breaking news New

Pertambangan dan Persaudaraan Kosmik

Persoalan Pertambangan sekarang menjadi sebuah cambuk cemeti bagi masyarakat. Anwar Nasution mendeklarasikan bahwa Industri primer, seperti pertanian, perikanan, dan pertambangan, adalah jantung dari perekonomian nasional saat ini. Ketika salah satu dari industri primer, pertambangan berkembang terjadi banyak perdebatan di kalangan publik. Perdebatan tak kunjung henti ini menimbulkan polemik yang meresahkan kesatuan hidup berbangsa dan bernegara. Ada apa di balik industri yang satu ini?

Realitas pertambangan

Perusahan pertambangan banyak yang mengeksplorasi dan mengeksploitasi wilayah di Indonesia. Investor pertambangan ini datang untuk menggali isi bumi dari Indonesia. Sebuah isu pertambangan di NTT, Papua, Maluku dan wilayah lain di Indonesia masih menjadi sebuah perhelatan akbar. Publik merasa kehadiran industri pertambangan mengubah hidup masyarakat dari suasana bahagia menuju kemelaratan. Ada sebuah gerakan dari fascinosum menuju tremendum.

Patut juga Mendukung progam Joko Widodo, dalam meningkatkan industri primer di tanah air kita. Kalau industri pertanian, perikanan, dan sektor lain masih bisa menjadi jantung dari perekonomian nasional. Tetapi ketika pertambangan dimasukkan oleh pemerintah sebagai jantung utama, ini juga menjadi sebuah polemik.

Belum pernah mendengar bahwa pertambangan menyejahterakan masyarakat yang mengitari wilayah pertambangan. Industri ini hadir justru membawa banyak dampak. Limbah pertambangan mendatangkan banyak penyakit. Pertambangan menghancurkan kodrat alam yang telah diciptakan. Pada tempat lain, pertambangan membumihanguskan tempat tingkal warga, tanah warga, dan membuat kehidupan warga terkatung-katung.

Persaudaraan Kosmik

Scotus Eriugena, hidup pada abad pertengahan mengemukakan gagasan tentang kosmos. Ia mendengungkan sebuah gagasan, “Increata creans”, kodrat yang tidak diciptakan, tetapi menciptakan. Kosmos atau alam semesta adalah akibat dari penyebab efisien, tidak lain adalah sang Ada yang tidak digerakkan, Tuhan in se. Maka, manusia menjadi bagian dari alam semesta. Manusia mikrokosmos dari makrokosmos. Maka, menghancurkan kosmos sama dengan mengurangi rasa respek dengan sang creans, yang telah menjadikan kosmos sehingga menjadi increata.

Relasi persaudaraan mengikat relasi subjek-subjek. Relasi subjek-subjek mengandaikan adanya keterbukaan menerima yang lain. Penghancuran alam hanya menimbulkan sebuah kegelisahan. Kegelisahan ini diakibatkan rendahnya relasi kosmik.

Ada sebuah ungkapan, manusia merupakan anak tiri dari alam. Manusia tidak dipelihara alam selayaknya binatang dan tumbuh-tumbuhan. Manusia menguras energi dan waktu mempertahankan hidupnya. Ada unsur pilih kasih dari kosmos. Usaha manusia menjadi sebuah sentral dalam pemenuhan dan keberlangsungan hidup.

Berhadapan dengan esensi dan eksistensi manusia yang dinomorduakan kosmos, manusia menggunakan akal budinya mengeksplorasi dan mengeksploitasi alam. Salah satu usaha adalah pertambangan. Usaha ini mendatangkan investor dari negara asing. Pemerintah Indonesia justru mengembangkan industri utama ini sebagai fondasi ekonomi.

Usaha ini bukanlah solusi dari status manusia sebagai anak tiri dari alam. Justru pengambilan langkah ini menguburi kehidupan manusia sendiri. Pertambangan, membawa banyak kerusakan.

Berhadapan dengan realita ini, pertambangan tentu memiliki nilai positif, tetapi lebih banyak mendatangkan unsur negatif, misalnya NTT. NTT adalah pulau kecil. Pulai kecil ini kalau dalam gagasan Scotus increata (diciptakan) bukan untuk menghancurkannya lagi. Tugas kita adalah menjaga dan melestarikannya. Ada sebuah gerakan conservatio mundi.

NTT adalah pulau kecil yang tidak bisa memikul beban berat dari investor asing. Ini menjadi salah satu alasan kenapa usaha pertambangan mendapat banyak pro dan kontra di sana. Masyarakat tahu kemampuan propinsi ini. Sektor pertanian dan perikanan saja belum mendapat perhatian optimal, lalu ingin meloncat ke industri pertambanga. Menyulitkan, bukan?

Lantas, pemerintah Indonesia mengembangkan sektor ini bukanlah sebuah permasalahan bagi propinsi yang memiliki kapasitas wilayah yang cukup luas. Tetapi, NTT dengan kapasitas wilayah yang terbatas sangat sayang mengamini industri pertambangan ini. Industri ini hanya membenai profinsi kecil yang subur ini. Sungguh naif, kalau seseorang memikul beban melebihi kapasitasnya. Demikian pula, kalau daerah kecil memikul beban pertambangan.

Persaudaraan kosmik lahir dari sebuah relasi saling membangun antara manusia dan kosmos. Kapasitas wilayah kecil tidak seyogyanya dijadikan objek oleh nafsu kepongahan dan keegoisan. Lantas, di manakah persaudaraan kosmik itu?

Persaudaraan kosmik tidak berada di luar relasi keduanya. Bonaventura melihat bahwa kodrat alam adalah apa yang ada di dalam diri sendiri, dan yang tidak ada di dalam dirinya sendiri. Apa yang ada di dalam diri dimanfaatkan oleh manusia sebagai penunjang kebutuhan hidupnya. Apa yang tidak ada di dalamnya atau masih menjadi potent (potensi) harus dilengkapi oleh manusia. Manusia melihat alam sebagai sebuah saudara sehingga terjalin relasi kosmik, bukan chaos.

Kehadiran pertambangan hanya menimbulkan relasi chaos (ketidakaturan, ketidakterarahan, dan kerusakan). Bukan ini yang didengungkan dalam relasi persaudaraan kosmik. Persaudaraan ini harus dikembalikan kepada kodratnya. Dalam persaudaraan, ketika salah satu hancur dan sakit, akan menimbulkan kesedihan bagi yang lain. Penderitaan itu ditanggung secara bersama.

Kembangkan Pertanian dan Perikanan

Pemerintah Indonesia ingin meningkatkan tiga sektor utama; pertanian, perikanan, dan pertambangan. Ketiga sektor ini dilihat sebagai tiang penopang ekonomi rakyat. Konteks Indonesia cukup untuk sektor pertanian dan perikanan. Apalagi, mata pencaharian utama masyarakat bercocok tanam. Selain itu, orang yang berdomisili di wilayah pinggiran pantai bermata pencaharian nelayan. Laut menjadi tempat mereka mendapat nafkah dan mempertahankan kebutuhan hidup. Laut sama esensinya dengan tanah bagi para petani.

Sektor pertambangan bisa menjadi antitesis dari bidang pertanian dan perikanan. Kandungan zat dalam tanah terkikis abis akibat penggalian unsur tanah sampai ke jargonnya. Para petani kehilangan tempat bercocok tanam. Air laut pun tercemar oleh limbah pertambangan. Limbah itu mencemari air laut dan juga air minum warga setempat. Sebagai dampak dari sana, timbul berbagai penyakit yang membahayakan.

Menarik bahwa banyak warga NTT yang berkomentar, kami bukan makan dari emas, bukan minum dari mangan. Kami makan nasi, dan jagung yang kami tanam sendiri. Pernyataan itu sebuah afirmasi bahwa sektor pertanian masih mendapat tempat dalam kehidupan warga. Kalau, masyarakat melihat sektor pertanian sebagai kairos, berkat. Pemerintah menjadi harapan mereka dalam mengompitmalkan sektor yang ada. Tidak diharapkan pemerintah mendatangkan sektor pertambangan yang belum mendapat tempat di dalam hati warga.

Sektor pertanian justru sudah lama menghidupi masyarakat yang ada di wilayah NTT, pun masih hidup sampai sekarang. Sedangkan sekotor pertambangan yang baru lahir di tanah subur ini hadir sebagai montster yang ganas. Banyak meresahkan warga yang ada. Kenyataan demikian menunjukkan bahwa industri pertambangan tidak cocok dikembangkan di wilayah subur ini. Wilayah ini kembali mendengungkan dua sektor andalan warga setempat, pertanian dan perikanan.

Oleh karena itu, pemerintah seharusnya mengembangkan industri primer di atas yang meliputi tiga sektor  (pertanian, perikanan, dan pertambangan). Masyarakt merekomendasikan dua sekotor utama, pertanian dan perikanan dioptimalkan. Dua sekotor ini sudah cukup. Sektor inilah harapan warga.

Ditulis oleh Eugen Sardono, Mahasiswa STF Widya Sasana Malang asal Flores-NTT

13 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password