakat Jakarta sendiri banyak yang berbondong-bondong ke posko teman Ahok untuk mengumpulkan KTP mereka guna mendukung Ahok. Sebuah citra politik yang membanggakan.

Dapat disimpulkan bahwa imperium citra yang digadang-gadang sebagai magnet para calon pemimpin guna mendapat simpati rakyat mulai kehilangan efektivitasnya. Selain karena ketergantungan pada rekam jejak para calon sendiri, hal itu juga dipengaruhi oleh kecakapan dan kecerdasan masyarakat pemilih dalam menentukan pilihannya. Adalah benar jika dikatakan bahwa saat ini, keberhasilan seorang calon pemipin untuk meraih kemenangan dan juga kesuksesan dalam sebuah kontestasi bukan lagi ditentukan seberapa sukses ia meraih simpati masyarakat melainkan seberapa besar masyarakat telah merasakan pengaruhnya bagi hidup mereka.

*Mahasiswa STF Widya Sasana Malang

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password