breaking news New

Jalan Raya dan Etika

Oleh : Eugen Sardono*

Orang Indonesia terkenal dengan budaya sopan santun dan nilai etis. Orang saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Keramah-tamahan tidak lagi asing dalam etos hidup harian. Budaya sopan santun selalu mengakar di zona kehidupan bersama. Anak kecil menaruh respek terhadap orang yang lebih tua. Perkataan orang yang lebih tua adalah petuah yang didengarkan untuk keberlangsungan hidup. Situasi ini meningkatkan moralitas bangsa di mata negara lain. Seorang sahabatku dari Prancis menilai bahwa orang Indonesia menunjukkan ‘wajah’ berbudaya. Artinya masyarakat memakai kostum budaya sopan santun. Wajah yang saling mencintai satu sama lain. Teguran dan sapaan bukan lagi sebuah hal baru, melainkan sudah menjadi kebiasaan. Penilaai itu menumbuhkan semangat nasionalisme dalam diri anak bangsa. Budaya antre juga ditanamkan dalam kehidupan anak-anak sejak dini. 

Perjalanan panjang dari Bali ke Malang. Sebuah kejadian yang tidak biasa terjadi, sepasang suami-istri menjadi sasaran penipuan agen bus. Karena nasib malang ini, mereka pun mencoba mencari cara yaitu mencari bus yang masih kosong. Semua orang merasa kesal karena bus itu terasa sesak. Dan sepasang suami-istri yang masih mudah berdiri sepanjang perjalanan dari Bali. Yang menarik bahwa seorang teman memberikan tempat duduknya kepada ibu muda itu. Hatiku terasa lega. Di tengah kejadian itu, aku malu karena aku hanya bermain dalam tataran konsep, sedangkan temanku melihat dan mempraktikannya.

Seorang Filsuf pernah mensinyalir demikian, “Jalan Raya adalah sebuah realitas kehidupan bangsa”. Di sana orang sungguh berada dalam kebebasan (freedom). Penilaian terhadap suatu bangsa; baik atau tidak, bermoral atau immoral, etis atau tidak etis sangat nampak di jalan raya. Sungguh suatu ironi, bangsa yang katanya menganut budaya sopan santun mengalami degradasi etika ketika berada di jalan raya. Orang tidak lagi mencintai sesama. Semua orang egois. Budaya antre tidak lagi dihiraukan. Ada juga yang mendobrak peraturan. Lampu merah bukan lagi dilihat sebagai norma atau kode etik jalan raya. Ada saja oknum yang menerobosnya. Lebih parah lagi, orang tidak sabar. Semua orang ingin tegesa-gesa dan menjadi yang pertama. Karena itu, orang lain pada waktu yang sama adalah sebuah penghalang yang menghambat kehidupan dan kesenangan pribadi. Bukankah ini adalah sebuah ketimpangan sosial. Di manakah nilai etika yang sudah diumbarkan sebelumnya?

Egoisme sebagai Sebuah Dasar Dunia yang terhanyut dan terlaut dalam kolam era kapitalisme melahirkan manusia yang individualistik. Individualistik kendati pun tidak buruk, tetapi telah menjadi sebuah skandalon (batu penghalang) bagi orang lain, tat kala itu sudah menjadi sebuah kebiasaan. Paham kapitalis mengamini kepemilikan pribadi mengakar juga di jalan raya. Nilai etika hilang makna ketika konfrontasikan situasi di jalan raya. Entah kenapa seolah-olah yang terjadi adanya sebuah distansi antara kehidupan di dalam sebuah tatanan masyarakat dan di jalan raya. Apa kiranya menjadi sebuah elemen fundamental dari semuanya itu?

Egoisme berarti paham yang memementingkan diri sendiri. Ego (aku) ditonjolkan dan dominan. Ego selalu diutamakan ketimbang ego (aku) yang lain. Aku yang lain dilihat eksistensinya manakala aku sudah berada dalam sebuah zona kenyamanan. Setiap orang berjuang mempertahankan ego. Tak ada satu pun yang yang berjuang mendapat giliran terakhir. Dari sana, lahirnya orang yang anti antre. Kendati pun ada penghalang, orang beruasaha menerobos penghalang itu. 

Adalah sebuah kenyataan yang sungguh mengalami sebuah dekadensi moral. Kalau di rumah orang saling mencintai, begitu juga di lingkungan masyarakat. Mengapa tiba-tiba di jalan raya, orang menunjukkan banalitas dan kegeramannya? Tak kenal lagi gender atau jenis kelamin, tua atau muda dan yang kuat atau yang lemah. Orang mendorong perempun bahkan tidak lagi melihat orang yang lebih tua. Sungguh hati para penonton realitas ini sangat teriris. Ada sebuah kemunduran moralitas. Egosime hanya bisa dilawan dengan paham altruisme. Paham yang mementingkan orang lain. 

Sebuah pepatah tua mensinyalir, “No man is an island”. Tak ada satu orang yang bisa hidup sendiri. Ketika hadir di dunia ini saja, orang harus melalui rahim seorang ibu. Maka, sungguh suatu pertentangan ketika orang tidak lagi memerhatikan aku yang lain. Aku akan menjadi kuat ketika aku melihat aku yang lain. Aku setidaknya berpikir bahwa aku yang lain sama-sama memiliki kepentingan yang sama dengan aku. Bukankah aku egois ketika aku menutup mata dalam melihat kebutuhan orang lain. 

Kembali Ke Kode Etik

Etika adalah pandangan manusia tentang baik dan baruk. Orang bercokol pada penilaian baik dan buruk. Bagaimana pandangan manusia tentang dunia (weltanschauung) dan pandangan tentang hidup (lebenanschauung). Pendangan tentang dunia dan hidup ada dalam wilayah etika. Orang bisa melihat apakah penghargaan terhadap sesama sebuah jalan menuju penghargaan terhadap diri atau tidak? Ketika orang tidak lagi menghormati dan menghargai sesama, maka kemungkinan besar orang lain tidak akan menghormati dan menghargai dirinya. Kembali ke kode etik dalam pergaulan merupakan repurifikasi terhadap penurunan nilai etik terutama di jalan raya.

Perjuangan melawan sebuah keegoisan dengan melihat kebutuhan sesama. Orang lain memiliki kepentingan yang sama dengan diriku. Maka tidak seyogyanya, aku menguburkan kepentingan sesama dengan mendobrak semua penghalang yang berada di depan mata. Para koruptor negara terlahir dari ‘kebiasaan yang tidak lagi mencintai kode etik’. Ada orang mengatakan baik itu bukan karena ada orang atau aturan yang mengatakan bahwa itu baik. Demikian pun sebaliknya, buruk itu bukan karena ada orang yang mengatakan bahwa itu buruk. Melainkan karena di dalam diri kebaikan itu ada baik dan di dalam diri keburukan itu ada unsur keburukan.

Menerobos sebuah kebaikan merupakan sebuah keburukan. Adanya sebuah perang antara bonum (kebaikan) dan malum (keburukan). Perang ini terjadi merebut dan mendominasi kehidupan manusia. Ganjilnya bahwa kalau di rumah, orang menghormati bapa dan mama. Di luar rumah, orang tidak lagi menghormati mereka. Orang membatasi dan mengkotakkan wilayah penghormatan antara satu dengan yang lain. 

Jalan raya adalah sebuah bibir realitas yang bertutur hal demikian. Minimnya penghormatan antara satu dengan yang lain. Penghormatan itu tidak membatasi diri hanya dalam lingkungan keluarga atau komunitas. Penanaman nilai etik berlaku di mana saja tanpa terkecuali. Bukan juga sebuah perbuatan hipokrif. Tetapi karena adanya sebuah keyakinan bahwa kode etik itu dalam dirinya adalah actus bonum. Karena di jalan rayalah menjadi locus eksistensi suatu bangsa dibaca dan terlihat. 

Hal ini bisa terjadi hanya jika orang menanamkannya menjadi sebuah habitus (kebiasaan) dalam hidupnya. Ketika nilai etis sudah mendarah daging dalam diri setiap orang maka tak perlu diumbar lagi pembicaraan tentang penghargaan terhadap satu sama lain, karena itu hanya menghabiskan waktu. Dengan sendirinya, seseorang bisa melihat bahwa kode etik itu urgen bagi pembangunan atmosfer kehidupan. 

*Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang, Jawa Timur

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password