breaking news New

Membangun Indonesia dari Pinggiran (Refleksi untuk Hari Kemerdekaan)

Oleh: Hiro Edison

​Salah satu persoalan yang sering kita hadapi dalam mengenal pembangunan di Indonesia ialah Negara Indonesia itu harusnya dibangun dari mana? Apakah dimulai dari Jawa atau luar Jawa? Ataukah Jawa harus menjadi prioritas segala pembangunan? Dengan demikian, Jawa harus selalu menjadi asal dan tujuan segala pembangunan itu? Sebab di Timur jauh Indonesia ini, masyarakatnya hidup dalam keterbelakangan hampir dari semua sisinya.

​Salah satu unsur terpenting yang menjadi dasar didirikannya Negara Republik Indonesia (NKRI) ialah memajukan kesejahteraan umum. Kesejahteraan umum seperti apa? Apakah kesejahteraan itu berupa prinsip sama rata sama rasa? Pengertian dan juga definisi tentang kesejahteraan umum yang menjadi cita-cita para pendiri bangsa itu kini kita harus lihat kembali dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

​Pada tanggal 17 Agustus tahun ini kita akan merayakan hari kemerdekaan RI yang ke-71. Usia yang tidak lagi muda dan bahkan terbilang uzur. Namun bagi ukuran sebuah negara, usia yang ke-71 mengungkapkan kematangan sekaligus kemajuan yang sangat pesat. Usia seperti itu seharusnya menjadi saat untuk melihat kembali segala kemajuan yang telah dicapainya termasuk kesejahteraan masyarakatnya. Sebab, angka 71 bukanlah angka yang muda lagi.

​Yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya. Kesejahteraan umum yang menjadi cita-cita didirikannya negara Indonesia justru jauh panggang dari api. Kesejahteraan umum yang luas maknanya hanya dimaknai oleh para pemangku pemerintahan negara ini sebatas sama rata sama rasa. Hal itulah yang bisa kita tengarai menjadi sebab belum tercapainya kesejahteraan umum di dalam negara ini.

​Untuk membuktikan betapa jauhnya kesejahteraan umum itu tercapai, kita dapat melihat sekaligus menengok di Timur jauh negara ini. Tanpa bermaksud untuk membandingkan, di bagian Timur Indonesia, kemerdekaan itu susah didefinisikan. Di sana, masih ada perang suku entah untuk merebut tanah ataupun kekuasaan. Selain itu, yang namanya hidup dalam taraf makmur untuk wilayah itu belumlah dikenal secara sungguh. Mendefinisikan kemerdekaan sebagai bebas dari penjajah, kemiskinan ataupun hidup dalam kemakmuran dan kedamaian, untuk wilayah Timur Indonesia belumlah tercapai. Bukan tanpa alasan. Di sana, perjuangan untuk mempertahankan hidup tidaklah gampang.

​Dengan situasi yang serba tertinggal maka tidaklah mengherankan jika ada daerah tertentu yang selalu berusaha untuk melepaskan diri dari NKRI. Sebuah fenomena yang seharusnya tidak boleh terjadi. Hal itu hanya akan mengancam keutuhan dan persatuan NKRI. 

Demi menjaga keutuhan NKRI, kita mestinya belajar dari seni berpolitik orang Cina zaman dahulu. Demi menjaga keutuhan kerajaan, mereka selalu berusaha agar wilayah-wilayah terluar dan terjauh dari pusat kerajaan didahulukan dalam pembangunan. Hal itu sederhana namun menjadi penting dalam menjaga keutuhan kerajaan. Dengan itu, warga kerajaan merasa bahwa mereka adalah bagian dari kerajaan. Hal itulah yang menjadi cara raja guna meredam segala gerakan separatis dan juga semua usaha untuk melepaskan diri dari kerajaan.

​Dalam sejarah Indonesia, kebajikan politik kerajaan Cina kuno itu kurang diperhatikan. Akibatnya, di wilayah timur jauh Indonesia dan juga wilayah-wilayah perbatasan, masih tertinggal jauh dari pusat negara. Dari segala dimensi, entah Ekonomi, Politik, Pendidikan, Kesehatan, Infrastruktur, ataupun dimensi lainnya semuanya masih tertinggal jauh. Kebijakan pemerintahan yang baru untuk membangun Indonesia dari pinggiran serta dengan dibagikannya dana desa yang nilai nominalnya sangat besar hemat saya sebuah langkah yang bagus. Namun hal itu belum cukup. Sebab, yang menjadi sasaran dari semua kebijakan itu belumlah tepat sasaran. Negara tetap dirasa absen dari kehidupan warganya. Meskipun perangkat satuan pemerintahan negara ada di setiap daerah namun fungsi pengawasan mereka akan kemajuan warganya masih sangat rendah.

​Dalam kajian filsafat politik, term Kesejahteraan umum sesungguhnya bukanlah soal sama rata sama rasa. Term itu menunjukkan hal yang lebih jauh dari itu. Halnya berkaitan dengan kemungkinan yang sama bagi setiap warga negara untuk mencapai kehidupan yang layak serta makmur. Hal itulah yang selama ini disalahtafsirkan. Buktinya ialah, semua desa dipaksakan untuk mengejar ketertinggalanya guna mencapai kemajuan dengan standar yang ada di Jawa. Sebuah hal yang amat mustahil untuk dicapai. Oleh karena itu, membangun Indonesia dari pinggiran menjadi hal yang mau tidak mau harus dilaksanakan di Indonesia. Hal yang harus diperhatikan ialah paham tentang kesejahteraan umum yang cocok untuk wilayah yang bersangkutan. Hanya dengan itu, usaha untuk mencapai kesejahteraan umum dapat dicapai.

​Tahun ini, Indonesia memasuki usianya yang ke-71. Peringatan itu hendaknya bukan hanya menjadi perayaan rutin dan seremonial belaka. Inilah saat yang tepat untuk melihat kembali strategi pembangunan dan juga politik yang dijalankan oleh para pemangku pemerintahan negara ini. Sejauh mana cita-cita dasar negara ini khususnya memajukan kesejahteraan umum dapat diwujudkan. Hal itu menjadi penting mengingat hampir di semua kawasan timur Indonesia serta wilayah-wilyaha perbatasan masih berjuang untuk mengejar ketertinggalan mereka.​

10 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password