breaking news New

Pemegang Rekor Olimpiade Sepanjang Masa

Jakarta, Kabarnusantara.net – Dia telah memenangi 21 medali emas Olimpiade, dan sepanjang sejarah tak seorang pun di dunia ini selain dia yang bisa mendapat lebih dari sembilan emas.

Dan bagi sang legenda Michael Phelps, jumlah medali emas itu bisa bertambah karena masih ada beberapa nomor final lagi yang akan dia ikuti di Olimpiade Rio 2016.

Kalau dia diibaratkan negara dan semua medali seluruh negara dibuat peringkat sejak Olimpiade modern pertama dimulai, Phelps sendirian akan berada di posisi ke-32, unggul atas India dan Meksiko, sebagai contoh.

Semuanya tampak mudah bagi perenang Amerika Serikat itu, pria yang bersahabat dengan kemenangan, dan selalu melejit di depan yang lain. Namun ternyata tidak ada jalan lempang baginya, jika merunut lima Olimpiade yang telah dia ikuti.

Kemenangannya di 200m gaya kupu-kupu Selasa (9/8) malam kemarin seperti sebuah keajaiban, karena pria ini pernah kehilangan jati dirinya dan dulu sekali mulai membenci anugerah yang dia miliki.

Bab I, Olimpiade Sydney 2000

Ketika pertama kali ikut Olimpiade, The Kid — kita sebut demikian karena masih berusia 15 tahun saat itu — sudah mampu finis kelima di final 200m kupu-kupu.

Fokusnya sempurna, dan dia sudah memegang rekor dunia sebelum berulang tahun ke-16 pada kejuaraan dunia 2001, tepatnya dalam umur 15 tahun sembilan bulan.

Bab II, Olimpiade Athena 2004

Julukan The Freak atau pria aneh pantas disandangnya, karena diet ketat 10.000 kalori per hari, rentang tangan yang mencapai 2,08 meter, engkel kaki yang sangat lentur, dan ukuran paru-paru dua kali lipat dari rata-rata pria dewasa.

Tubuhnya seperti dirancang untuk hidup di air, dan bocah ini memang cinta kolam.

Dia memang kalah dalam laga ‘Race of the Century’ melawan legenda Australia Ian Thorpe, namun bisa merebut enam medali emas lainnya.

Bab III, Olimpiade Beijing 2008

Julukannya pantas untuk berubah lagi, The Superstar, dengan delapan medali emas, dan tidak ada rekor yang bisa bertahan saat dia hadir.

Bab IV, Olimpiade London 2012

Saat tiba waktunya akhir kisah yang bahagia, Phelps justru menjadi Pria Sinis.

Semuanya dimulai pada 2009, ketika beredar foto pahlawan Amerika itu sedang mengisap ganja.

Maka dia dihukum larangan bertanding selama tiga bulan, absen di sesi latihan, dan kehilangan fokus — hal yang begitu fanatik dia pertahankan sehingga Phelps selalu menghitung setiap ayunan lengannya di semua nomor final, berjaga-jaga kalau kacamata renangnya tergenang air dan dia tidak bisa menghitung jarak ke dinding finis.

“Saya tak peduli. Saya tak mau berurusan lagi dengan air,” ujarnya saat itu.

Betapapun Phelps masih bisa meraih empat medali emas di London, meskipun dikalahkan oleh Chad le Clos di nomor 200m kupu-kupu. Le Clos adalah penggemar dia ketika kecil, dan penakluknya ketika dewasa.

Phleps mengumumkan pensiun, yang seharusnya membawa kelegaan bagi jiwanya. Dia pun mulai sering begadang, punya teman baru, dan memulai lagi hidup baru dengan pacar lamanya Nicole.

Namun ternyata tidak ada kedamaian, dan tidak ada yang bisa menggantikan sesuatu yang telah mendominasi hidupnya sejak berusia tujuh tahun.

Maka seperti Thorpe sebelum dia, Phelps mengumumkan comeback. Dan seperti Thorpe, dia mendapati ternyata sangat sulit untuk menghidupkan kembali daya magis yang dia punya dulu.

Pada kejuaraan se-Amerika musim panas 2014, dia gagal memenangi satu pun final yang dia ikuti. Lalu ketika mengemudi pulang suatu malam bulan September, dia dihentikan polisi karena mengebut 84 mil per jam di area maksimal 45 mil per jam. Setelah itu disusul vonis pidana mengebut, dan hukuman enam bulan larangan bertanding dari asosiasi renang Amerika.

Olimpiade Rio yang tinggal dua tahun kurang seperti jauh dari jangkauannya.

“Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan di sisa hidupnya,” kata Bill Bowman, yang lama menjadi pelatihnya.

“Suatu hari saya bilang: ‘Michael, kamu punya semua uang yang diinginkan atau dibutuhkan setiap orang seumurmu; kamu punya pengaruh pada dunia; kamu punya waktu luang — dan kamu adalah orang paling menyedihkan yang pernah saya tahu’.”

Maka dimulailah Bab V, Olimpiade Rio 2016

Dimulai selama enam pekan di pusat rehabilitasi bernama Meadows, Arizona. Phelps — salah satu olahragawan paling terkenal di negara itu, dan terbiasa dengan hak istimewa yang dimiliki kaum elite — harus menjalani terapi yang sama seperti pasien lainnya, tinggal di ruang yang sama, dan dipaksa menghadapi masa lalu yang lebih menjadi beban dibandingkan anugerah.

Seperti Thorpe, atlet Olimpiade paling sukses di Australia, Phelps merasakan bahwa medali tidak membawa kebahagiaan. Tidak juga berenang, satu-satunya hal yang bisa dia lakukan dengan baik, lebih baik dari manusia mana pun dalam sejarah Olimpiade.
Di Meadows ada sebuah kolam renang kecil. Karena air adalah dunia Phelps, secara insting dia langsung mencemplungkan diri. Namun bukankah berenang adalah problemnya? Bukankah ruang kosong dalam jiwanya perlu diisi hal lain?

Phelps pun mulai mencari. Dia kembali mengontak ayahnya yang sudah lama terpisah dan tidak pernah diajaknya bicara sejak 2004.

Dia mematri hubungannya dengan Nicole untuk masa depan yang panjang berdua. Dan bantuan juga datang lagi dari pelatih lamanya, Bowman. Setelah semua itu, muncul keputusan terbesar dalam hidupnya: kembali berenang, pada usia ketika Thorpe sudah lama pergi.
Juga dengan ambisi merebut medali emas Olimpiade lagi, ketika tak seorang pun di muka bumi ini yang bisa mengancam rekor perolehan medalinya.

Dalam proses itu, dia kembali jatuh cinta. Berenang, awalnya sebuah anugerah, lalu menjadi beban, dan kemudian mengispirasi dia lagi.

Dengan inspirasi itu maka datanglah kembali kecepatannya di air. Tubuhnya yang berisi 13% lemak di London menjadi hanya 5% sebelum tampil di Rio. Dia berlatih lebih keras dibandingkan terakhir ketika mengikuti Olimpiade Beijing delapan tahun silam. Maka dia lolos ke tim Olimpiade AS.

Orang-orang mulai bicara dan akhirnya yakin; bisakah pria ini — yang telah menempuh jarak yang tak seorang atlet pun bisa melampaui di Olimpiade — melangkah lebih jauh lagi?

Bowman terus mendampinginya. Bersama tunangannya Nicole, lahir putra mereka, Boomer.

Tapi ini bukan Phelps yang dulu, yang akan mengenyahkan semua hal dan semua orang yang dia anggap bisa mengganggu konsentrasinya untuk merebut emas.

Di sini di Rio, dia justru senang konsentrasinya teralihkan. Nicole dan Boomer selalu berada di bangku penonton setiap kali dia bertanding. Berenang masih menjadi hidupnya, namun dalam Bab V ini ada hal-hal lain yang lebih berharga baginya.

“Saya tak pernah menduga dia akan berubah. Selama 12 tahun dia melakukan semuanya agar bisa kembali membuatnya menjadi manusia,” kata Bowman.

Phelps masih sangat kompetitif. Anda bisa melihat itu dari reaksinya ketika di Rio melakukan balas dendam atas kekalahannya dari Le Clos empat tahun silam: duduk bersilang kaki di tali pembatas, lengan terbuka lebar dan tangannya membuat gerakan seperti menantang siapa pun untuk datang dan mengajaknya bertanding lagi.
Saat dia berjalan mengitari kolam dengan emas pertamanya Selasa malam itu, medali emas berikutnya di nomor 4x200m gaya bebas estafet masih berjarak satu jam.

Namun pemandangan yang paling berkesan bukan aksi mengacungkan tinjunya saat di podium, atau caranya menerobos rombongan fotograper menuju Nicole dan ibunya Debbie untuk menggendong Boomer yang berusia 15 bulan.

Yang berkesan adalah senyum lebarnya, emosi tulus dari seorang pria yang benar-benar bahagia, pemandangan seorang pria yang akhirnya menemukan kedamaian.

Maka di Bab V ini, apa julukan untuk Michael Phelps? Dia adalah The Reborn, pria yang terlahir kembali.(Berbagai Sumber/RR/KbN)

3 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password