breaking news New

POLITIK TANPA MORAL

Oleh : Yohanes Toberato

Kancah percaturan politik mengalami kemajuan pesat. Terbukti dari pilihan untuk masuk dalam dunia politik lebih diminati masyarakat dibandingkan profesi lain yang lebih menjanjikan. Kuantitas elite politik mengalami surplus, sedangkan kualitasnya mengalami defisit yang sangat signifikan.  Akibatnya panggung politik menjadi gelanggang dalam lingkaran persaingan ketat. Target menjadi pemenang di tengah kemelut persaingan, tak pelak menjadikan politik sebagai tujuan yang menerjang tata krama, tak peduli dengan etika dan melupakan moral.

Politik di era modern ini, begitu menyimpang jauh dari moral yang meliputi etika, tata kerama dan sopan santun. Politik hanya mencari keuntungannya sendiri sedangkan   kepentingan umum (public) dan masyarakat (society) tidak dihiraukan dan diperhatikan. Pelayanan yang diberikan kepada masyarakat sangatlah minim. Sebab degradasi moral dalam berpolitik sedang terjadi.

Apakah itu politik ?

Tentu saja kita pernah mendengar atau membaca kata politik dalam media elektronik maupun media cetak. Konsep dan perspektif mengenai politik dari setiap individu maupun  kelompok tentu saja berbeda-beda. Sehingga sering orang mengatakan konsep dan perspektif politik sangatlah subyektif.

Bagi  Rod Hague, “ Politik adalah kegiatan yang menyangkut bagaimana cara  kelompok-kelompok mencapai keputusan-keputusan yang bersifat kolektif dan mengikat melalui usaha untuk mendamaikan perbedaan-perbedaan diantara anggotanya (politics is the activity by which groups rich binding collective decisions through attempting to reconcile differences among their members).

Dewasa ini, definisi politik lebih bersifat normatif, yang terdesak oleh definisi-definisi lain yang lebih menekankan pada upaya  mencapai masyarakat yang baik, seperti kekuasaan, pembuatan keputusan, kebijakan, alokasi nilai, dan sebagainnya.

Namun demikian, pengertian politik sebagai usaha untuk mencapai suatu masyarakat yang lebih baik daripada yang dihadapinya, atau yang disebut Peter Merkl,” politik dalam bentuk yang paling baik adalah usaha untuk mencapai suatu tatanan sosial yang baik dan berkeadilan (politics, at its best is a noble quest for a good order and justice)”. Oleh karena itu,  perlu disadari bahwa persepsi mengenai baik dan  adil dipengaruhi oleh nilai-nilai serta ideologi masing-masing zaman yang bersangkutan.

Politik adalah alat dan sekaligus tujuan. Tak ada yang salah dalam politik. Yang salah adalah menjalankan politik sebagai alat dengan cara yang tak bermoral, mengabaikan tata kerama, norma, susila dan menghalalkan segala cara.

Semua orang baik muda maupun tua pasti mendambakan ”perilaku manis bermoral” baik dalam tindakan keseharian maupun dalam tindakan politik. Tetapi perlu disadari sikap sopan, santun dan bermoral tidak dibawa sejak manusia lahir.

Apa itu moral?

Kata moral berasal dari kata bahasa  Latin mos (jamak: mores) yang berarti kebiasaan, adat-istiadat. Dari kata Latin ini diturunkan ajektif moralis yang telah melahirkan ajektif moral dalam bahasa-bahasa modern, termasuk bahasa Indonesia. Kata moral lebih dikaitkan dengan ajaran, wejangan-wejangan, pandangan-pandangan, norma-norma dan nilai-nilai yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok sosial dalam mengatur tingkah-lakunya.

Moral adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai  perbuatan, sikap, kewajiban, akhlak budi pekerti dan susila. Kondisi yang membuat orang tetap berani dan bersemangat, bergairah dan berdisiplin.

Lalu, apakah politik tanpa moral itu?

Politk tanpa moral adalah politik yang menghalalkan segala cara, politik yang sudah kehilangan nurani demi mencapai tujuan kelompok. Jika suatu bangsa mengembangkan politik tanpa moral, maka bangsa itu menuju kehancuran. Bagi Indonesia politik dikatakan bermoral apabila mengutamakan nilai-nilai dalam Pancasila. Namun, politik sekarang tak bermoral karena melarikan diri dan menjauhkan diri dari nilai-nilai Pancasila. Pancasila yang menjadikan dasar negara ini tidak lagi dijadikan dasar dan pedoman dalam berpolitik. Ini disebabkan berbagai kepentingan dari golongan-golongan tertentu.

Nilai moral yang terkandung  dalam Pancasila tidak lagi diindahkan dalam dunia  politik sekarang ini.

  1. Moral ketakwaan dalam dimensi vertikal dan horizontal. Moral ketakwaan dalam dimensi vertikal adalah sikap dan perilaku pemimpin yang melakukan ibadah secara konsisten. Moral ketakwaan dalam dimensi horizontal adalah sikap dan perilaku pemimpin yang melihat dirinya sama dengan orang yang dipimpinnya.
  2. Moral kemanusiaan. Aktualisasi moral kemanusiaan identik dengan sikap dan perilaku pemimpin yang menyadari adanya hak-hak asasi manusia pada setiap manusia yang menjadi bawahan. HAM dilindungi, dijunjung dan diemban secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Moral kebersamaan dan kebangsaan. Aktualisasi moral kebersamaan berkaitan dengan moral ketakwaan dan moral kemanusiaan yang identik dengan semangat persatuan diantara sesama warga.
  4. Moral kerakyatan. Aktualisasi moral kerakyatan ditandai oleh sikap dan perilaku keterbukaan (transparancy), konsistensi (consistency) dan kepastian (certainty) dalam implementasi kebijaksanaan.
  5. Moral keadilan. Aktualisasi moral keadilan dalam kepemimpinan, ditandai oleh sikap dan perilaku keadilan dan kejujuran yang didasarkan pada tuntutan keimanan dan ketakwaan.

Lalu, yang menjadi pertanyaan sekarang bagi kita, sudahkan para pemimpin dan politisi mengimplementasikan kelima nilai moral ini?

Jeritan mereka yang tak berdaya tak didengarkan. Pemimpin dan politisi kita seolah-olah tuli dengan keluhan masyarakat. Janji hanyalah kata-kata. Mereka tidak menyadari kalau mereka ada karena rakyat. Tetapi mereka semua lupa bahkan tak menyadari kalau mereka juga adalah rakyat.

Pemimpin kita tidak pernah puas dengan kekayaannya, seolah kekayaanlah yang menjadi tujuan bukan pelayanan. Sehingga munculah korupsi yang kemudian menajadi budaya dari para politikus dan pemimpin di negeri ini. Uang negara terus terkuras habis demi mengisi perut sendiri. Sedangkan masyarakat? Busung lapar terjadi dimana-mana, kekurangan gizi, bahkan kelaparan telah merajalela. Dimanakah keadilan negeri ini? Dimanakah kemerdekaan negeri ini? Inikah politik negeri ini? Politik tanpa moral?

Sekadar kita bertanya, apakah politik negeri ini akan terus begini? Politik tanpa moral? Siapakah yang salah? Politik ataukah politisi?

Tak ada yang salah dalam politik. Yang salah adalah menjalankan politik dengan tujuan-tujuan yang tak bermoral, tanpa memperhatikan tata krama, sopan santun dan nilai-nilai Pancasila.

Politik yang bermoral sangat dibutuhkan oleh generasi saat ini. Bukan hanya pelajar dan pemuda tetapi oleh seluruh masyarakat Indonesia. Kita bisa lihat sekarang, politik tidak lagi mengindahkan moral. Moral sepertinya dikantongi bahkan ada yang menaruhnya di bak sampah. Politisi tak diragukan kecerdasannya, namun patut dipertanyakan moral politiknya.

Moralitas mendesak untuk segera dipupuk dan dipelihara karena kelak ia akan manjadi tiang penyanggah kibaran Merah Putih. Oleh karena itu, Hendaknya kita bersemangat memupuk moral sebelum membusuk. Jika terlanjur menaruh moral di bak sampah, maka temukanlah lalu bersihkan lagi. Moral adalah emas, akan tetap berkilau meski dalam tumpukan sampah.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password