breaking news New

TERORIS DAN HAM;(Membongkar Rahasia Persoalan Hak Asasi Manusia) 

Persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan persoalan dunia. Dunia tengah berduka oleh karena kematian manusia tak berdosa. Ratap tangis dunia meleleh di antara situasi ketaknyamanan. Namun air mata tersebut menjadi kelegaan dan kegembiraan bagi orang-orang atau golongan tertentu yang memiliki paham kiri. Mereka adalah kaum teroris.

Kaum teroris adalah golongan yang memiliki paham-paham yang bertentangan dengan kebenaran. Dalam anggapan mereka, pelanggaran HAM merupakan tindakan baik. Tindakan membunuh merupakan jalan menuju tangga kemuliaan. Dan ironisnya, mereka menyebut nama Allah untuk membenarkan perbuatan buruknya. Bagi mereka, menyebut Allah Yang Maha Besar merupakan cara mereka melegalkan perbuatannya. Seolah-olah Allah meng-iya-kan tindakan amoral tersebut.

Secara kodrat, HAM merupakan hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia. Setiap manusia memiliki hak untuk hidup. Sebab manusia merupakan ciptaan Tuhan yang secitra dengan Allah. Persoalannya, apakah “tindakan membunuh” merupakan kemuliaan bagi Allah? Mengapa mereka melakukan tindakan membunuh tersebut? Apakah dengan perbuatan itu, dunia mengikuti jalur/tangga kejahatan mereka?

BEBERAPA FAKTA PERSOALAN HAK ASASI MANUSIA

Persoalan HAM semakin marak terjadi di dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. Seperti dalam berita-berita di media sosial yakni beberapa bulan lalu, kasus pembunuhan manusia tak berdosa terjadi di Perancis. Banyak manusia menjadi korban. Dan pada 27 Juli 2016, seorang imam, biarawati, umat kristiani dibunuh, sementara mereka merayakan Ekaristi. Beberapa orang teroris mengeroyok dan mengakhiri hidup mereka tanpa ada alasan sedikit pun.

Kasus yang sama juga terjadi di Indonesia. Kasus pemboman (bom bunuh diri) terjadi pada 12 Oktober 2002, di jalan Legian, Kuta, Bali. Aksi teror di pulau Dewata Bali kembali terjadi pada 1 Oktober 2005. Kasus bom hotel JW Marriot pada 5 Agustus 2003 di kawasan Mega Kuningan, Jakarta. Kasus yang sama terjadi kembali di kawasan Mega Kuningan, Jakarta pada 17 Juli 2009. Pada tanggal 15 April 2011, saat melakukan shalat Jumaat, di Mesjid Mapolresta Cirebon terjadi aksi bom bunuh diri. Kasus pemboman di masjid tersebut bermaksud untuk menyerang polisi. Selain itu, bom Sarinah, jalan MH Thamrin, Jakarta terjadi pada 14 Januari 2016. (Baca; http://www.awas-aja.com/2016/02/7-kasus-terorisme-heboh-terbesar-indonesia.html). Kasus pemboman tersebut mengorbankan beribu jiwa. Fakta pelanggaran HAM ini menjadi bahan pergulatan dan permenungan manusia Indonesia dan dunia. Persoalannya, bagaimana rasa kemanusiaan para teroris? Kenapa mereka melakukan hal demikian?

MEMBONGKAR RAHASIA PELANGGARAN HAM

Kasus-kasus pelanggaran HAM bukan hanya menyentuh ranah moralitas melainkan persoalan eksistensi manusia. Keseluruhan keberadaan hidup manusia merupakan anugerah terindah dari Allah Yang Maha Besar. Manusia bukan sang pencipta bagi manusia lain. Manusia adalah manusia. Manusia bukan Allah. Apabila manusia menjadikan diri sebagai Allah, manusia tersebut adalah manusia arogan dan egois. Dia lupa dengan kodrat kemanusiaannya, di mana dia itu lemah dan tak berdaya di hadapan Allah.

Realitas pelanggaran HAM seperti beberapa fakta di atas merupakan persoalan manusia menjadikan dirinya sebagai Allah. Barangkali mereka beranggapan bahwa pembunuhan merupakan jalan kebaikan dan kebenaran serta tangga menuju Surga. Dan dalam pandangan mereka bahwa yang tidak sepaham dengan mereka adalah orang jahat. Mereka menjadikan manusia yang berlabel penjahat sebagai musuh/ binatang buruan. Karena dipandang sebagai penjahat maka tindakan pembunuhan sebagai sesuatu yang legal. Jadi, menurut anggapan mereka, tindakan pembunuhan merupakan tindakan kebenaran.

Konsep kebenaran yang dipakai oleh para teroris juga dipakai oleh orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. Bagi kita yang tidak sepaham dengan mereka, tindakan membunuh merupakan tindakan kriminalitas. Maka hal itu bukan menjadi kebenaran mutlak. Hemat penulis, tindakan membunuh merupakan bagian dari paham-paham kiri. Sangat jelas bahwa paham-paham kiri sangat bertentangan dengan ajaran-ajaran agama tentang kebenaran Allah. Agama tidak menyuarakan tindakan membunuh itu sebagai kebenaran universal. Agama selalu mengajarkan kebaikan dan kebenaran kepada para pemeluknya.

Tindakan membunuh merupakan konsekwensi dari kesalahan penafsiran terhadap ajaran agama. Mereka memberikan label kebaikan dalam upaya pembenaran tindakan bejat tersebut. Anehnya lagi, nama Allah Yang Maha Besar disebut dalam tindakan tersebut. Persoalannya, apakah Tuhan sudah mengajarkan hal demikian? Menurut hemat penulis bahwa Tuhan tidak mengajarkan hal demikian dalam setiap agama.

Agama bukan ciptaan Allah. Sebab Allah tidak pernah mengajarkan tindakan membunuh itu baik dan benar. Allah mengumandangkan cintakasih yakni cintakasih terhadap Allah dan sesama manusia. Seperti terungkap dalam Penginjil Markus, kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini (Mark 12: 30-31). Hukum cintakasih ini merupakan landasan dan pedoman hidup manusia. Dengan demikian, manusia yang menghidupi hukum cintakasih merupakan manusia yang mentaati Allah Yang Maha Besar.

MEMOTRET ULANG HAM DAN KEBEBASAN BERAGAMA

Kebebasan beragama merupakan fondasi hidup bersama antar umat beragama. Setiap orang yang mentaati ajaran agamanya adalah orang yang memiliki kebebasan hidup beragama. Agama menjadi ruang di mana manusia mampu menghayati hidup baik dan benar. Agama menjadikan manusia kembali dalam permenungan dan pergulatan tentang HAM dan kebebasan beragama.

Kebebasan beragama berlaku universal. Setiap manusia dari setiap agama mengakui kebenaran tersebut. Agama tidak memiliki ruang pembatas untuk membatasi ekspresi iman seseorang kepada Allah. Maksudnya, setiap manusia memiliki ruang kebebasan untuk mengakui dan menghayati imannya kepada Allah. Sebab pengakuan iman bersifat personal yakni antara Allah dengan manusia tersebut.

Kebebasan beragama merupakan hak asasi manusia. HAM ini tidak dapat direnggut oleh siapapun. HAM bagai emas yang bukan dalam tataran materi. Namun emas yang dimaksudkan adalah emas ajaib yang harus disimpan pada bagian terdalam kehidupan dan eksistensi manusia. HAM tersebut merupakan bukti cintakasih Allah terhadap manusia. Allah memberikan hak hidup kepada manusia. Dan manusia juga bertanggung jawab atas pemberian tersebut.

Konsep tentang kebebasan beragama yang merupakan hak asasi manusia sudah diketahui manusia pada umumnya. Seperti dalam pasal 29 ayat 2 yakni negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya. Penulis hanya memotret kembali/ulang kebebasan agama tersebut sebagai bentuk sosialisasi dan penyadaran kembali. Bahwa HAM seperti hak hidup dan kebebasan beragama wajib dimiliki oleh setiap manusia. Kewajiban tersebut merupakan bagian dari ungkapan seni hidup beragama. 

PANCASILA SEBAGAI SALAH SATU JALAN PEMBEBASAN

Hemat penulis, PANCASILA merupakan salah satu jalan menuju pembebasan. Di tengah pelbagai perbedaan seperti perbedaan latarbelakang, agama, suku, bahasa dan sebagainya, penghayatan pancasila menjadi pemersatu dalam perbedaan-perbedaan tersebut. Pancasila ditempatkan pada barisan pertama. Kesadaran ini mendorong manusia khususnya manusia Indonesia tidak melakukan pembedaan dalam banyak perbedaan. Sebab pancasila memiliki nilai-nilai yang sangat utuh untuk dijadikan pegangan hidup.

Penulis menguraikan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Pertama, sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Allah Yang Maha Esa harus menjadi yang pertama dan terutama. Allah diakui sebagai Allah yang sifatnya universal yakni berlaku untuk semua orang. Setiap manusia wajib mengutarakan imannya meskipun diungkapkan melalui cara dan bentuk yang berbeda dalam setiap agama. Terkait dengan tindakan membunuh, apakah hal tersebut merupakan bagian dari penghayatan sila Ketuhanan Yang Maha Esa? Kedua, Sila kemanusiaan yang adil dan beradap. Permenungan mengenai kemanusiaan, apakah pembunuhan itu bertentangan dengan nilai humanisme? Nah, hemat penulis, tindakan membunuh sangat bertentangan dengan sila kedua. Sebab pembunuhan merupakan tindakan kriminalitas yang tidak manusiawi. Jadi, tindakan tersebut sangat tidak adil. Sila Persatuan Indonesia. Tindakan pelanggran HAM seperti hak hidup dan kebebasan beragama merupakan tindakan bejat yang merusak persatuan Indonesia. Seperti diketahui Indonesia merupakan negara majemuk, maka nilai persatuan sungguh-sungguh diwujudkan. Sila keempat yakni kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan. Nilai-nilai yang terkandung dalam sila tersebut berkaitan dengan kebijaksanaan. Tindakan pelanggaran HAM merupakan pelanggaran terhadap kebijaksanaan Allah. Jadi, sangat tidak bijaksana apabila tindakan membunuh sebagai suatu kebenaran. Sila Kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Tindakan pelanggaran HAM dapat menghancurkan nilai keadilan sosial bagi rakyat Indonesia. Keadilan terungkap apabila setiap pemeluk agama menghargai kebebasan beragama. Dengan demikian uraian tentang nilai-nilai Pancasila merupakan bentuk penyadaran bagi manusia Indonesia. Maka rakyat Indonesia perlu menjadikan Pancasila sebagai pedoman agar HAM (hak hidup dan kebebasan beragama) tetap menjadi seni hidup antar umat beragama.

DIALOG ANTAR-AGAMA

Dialog antar agama merupakan jawaban setiap persoalan pembedaan dalam pelbagai perbedaan. Dengan dialog antar agama, setiap manusia berani membuka diri. Manusia apapun agamanya bersikap rendah hati untuk mendengarkan kebenaran ajaran agama lain. Namun dia tidak perlu membenarkan ajarannya dengan cara melakukan pelanggaran HAM.

Dialog antar agama merupakan jalan menuju solusi yang efisien dan efektif. Akal budi menjadi titik pencerahan. Sebagai manusia yang berakal budi, setiap pemeluk agama berdialog secara sehat. Artinya, dalam dialog antar agama, setiap pemeluk agama tidak memertahankan kebenaran agamanya dan menyalahkan ajaran agama lain. Setiap pemeluk agama mensharingkan kebenaran agamanya. Tujuannya agar sikap pembenaran diri dapat diminimalisir dengan baik. Dan sikap saling menghargai antar umat beragama diwujudkan dengan saksama.

Dialog antar agama merupakan momen kembali untuk melakukan permenungan diri setiap pemeluk agama. Momen di mana setiap pemeluk agama berefleksi tentang kebenaran (titik kurang atau titik lebih) ajaran agamanya. Setiap pemeluk agama mesti menjadi aktor pengubah bagi diri masing-masing. Apabila dia menjadi aktor pengubah dalam agama masing-masing, maka pemahaman dan penghayatan tentang HAM sangat indah. Indah dalam arti bahwa hak untuk hidup dan kebebasan beragama menjadi simponi keindahan antar umat beragama. Inilah seni persatuan dalam pelbagai perbedaan.

Setelah uraian mengenai realitas pelanggaran HAM, penulis menyimpulkan beberapa poin untuk disadari oleh setiap pembaca. Pada dasarnya, pelanggaran HAM merupakan tindakan tidak benar. Para teroris melakukan tindakan bejat tersebut disebabkan oleh karena mereka memiliki paham-paham kiri. Mereka salah menafsirkan ajaran agama. Mereka menganggap tindakan membunuh sebagai suatu kebenaran. Namun bagi kita yang tidak sepaham dengan mereka, tindakan membunuh merupakan jalan menuju kehancuran. Sebab perbuatan tersebut merugikan diri sendiri dan orang lain.

Untuk mengatasi pelanggaran HAM tersebut, penulis menawarkan beberapa solusi yakni pancasila sebagai jalan pembebasan dan pemersatu umat beragama. Selain itu, dialaog merupakan bentuk praktis untuk mencari solusi dari persoalan tersebut. Dengan demikian dialog agama perlu ditindaklajuti demi kerukunan hidup antar umat beragama. 

Oleh Nasarius Fidin

Penulis adalah alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang, Jawa Timur.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password