breaking news New

Ini Alasan Inggris Keluar dari Uni Eropa

Kabarnusantara.net – Berdasarkan hasil penghitungan akhir media Inggris, SkyNews, menunjukkan 51,9 persen atau 17.410.742 pemilih Inggris ingin keluar dari Uni Eropa. Sedangkan 48,1 persen atau 16.141.241 pemilih ingin tetap bergabung Uni Eropa. Jumlah itu didasarkan pada hasil seluruh 382 area pemilihan yang sudah dihitung, sejak pemungutan suara digelar Kamis (23/6).

Sebanyak 382 area itu termasuk Inggris, Wales, Skotlandia, Irlandia Utara dan Gibraltar.
Hasil penghitungan akhir yang sama juga dilaporkan oleh media nasional Inggris, BBC, yang menyebut 51,9 persen pemilih mendukung Brexit dan 48,1 persen menolak Brexit. Hasil resmi referendum akan diumumkan di Manchester Town Hall oleh otoritas Inggris.

Hasil referendum menunjukan dukungan lebih banyak dari kubu “leave” atau mereka yang menginginkan Inggris yang bergabung Uni Eropa sejak tahun 1973 silam tersebut untuk keluar. 

Lalu apa alasan yang mendukung keluarnya negara Inggris dari Uni Eropa (UE)?

Argumen utama kelompok pro-Brexit adalah Inggris akan lebih baik jika bisa mengatur perekonomiannya sendiri dan kebijakan imigrasinya sendiri tanpa harus mengikuti rambu-rambu UE.

Meskipun Inggris bergabung dengan UE, namun Inggris tidak pernah benar-benar merangkul kebijakan dan idealisme UE. Misalnya, Inggris tidak menjadi anggota Schengen Area yang membebaskan imigrasi dan tidak mengadopsi mata uang euro.

Ketika perekonomian UE terguncang dengan krisis utang Yunani yang membuat negara-negara anggota lainnya harus merogoh kocek untuk menyelamatkan Yunani. Hal itu membuat sebagian warga Inggris menjadi skeptis akan masa depan UE.

Pada tahun 2012, PM Inggris mendapatkan tekanan dari partainya sendiri (Partai Konservatif) untuk melakukan referendum dan akhirnya Partai Konservatif mendapatkan keinginannya.

Boris Johnson, eks Wali Kota London, mengatakan bahwa kelemahan UE adalah menempatkan birokrasi yang tidak dipilih langsung untuk membuat kebijakan di Uni Eropa sehingga menyebabkan beberapa kebijakan yang tidak masuk akal dan merepotkan.

“Kebijakan seperti tidak boleh mendaur ulang kantong teh, atau anak di bawah delpaan tahun tidak boleh meniup balon, atau batas kekuatan penyedot debu. Semua kebijakan ini menggelikan. Lalu ketika kami ingin merubah kebijakan dalam negeri, tetapi harus dilakukan di level Eropa,” kata Johnson.

Salah satu pendukung Inggris keluar dari UE adalah Nigel Farage, pemimpin UK Independence Party (UKIP) yang berhaluan sayap kanan (nasionalis). Menurutnya Eropa dibebani oleh masuknya buruh berupah rendah sehingga menurunkan pendapatan warga Inggris asli. Dia juga mengatakan masuknya imigran ke Inggris akan menyedot anggaran sosial pemerintah dan bahkan meningkatkan angka kejahatan. (But/KbN)

4 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password