breaking news New

Menyimak Sila Kedua Pancasila dalam Tindakan Rasisme

Oleh:Dominikus siong*

Bila kita rilis berita-berita terkini, salah satu berita yang dihidangkan media sosial (Mesos) kepada kita adalah tindakan anarkis dari pihak tertentu terhadap etnis lain. Tentunya hal ini tidak terjadi pada semua individu atau kelompok tertentu, dan tindakan itu pasti dilatarbelakangi oleh kejadian-kejadian tertentu pula, yang semula biasa-biasa saja lalu menjadi kebiasaan dan menjadi persoalan yang luar biasa. Berangkat dari kenyataan yang terjadi di sekitar kita saat ini, terutama di kota-kota besar khususnya di kota-kota pelajar misalnya Malang-Jawa Timur, DKI Jakarta, Yogyakarta dll. Tindakan-tindakan pengenkslusifan seseorang masih terjadi sering kali terjadi di bumi Indonesia hingga kini. Kita mengaku diri sebagai warga NKRI tetapi wawasan nusantara kita kurang, sehingga sempit dalam pengenalan dan terbatas dalam bertindak.

Baru-baru ini terjadi tindakan yang over protektif terhadap mahasiswa yang berasal dari Papua (bdk. Berita 18 Juli 2016: http://eveline.co.id/politik/lakukan-orasi-di-asrama-mahasiswa-papua-di-jogja-jadi-sorotan-netizen/). Hal ini memiliki alasan yang tidak rasional walau pun seolah-olah rasional.

Rasional di sini artinya apa?

Maksudnya sebesar apa pun masalah atau persoalan yang terjadi, hendaknya disosialisasikan atau diselesaikan secara sehat dan dewasa. Kalau seandainya saudara kita dari Papua diidentikkan dengan ‘hal-hal yang tidak manusiawi’, itu bukan solusi untuk menyelesaikan masalah, tetapi suatu sikap yang tidak terpuji, meskipun banyak yang menyuarakan maksud yang sama. Sikap atau paradigma yang demikian tentunya tidak sejalan dengan Pancasila. Hal ini salah satu dari kemiskinan pengetahuan manusia yang bersangkutan akan kekayaan budaya Indonesia. Bila kita kaji lebih dalam, bahwa ada begitu banyak makna humanis yang tertuang dalam Sila-sila Pancasila, salah satunya adalah sila “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” (Sila kedua).

Melihat Konteks

Apa yang diwarikan para pejuang NKRI kepada kita merupakan hasil permenungan yang panjang dan sesuai kebutuhan. Sila kedua bukan tidak mungkin lahir dari tindakan-tindakan rasis yang dilakukan penjajah kepada bangsa kita terdahulu yang mengalami pelecehan baik fisik mau pun mental, hal ini tentunya tidak membuat mereka dapat maju dan berkembang. Apakah kita mau diperlakukan demikian lagi? Tentunya kita tidak akan mau. Maka seorang filsuf china katakan: “Jangan melakukan apa yang tidak mau orang lakukan kepadamu” (Konfusius). Nah, untuk menjaga kelestarian bangsa ini, suara persuasi tidak hanya digemakan dalam dan dengan kata-kata saja tetapi hendaknya direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari dan tiap hari, di mana saja dan kapan saja. Rasa hormat terhadap sesama manusia menjadi suatu hal yang penting dimiliki seseorang.

Sila “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”

Sila Pancasila yang kedua ini memiliki tiga unsur penting yakni Kemanusiaan, Adil, dan Beradab. Ketiga unsur ini bukan suatu kebetulan. Manusia dikatakan manusia karena ada unsur kemanusiaan dalam dirinya, maka dia harus dihormati kehadirannya bagaimana pun bentuk dan keadaannya. Pembedaan yang terjadi secara alamiah bukan mengandaikan bahwa kita itu beda adanya, tetapi justru itu menunjuk pada kesatuan manusia dalam perbedaannya secara fisik. Kita sering kali memandang itu yang disebut manusia dari satu sudut atau ciri tertentu secara fisikal, maka kita jatuh pada paradigma yang salah. Cara pandang manusia Pancasilais adalah keseluruhan hadirnya, itu yang disebut manusia. Kalau hanya melihat tangan atau kulit saja itu bukan manusia, itu adalah ‘aku yang lain’ dari sebagian keseluruhan itu yang dapat disebut manusia.

Adil, kehadiran manusia menuntut keadilan dari sesamanya. Kamu adil aku juga adil, adil di sini dapat kita pahami sebagai “kegiatan mengasihi”, menghargai dan mengafirmasi adanya manusia itu, bukan malah menegasi hadirnya. Adil tidak hanya di hadapan hukum tetapi adil di tengah-tengah dunia yang ber-Hukum alamiah.

Beradab, setiap manusia memiliki hak untuk menjadi beradab, maka perlu beradaptasi. Setiap individu membawa latar belakang dan budaya yang berbeda yang kemudian mempengaruhi cara beradaptasinya tersendiri dan masing-masing memiliki daya tangkap yang variatif, ada yang cepat dan ada yang lambat. Hidup bersama atau koeksistensi merupakan pensyaratan saling melengkapi dan mengarahkan satu sama lain pada tujuan yang sama. Itulah sekilas refleksi saya atas sila kedua pada Lima sila Pancasila NKRI.

Relevansi: Stop Rasis di NKRI

Setelah kita dihidangkan berita yang tidak terpuji akhir-akhir ini, kita diingatkan kembali akan adanya suara dari dalam badan Pancasila, yang tidak menyukai ketidakadilan dalam badan dan anggota bangsa yang berpedoman padanya. Dan itu hidup di dalam setiap kita yang sungguh-sungguh mau membuka hati dan budi untuk memahami dan belajar dari para Pejuang bangsa ini. Dengan menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa ini, sehingga NKRI bukan menjadi tempat pembantaian kecil-kecilan saudara/i sendiri, tetapi hendaknya menjadi Payung kebahagiaan bagi warga negara yang bernaung di bawahnya.

* Penulis adalah Mahasiswa STF Widya Sasana-Malang-Jatim

13 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password