breaking news New

Full Day School, Mungkinkah?

Oleh: Hiro Edison 

Salah satu isu yang menyita perhatian kalangan masyarakat akhir-akhir ini ialah wacana full day school yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy. Baginya, full day school lebih tepatnya disebut dengan co-ekstrakulikuler. Salah satu tujuannya ialah untuk memantau perilaku siswa saat pulang sekolah sementara orang tua belum pulang dari bekerja (Untuk informasi lebih lanjut baca http://nasional.kompas.com/read/2016/08/09/20480201/mendikbud.ingin.sekolah.jadi.rumah.kedua.bagi.siswa). Menarik untuk disimak. Sekolah dijadikan rumah kedua bagi anak-anak. Anak-anak pun mendapatkan perhatian lebih. Hal yang tidak mereka dapatkan di rumah ketika mereka pulang dan para orang tua mereka tidak ada di rumah. Kita bisa mengatakan bahwa sebuah ide yang bagus. Tujuannya pun mulia. Namun kita harus dapat mengatakan bahwa kegiatan co-ekstrakulikuler yang dicanangkan oleh Mendikbud itu bukan sarana yang tepat untuk mencapai tujuan. 

Membaca dan Menilai Dampak Program Co-Ekstrakulikuler 

​Co-Ekstrakulikuler yang dicanangkan itu menuntut adanya kegiatan luar sekolah (ekstrakurikuler) yang banyak dan beragam bagi peserta didik. Selain untuk membuat anak-anak senang hal itu juga berorientasi untuk membuat mereka merasa krasan berada di lingkungan sekolah. Pada posisi itulah peran orangtua sungguh-sungguh digantikan. Hal itulah yang menurutnya menambal kekosongan perhatian yang dialami oleh anak-anak.

​Menyibukkan anak-anak dengan kegiatan ekstrakurikuler yang banyak di satu sisi membuat para siswa merasa betah untuk berada di sekolah namun pada sisi yang lain akan membuat mereka merasa bosan dan jenuh. Meskipun kegiatan-kegiatan itu bersifat rekreatif namun hal itu hanya akan membawakan kebosanan oleh karena lingkungan yang mereka nikmati dan juga orang-orang yang dijumpai setiap harinya sama.

​Dari segi psikologis, menuntut para peserta didik untuk terus berada di sekolah dalam waktu yang lama hanya akan membuat mereka, pertama menjauhi situasi rumah, kedua, menjauh dari orang tua dan ketiga menjadikan mereka munafik. Mari kita melihat hal-hal itu satu per satu.

Pertama, menjauhi situasi rumah. Salah satu unsur terpenting dalam hidup anak-anak ialah merasa nyaman untuk tinggal di rumah mereka masing-masing. Merasa betah di rumah merupakan syarat mutlak agar anak dapat bertumbuh dan berkembang dengan wajar dan baik. Seandainya anak-anak dibiasakan untuk menjauh dari rumah maka mereka akan merasa nyaman untuk berbuat segala sesuatu entah yang baik maupun yang buruk. Sebab, bagi mereka rumah dan segala suasananya seolah-olah telah menjadi neraka sehingga harus selalu berusaha menjauh dari rumah dan mencari rasa nyaman di tempat lain.

​Berdasarkan pemahaman di atas maka kita dapat mengatakan bahwa pencanangan co-ekstrakulikuler dari Mendikbud di atas akan menjadi salah satu agen yang menciptakan generasi tanpa rumah. Artinya ialah ‘rumah kedua’ yang dicanangkan itu hanya akan mendatangkan beragam masalah bagi anak-anak itu sendiri. Masalah itu lahir dari kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua. Yang dipermasalahkan ialah apakah pihak sekolah mampu memberi jaminan untuk mencurahkan perhatian kepada peserta didik yang jumlahnya melampui para pendidik? Hal ini hanya akan melahirkan label anak emas bagi para siswa tertentu sedangkan yang lainnya hanya diperhatikan sejauh dapat dibantu. Dengan demikian, cita-cita untuk menambal lubang yang ditinggalkan oleh orang tua tidak akan tercapai. Yang terjadi malah sebaliknya yaitu menjadikan lubang itu semakin menganga.

Kedua, membuat anak-anak menjauh dari orang tua. Fenomena yang makin parah dengan diterapkannya rencana co-ekstrakulikuler ialah menjauhkan anak-anak dari orang tua. Anak-anak seakan bukan menjadi tanggung jawab orang tua lagi. Hal itu berdampak pada terpisahnya perhatian dan kasih sayang orang tua kepada anak-anak. Padahal, dari semua kasus kekerasan dan juga pelecehan terhadap anak-anak yang terjadi di Indonesia selama ini disebabkan oleh kurangnya perhatian orang tua terhadap anak-anak. Karena itu, dengan menjauhkan anak-anak dari orang tua hanya akan menyebabkan tingginya angka kekerasan terhadap anak. Hakikat persoalannya bukanlah soal orang tua mereka ada ditempat kerja atau tidak melainkan sejauh mana orang tua mampu memberilan perhatian dan kasih sayang kepada anak-anak mereka. Jika sekolah mengambil alih peran itu maka sekolah lama kelamaan hanya akan menjadi tempat penitipan anak-anak. Sebab sekolah hanya akan menjadi tempat bermain bagi anak-anak. Padahal soal perhatian kepada anak-anak, peran orang tua tidak dapat tergantikan oleh yang lain. Selain itu, sekolah akan menjadi sarang lahirnya beragam kekerasan terhadap anak seperti pelecehan seksual yang telah terjadi beberapa tahun yang lalu di Indonesia.

Ketiga, menjadikan anak-anak munafik. Poin ketiga ini merupakah hal yang menjadi pertalian langsung dari kedua hal sebelumnya. Dengan menjauhkan anak-anak dari rumah serta para orang tua mereka, maka lahirlah anak-anak yang bertindak munafik. Mereka akan bertindak semau mereka sebab tak ada lagi yang mengawasi dan memberi perhatian kepada mereka. Sekolah yang digadang-gadang oleh Mendikbud untuk menjadi rumah kedua bagi anak-anak tidak dapat memberikan jaminan untuk memperhatikan seluruh tindakan para siswa. Dari sanalah akan lahir geng-geng, kelompok-kelompok, serta konco-konco yang dapat melahirkan beragamnya tindakan kekerasan dikalangan para siswa.

​Lahirnya beragam perkoncoan itu berdampak pada lahirnya tindakan-tindakan yang tidak dinginkan. Para siswa mulai merokok, pesta minuman keras, perjudian, kekerasan seksual, bahkan terlibat dalam kasus narkoba. Di rumah dan di hadapan para orang tua mereka tidak mungkin berani melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang. Tetapi ketika jauh dari rumah dan perhatian dari orang tua maka mereka akan bertindak seuka hati mereka dan bahkan menyimpang. Pada titik itulah mereka telah menjadi anak-anak yang munafik. Sebuah fenomena yang akan berdampak buruk bagi masyarakat dan negara Indonesia ke depannya.

​Dari uraian di atas, wacana untuk menggulirkan program full day school atau dalam term Mendikbud co-ekstrakulikuler semestinya perlu ditinjau ulang. Jika orientasinya hanya untuk menambal kekosongan yang disebabkan oleh karena orang tua sibuk bekerja maka sekolah ke depannya tidaklah lebih dari tempat penititpan anak-anak. Ketiga nilai di atas mungkin hanya bagian terkecil dari dampak co-ekstrakulikuler yang diwacankan itu. Masih ada hal-hal yang lebih besar dari itu yang dapat menghancurkan kehidupan anak-anak. Oleh karena itu, demi menjaga nasib dan masa depan generasi bangsa maka kegiatan co-ekstrakulikuler bagi dunia pendidikan Indonesia, untuk saai ini tidak perlu diterapkan.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password