breaking news New

Menatap Sejenak Fenomena-Fenomena di Pulau Enggang (Kalimantan Barat)

Oleh: Dominikus Siong*

Sekilas Pandang

Kalimantan adalah pulau yang dikenal dengan hutan rimba yang rimbun dan menawan. Sampai-sampai ada yang menjulukinya sebagai paru-paru dunia. Itu semua kaca mata tahun 80-an dan 90-an atau mungkin hanya sebuah dongeng belaka. Kenyataan yang kita lihat sekarang ini tidaklah demikian. Apa yang dikatakan para orang tua atau nenek moyang kita tidak demikian adanya. Hal ini mengandung dua kemungkinan, hanya dongeng atau mungkin itu memang ada tetapi sudah dialihfungsikan ke tanaman atau industri tertentu.

Perlu diakui memang Pulau Kalimantan merupakan salah satu pulau yang luas di dunia dan memiliki aneka ragam flora dan fauna. Kita sebagai bangsa Indonesia harus bangga dan bersyukur dengan pulau yang satu ini. Mengapa perlu bangga dan bersyukur? Jika kita hitung jasanya bagi dunia tidak terbilang banyaknya terlebih bagi Pulau Jawa (Manusianya). 

Tetapi adakah di antara kita pernah merasa iba dan kasihan dengan masyarakat dan lingkungan sekitar di sana yang ditindas dengan halus, karena kebelumtahuan mereka akan realitas di sekitarnya. Mungkin banyak, tetapi pasti banyak yang tidak berbuat sesuatu yang positif untuk membangun pemikiran dan keterampilan mereka. Atau mungkin malah menyindir dan menyingkirkan mereka dengan politik disoriented. 

Singkatnya Pulau Kalimantan hanya dijadikan sumber pemberi hidup atau dapur bagi Pulau-pulau lain, yang jauh lebih berpendidikan dan berpengetahuan luas. Maksudnya supaya kita sadar dan mau berbenah diri bahwa kita hidup di dalam kosmos ini bukab untuk diri sendiri tetapi juga perlu membangun orang lain. 

Hujan batu itu di negeri sendiri, tetapi hujan emas itu di negeri orang. Baik buruk tempat kita berada selalu ditentukan oleh etika moral setempat dan alamnya. Kamu salah, maka kamu diadili, kamu benar maka kamu disanjungi dan dipuji malah dihormati.

Ada Apakah di sana?

Pertanyaan itu bukan sekedar pertanyaan yang merujuk pada realitas material semata, tetapi lebih kepada aktivitas realitas yang di dalamnya menimbulkan sebab-akibat tertentu, entah itu bersifat destruktif, maupun konstruktif. Itu akan terlihat di dalam fenomena-fenomena yang terjadi dari sejak semula hingga saat ini. Di sini saya mau menyorot beberapa sebab-akibat yang ditimbulkan oleh aktivitas tertentu yang datang dari luar pulau Kalimantan, secara khusus Kalimantan Barat. Apakah sebab-akibat itu?

Dalam menjelaskan sebab adanya segala sesuatu, Thomas Aquinas menggagasnya dengan lima jalan atau Quinque viae dengan prinsip kausalitas. Terutama dalam melakukan pembuktian mengenai Allah. Allah dipandang sebagai prinsip pertama yang menjadi sebab (causa) tertinggi dari setiap gejala alamiah di bumi. Adapun lima jalan kausalitas tersebut yakni jalan gerak atau motus ; jalan sebab-akibat atau ex ratione causae efficiens ; jalan kemungkinan dan keniscayaan atau ex possibili et necessario ; jalan derajat kausalitas atau ex gradibus qui in rebus inveniuntur dan jalan finalitas (kenyataan dunia terselenggara dengan baik) atau ex gubernatione rerum.

Dengan cara yang ditempuh oleh Thomas Aquinas tersebut di atas, tentunya sangat membantu kita untuk dapat melihat realitas sebab-akibat atau kejadian-kejadian yang membuat kita sering kali tidak mampu menangkapnya. Berbeda halnya yang dimaksudkan dalam tulisan ini. Saya mau mengajak para pemuda dan pemudi Dayak atau masyarakat Kalimantan semua untuk membaca fenomena-fenomena yang melanda bumi kita tercinta yaitu Pulau Kalimantan Barat. Mengapa kita perlu membacanya? Sebab kalau tidak kita akan diasingkan dan terasing di pulau kita sendiri. Hal ini bukan untuk memacu kita melakukan perlawanan fisik, tetapi membangun kesadaran kita untuk lebih memperhatikan cara berpikir dan bertindak yang sehat baik terhadap sesama manusia sepulau maupun terhadap pendatang. Tetapi yang jauh lebih penting adalah gejala peluasan perkebunan Kelapa Sawit.

Di sana ada virus Sawitisme! Dalam refleksi selama ini, saya melihat ada gejala terselubung di balik Perkebunan Kelapa Sawit. Tanpa rasa curiga atau rasa asumtif negatif, saya menggunakan istilah Sawitisme, sebab hampir di setiap wilayah di Kalimantan Barat ada wacana dan aktivitas perluasan lahan sawit. Hal ini meresahkan lingkungan sekitar yang menyebar di seluruh wilayah Kalimantan Barat. Virus ini kemudian menjangkit otak masyarakat kecil dengan iming-iming dan realitas uang yang ujung-ujung melakukan aktivitas kongkalikong dan berujung pada janji kosong. Yang dirugikan tentu masyarakat pribumi yang masih buta akan politik disoriented tersebut.

Bila kita telaah lebih jauh, kehadiran sawit di Kalimantan Barat sangat merugikan masyarakat dan alam. Masyarakat tidak hanya kehilangan tempat mencari nafkah, tetapi juga mengalami kemiskinan karena karet berharga. Asumsi saya bahwa ada kerja sama antara petinggi-petinggi sawit luar negeri dan masyarakat lokal untuk menurunkan kualitas harga karet sehingga membuat masyarakat melarat dan menawarkan perkebunan sawit. Coba bayangkan betapa hancur bumi Kalimantan Barat di tahun-tahun yang akan datang. Sekarang dampaknya sudah mulai terasa, selain sungai-sungai rawan keruh, pencemaran zat kimia terjadi di setiap arus sungai sampai ke pelosok-pelosok desa dan itu membahayakan keselamatan manusia. Para pentang bisa santai santai saja sebab mereka memiliki rumah di mana-mana, sementara kita hidup dengan apa yang ada di sekitar kita. Masih tidak sadarkah kita. Mungkin inilah tantangan yang perlu kita pikirkan dan refleksikan bersama. Sikap kritis terhadap para pendatang terutama pembawa perusahaan-perusahaan baru. 

Fenomena Potensial

Setiap fenomena ada neumenanya. Fenomena perluasan Lahan sawit, bagi saya adalah fenomena pengadaan atau pra-pengadaan “Industri emas murni” yang masih terkubur di bawah akar-akar sawit yang meluas seluas mata memandang dan ketika saatnya tiba, maka Bom waktu kehancuran orang pribumi dan Pulau Enggang musnah seketika dan perbudakan masal akan terjadi di bumi Borneo.(Hip/KbN)
 

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password