breaking news New

Ritual Pati Ka, Bapu Du,a Ata Mata di Puncak Kelimutu

Ende, Kabarnusantara.net – Balai Taman Nasional Kelimutu, Forum Komunitas Adat dan Para Mosalaki Minggu, (14/8/2016) mengadakan ritual Pati Ka, Bapu Du,a Ata Mata di puncak Kelimutu, Ende, Flores, NTT. Kegiatan adat ini dihadiri pula Wabup Ende, Drs. Djafar Achmad.

Upacara ini dilaksanakan setiap tanggal 14 Agustus setiap tahunnya.

Dalam kesempatan itu Wabup Djafar mengatakan pihaknya memberi dukungan dan apresiasi yang setinggi- tingginya terhadapat kegiatan ini.

“Kegiatan seremonial budaya ini memberi petunjuk sekaligus pemahaman budaya yang setidaknya merasuk ke segala lini dan berbaur dalam keseharian hidup”, tambahnya.

Cerita dari Danau Kelimutu tidak hanya sebatas untuk memanjakan mata saja. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Danau Kelimutu mempunyai “cerita dan cara” sendiri untuk menunjukan bagaimana danau ini sebagai bagian dari kesatuan budaya dan kehidupan mereka.

Suku Lio-Ende yang tinggal di sekitar kawasan Danau Kelimutu adalah masyarakat yang turut menjaga Danau Kelimutu. Masyarakat Suku Lio-Ende “percaya” bahwa Danau kelimutu merupakan tempat tinggal para arwah leluhur mereka sehingga masyarakat Suku Lio-Ende menganggap Danau Kelimutu adalah tempat yang sakral. Masyarakat juga diharuskan memberi penghormatan kepada para leluhur yang tinggal di Danau Kelimutu dan juga mensakralkan tempat tersebut.

Upacara Ka Dua Bapu Ata Mata ini dilakukan dengan cara menyajikan makanan khusus setelah panen (Pati Ka) kepada arwah leluhur yang konon menghuni 3 danau: Tiwu Ata Mbupu, Tiwu Nua Muri Koo Fai, dan Tiwu Ata Polo sebagai bentuk komunikasi dan penjagaan relasi dengan leluhur, alam semesta dan kekuatan adikodrati.

Upacara Ka Dua Bapu Ata ini erat dengan kepercayaan masyarakat terhadap legenda dari Danau Kelimutu. Masyarakat percaya bahwa jiwa atau arwah akan datang ke Danau Kelimutu setelah ia meninggal dan tinggal di kawah itu untuk selamanya.

Sebelum masuk ke dalam salah satu danau atau kawah, para arwah akan terlebih dahulu menghadap Konde Ratu, penjaga pintu masuk di Perekonde. Arwah tersebut masuk ke salah satu danau atau kawah yang ada sesuai dengan usia dan perbuatannya.

Maka, tidaklah aneh jika tempat yang “keramat” ini telah menjadi legenda yang berlangsung turun-temurun. Masyarakat setempat juga percaya bahwa tempat ini memang tempat yang disakralkan.

Prosesi Pati Ka Dua Bapu Ata Mata

Upacara Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata dimulai dengan prosesi para partisipan ritual yang terdiri dari perwakilan masyarakat adat dan peserta lainnya baik dari kalangan pemerintah, TN Kelimutu, dan para wisatawan. Semua peserta prosesi menuju rute prosesi sekitar 700 meter ke arah Puncak Kelimutu dengan berjalan kaki dan diiringi musik tradisional Lio-Ende.

Semua peserta prosesi diharuskan mengenakan pakaian adat Lio-Ende. Kaum pria mengenakan kain sarung khusus hasil tenunan untuk lelaki (Luka) dan mengenakan destar dari berbahan batik (Lesu), serta tenun ikat (Semba) atau selendang. Sedangkan kaum perempuan memakai kain sarung tenun ikat (Lawo) dan baju adat (LamMata).

Nilai-Nilai dan Perkembangan

Ritual ini tidak hanya memiliki keluhuran dari aspek cultural saja. Jika dilihat lebih dalam, kandungan nilai-nilai spiritual dan filosofis di dalam ritual ini mengambil peran yang sama dengan nilai cultural dari upacara ini.

Secara spiritual, masyarakat mencoba menunjukan kepercayaan dan keyakinan terhadap Tuhan. Lainnya adalah penjagaan terhadap alam yang coba diwujudkan dengan pensakralan Danau Kelimutu sebagai cagar alam yang harus dilestarikan.

Kini, upacara ini memiliki potensi lain yaitu menarik wisatawan untuk menyaksikan dan ikut berkontribusi dalam ritual ini. Dengan demikian, upacara Pati Ka Dua Bapu Ata Mata memiliki potensi pariwisata.(Berbagai Sumber/RR/KbN)

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password