breaking news New

Pastor dan Ustadz di Tapanuli Tengah Maju Jadi Pasangan Calon Bupati-Wakil Bupati

Kabarnusantara.net – Pastor Rantinus Manalu, Pr dan Ustadz Sodikin Lubis, disingkat “Paus”, mendeklarasikan diri sebagai bakal calon bupati dan wakil bupati Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Kamis (30/6/2016). Romo Rantinus, yang merupakan imam Keuskupan Sibolga maju sebagai calon bupati. Sedangkan Ustadz Sodikin sebagai calon wakil.

Pasangan ini akan maju melalui jalur independen atau bukan partai politik. Saat ini, sudah terkumpul sekitar 30 ribu dukungan dalam bentuk Kartu Tanda Penduduk (KTP) masyarakat dari yang ditentukan KPU sekitar 22.000 agar bisa menjadi peserta Pilkada Tapanuli Tengah 2017.

Pastor Rantinus berjanji akan memimpin Kabupaten Tapanuli Tengah dengan gaya kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, bila terpilih dalam Pilkada Tapanuli Tengah 2017 mendatang.

“Saya bersama Ustadz Sodikin maju di Pilkada Tapteng atas dukungan dan dorongan dari masyarakat untuk perbaikan Tapteng ke depan,” ujar Rantinus.

Romo Rantinus mengatakan, dirinya akan bersikap tegas dalam memimpin jika terpilih menjadi bupati Tapanuli Tengah, sebagaimana kepemimpinan gubernur DKI saat ini.

“Lebih dari sikap ketegasan Ahok akan saya lakukan dalam memimpin pemerintahan, untuk memberikan keadilan, memperjuangkan hak rakyat dan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di daerah ini,” ujar Rantinus.

Namun menurut Romo Rantinus, hanya ketegasan gaya Ahok yang akan diterapkannya kelak, tetapi dalam cara berbicara tidak seperti Ahok.

“Kalau Ahok kan nada bicaranya agak keras, tetapi saya kan pastor, jadi sebaliknya kalau saya,” katanya.

Dorongan kuat warga agar Romo Rantinus terjun dalam politik praktis dipicu oleh pengakuan akan komitmen imam itu pada upaya menghadirkan perubahan di tengah masyarakat.

Warga Tapanuli Tengah, punya pengalaman buruk dengan bupati sebelumnya, Bonaran Situmeang yang dijebloskan ke dalam penjara tahun lalu, karena kasus suap. Romo Rantinus menjadi bagian dari masyarakat yang getol menyuarakan protes pada kebijakan Bupati Bonaran.

Bahkan, pada 2013, ia sampai ditetapkan sebagai tersangka dengan tudingan pencemaran nama baik, setelah menyampaikan sebuah pengumuman di koran, mengajak masyarakat berdemo dan mengecam Bupati Bonaran. Ia bersama Ustadz Sodikin Lubis dan beberapa rekannya, menuding bupati itu abai terhadap janji-janjinya saat kampanye.

Pada tahun 2009, Romo Rantinus juga aktif menggelar aksi dan berdiri bersama masyarakat yang lahannya diambil untuk menjadi lokasi perkebunan sawit. Kala itu, Romo Rantinus juga ditetapkan sebagai tersangka. Namun, upayanya tidak kendur, karena nyalinya tidak ciut, meski berhadapan dengan berbagai kekuatan pebisnis yang berkongkalikong dengan aparat.

Romo Rantinus sendiri menyadari dukungan yang ia peroleh sekarang merupakan buah dari komitmennya itu.

“Ini dampak dari perjuangan hak-hak asasi manusia yang saya tunjukkan. Ketika kita berjuang untuk masyarakat kecil, mereka mungkin melihat bahwa orang ini yang bisa memperjuangkan kita,” katanya.

Ia menambahkan, masyarakat muak dengan para pemimpin di Tapanuli Tengah. Menurut mereka, pemimpin-pemimpin selama ini moralitasnya sangat rendah dan lebih mementingkan uang.

“Karena moralnya rendah akhirnya banyak yang masuk bui” imbuhnya.

Ia juga mengatakan, masyarakat yang mengusungnya saat ini bukan hanya dari Katolik, tetapi juga dari agama lain.

“Dari umat katolik sendiri, justru banyak yang melarang. Yang mengusung kami dari berbagai latar belakang,” katanya.

Sumber: bersatulahdalamgerejakatolik.com

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password