breaking news New

RELASI AKU DAN KAU

Aku ialah perempuan dan

Kau ialah lelaki

Aku dan Kau adalah Subyek,

Aku dan Kau adalah Kita,

Se-hak, Se-martabat,

meski Berbeda dalam Kekhasan Tubuh

(Terinspirasi dari konsep pemikiran Luce irigaray)

Persoalan mengenai kekerasan terhadap perempuan marak terjadi. Perempuan dijadikan obyek bagi laki-laki. Kaum perempuan mengalami ketakberdayaan. Dia belum mampu membebaskan diri dari penjara kehidupan. Namun dalam arti tertentu, perempuan tertentu merasa nyaman-nyaman saja dengan realitas keterbelengguan yang dialaminya.

Realitas kekerasan, diskriminasi dan subyek-obyek meniduri nalar kaum perempuan. Akal budinya terbuai dalam derita yang begitu lama. Dia belum bangun dari tidur panjangnya. Barangkali sudah terlalu lama tak sadar sehingga derita kekerasan membengkak hingga nanahnya tercecer di pipi manisnya. Nah, bagaimana cara membangunkan kaum perempuan dari tidur panjangnya? Atau bagaimana realitas kekerasan terhadap perempuan menjadi harmonisasi relasi yang indah.

REALITAS KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN

Di jaman modern ini, tindakan kekerasan terhadap perempuan nampak dalam pelbagai bentuk. Kekerasan terungkap dalam dunia kapitalis yang berujung pada ketidakadilan. Tubuh moleg perempuan dijadikan ajang komersial. Atau tubuh perempuan diiklankan di media mosial demi keuntungan pribadi. Dalam relasi sosial-budaya, laki-laki dinomorsatukan, sedangkan perempuan dinomorduakan. Perempuan dijadikan obyek pemuasan dan pelecehan seksual. Dan dalam kehidupan rumah tangga, perempuan diperlakukan tidak semartabat dengan laki-laki.

Tindakan kekerasan dan diskriminasi bukan hal yang tabu bagi orang-orang tertentu dalam masyarakat. Konsep kesetaraan gender kaum feminis dijadikan wacana belaka. Realitas kekerasan terhadap perempuan seringkali dialami oleh perempuan. Kaum perempuan mengalami derita sakit. Penderitaan berkepanjangan ini sungguh tragis bagi kaum perempuan. Meskipun demikian, derita atau tangisan bukan menyelesaikan persoalan secara tuntas. Yeeaahh, sungguh malang nasib perempuan. Dan sungguh keji tindakan kekerasan kaum laki-laki. Apabila hal ini tidak disadari, siapakah yang mampu mengubah tangisan menjadi air mata bahagia/harmonisasi cinta laki-laki dan perempuan?

KESAMAAN HAK DALAM PERBEDAAN JENIS KELAMIN

Dari kodratnya, laki-laki dan perempuan berbeda. Tubuh perempuan tidak sama dengan tubuh laki-laki. Perempuan berjenis kelamin perempuan. Sedangkan laki-laki berjenis kelamin laki-laki. Perempuan memiliki buah dada, tetapi laki-laki tidak ada. Dalam konteks ini, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kekhasan masing-masing. Sangat jelas bahwa laki-laki bukan perempuan dan perempuan bukan juga laki-laki. Dengan demikian, prinsip keberbedaan termaktup dalam diri laki-laki dan perempuan.

Prinsip keberbedaan laki-laki dan perempuan digagas oleh seorang filsuf perempuan berkebangsaan Prancis yakni Luce Irigaray. Irigaray menyuarakan konsep feminis yang berbeda dengan kaum feminis lainnya. Cara pandang Irigaray berkaitan dengan subyektivitas laki-laki dan perempuan serta keberbedaannya (Buku; Aku, Kamu, Kita; Belajar Berbeda- Oleh Luce Irigaray)

Perbedaan jenis kelamin merupakan kekhasan laki-laki dan perempuan. Kekhasan tubuh menjadi landasan kesadaran kaum laki-laki dan perempuan. Kedua figur yang berbeda tersebut tidak perlu menjebakan diri dalam budaya patrilineal. Kesadaran dan spirit keberbedaan menjadi titik tolak relasi antar subjek.

Lalu, bagaimana dengan hak kaum perempuan? Apakah hak perempuan dibeda-bedakan juga dari laki-laki? Menurut hemat penulis, Irigaray tidak membeda-bedakan hak-hak perempuan dari laki-laki. Kesamaan hak menjadi spirit hidup bersama, meskipun kekhasan tubuh masing-masing sangat berbeda. Penulis mengambil contoh yakni hak untuk hidup, hak berpendapat, dan sebagainya. Hak perempuan tidak boleh direnggut oleh kaum laki-laki. Meskipun secara fisik berbeda, kesamaan hak perlu dihargai dan diakui oleh laki-laki.

BUKANKAH AKU-PEREMPUAN ADALAH SUBYEK

Entah sadar atau tidak, perempuan bukanlah objek. Perempuan adalah subyek sama seperti laki-laki juga sebagai subyek. Apabila perempuan diakui sebagai obyek maka relasinya adalah relasi subyek-obyek. Jika demikian, konsep subyek-obyek membenarkan realitas tindakan kekerasan terhadap perempuan. Nah, hal yang sangat menantang bahwa, tindakan kekerasan justru mengungkapkan realitas relasi subyek-obyek.

Cara pandang subyektivitas Irigaray menarik minat penulis meneropong realitas kekerasan terhadap perempuan. Konsep subyektivitas tersebut membawa pencerahan akal budi. Subyektivitas laki-laki dan perempuan dijadikan prinsip dasar agar relasi antar subyek menjadi simponi keindahan.

Tindakan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan menjadi tantangan tersendiri. Untuk menjawab tantangan tersebut, laki-laki dan perempuan merupakan aktor pembebas. Artinya, laki-laki dan perempuan menjadi pengubah diri masing-masing. Mengubah diri sendiri berarti mengubah relasi laki-laki dan perempuan menjadi relasi antar-subyek. Dengan demikian, pernyataan yang berbunyi aku ialah perempuan dan kau ialah lelaki, aku dan kau adalah subyek, aku dan kau adalah kita, se-hak, se-martabat, meski berbeda dalam kekhasan tubuh menjadi spirit relasi laki-laki dan perempuan.

Nah, untuk menyimpulkan tulisan singkat ini, penulis merangkai puisi yang berjudul AKU DAN KAU. Puisi tersebut berbunyi demikian?

 

AKU DAN KAU

Kau berwajah binar,

berambut pirang,

berparas manis,

bermahkotakan kecantikan,

menarik hasratku untuk

bersunting denganmu

 

kau bidadari,

bertubuh gitar,

menggetarkan senar hasrat, namun

kenapa ratap tangis terngiang?

bukankah gita cinta bagai harmoni?

 

kau bidadari,

bangun dari tidur panjangmu

sebab terlalu lama kau tak bergegas

bila aku, kaumku tak bisa kau bangunkan,

setidaknya kau bangunkan dirimu, kaummu,

ialah caramu membangunkanku, kaumku


ku tetap usahakan tuk bangun

dari tidur panjangku

dari tidur lelap kami, kita

dari kedosaan,

dari ketidaktahuan

 

saatnya kita bangun

agar tiada kata kau di belakangku

pun kau di bawah telapak kakiku

saatnya kita bangun untuk

menikmati cinta,

tentang harmonisasi relasi antara kita.

Oleh: Nasarius Fidin

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password