breaking news New

Kemerdekaan Yang Membebaskan

Oleh: Irvan Kurniawan*

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Bung Karno telah merumuskan trisakti sebagai jalan kemerdekaan sejati. Bahwa kita harus berdaulat secara politik, berkepribadian secara budaya, dan berdikari secara ekonomi. Kemerdekaan sejati menurut Bapak Proklamator ini adalah sebuah tatanan dunia baru tanpa penindasan bangsa antar bangsa dan manusia atas manusia lainnya. Atas pemikiran itu, lantas banyak orang yang menilai negara dan bangsa ini sesungguhnya masih terkungkung dalam penjajahan yang kini berwujud dalam bentuk baru.

Kemerdekaan itu sejatinya ada dua jenis yakni kemerdekaan komunal dan kemerdekaan individu. Kemerdekaan komunal akan tercapai jika prinsip, keyakinan dan cita-cita besama terpenuhi. Begitu pula dengan kemerdekaan individu akan tercapai jika harapan seseorang terwujud sesuai keinginannya atau kebutuhannya.

Kedua spirit kemerdekaan ini harusnya berjalan seimbang. Jika tidak, maka kemerdekaan individu lebih diagung-agungkan daripada kemerdekaan komunal (bonum commune). Ada mungkin yang beranggapan bahwa kemerdekaan komunal akan tercapai jika setiap individu merasa merdeka. Bagi saya, itu sangat mustahil. Sifat dasar manusia adalah tak pernah puas. Yang terjadi justru persaingan untuk saling mendominasi dan menguasai.

One Dimensional Man

Melihat Indonesia masa kini sesungguhnya sangat merisaukan. Gejala manusia satu dimensi seperti yang disebut Herbert Marcuse dalam bukunya ‘One Dimensional Man’ telah menjalar ke tengah masyarakat kita. Dikatakan demikian karna standarisasi kehidupan manusia diarahkan oleh trend dan gaya hidup hedonis yang muncul lewat keterbukaan informasi dan kemajuan teknologi.

Kemajuan ini pun membentuk suatu paham global, gaya hidup, dan budaya global. Pemikiran berdimensi satu juga secara sistematis telah menjalar pada politisi dan pengusaha. Mereka menguasai media massa lalu mengindoktrinasi rakyat dengan slogan-slogan yang didikte begitu saja. Kesadaran public pun akhirnya terhegemoni agenda setting media yang menyesatkan. Alhasil, saat ini trend manusia satu dimensi rupanya susah untuk dibendung lagi karna telah menjalar di bebagai lini kehidupan.

Trend ini pada akhirnya memupuk persaingan individu, gaya hidup hedonis dan pragmatisme. Saat ini kemerdekaan individu sebenarnya lebih menonjol dari pada kemerdekaan komunal.  Dalam partai politik misalnya, partai tidak ubahnya seperti sebuah perusahaan dimana ketua partainya adalah CEO perusahaan. Segala sumber daya partai dikerahkan untuk menguasai sumber daya public untuk kemudian memperkaya diri sendiri dan anggotanya.

Dalam ranah sosial kemasyarakatan pun demikian, masyarakat Indoensia akhir-akhir ini makin tenggelam dalam gaya hidup hedonis-individualistik. Manusia seperti robot yang dikendalikan trend sosial. Demi eksistensi, para generasi muda misalnya rela menahan lapar, menghabiskan seluruh pendapatannya demi sebuah eksistensi belaka dengan nongkrong di tempat-tempat ngehits lalu diposting di media sosial.

Gayatri Jayaraman, kontributor BuzzFeed pernah menulis cerita kaum miskin urban berdasarkan observasinya di India. Namun jangan salah, fenomena anak-anak muda kere yang penting eksis itu faktanya ada di berbagai kota besar di Indonesia. Itulah mereka generasi eksis yang ingin dianggap trendy. Gadget yang mahal seperti iPhone, MacBook, GoPro atau kamera Mirrorless keluaran terbaru adalah hal wajib bagi mereka.

Tantangan Kita

Manusia satu dimensi adalah tantangan kemerdekaan masa kini. Kalau dulu kita melawan penjajah dengan tampang tinggi, besar, hidung mancung dan kulit putih, penjajah masa kini sebenarnya lebih keji dan menyakitkan. Orangnya tak terlihat. Kita sulit membedakan mana kawan dan mana lawan. Penjajah itu sendiri adalah bangsa kita sendiri, saudara kita sendiri. Lebih dalam lagi, penjajah itu adalah diri kita sendiri, hasrat, keinginan dan nafsu kita mengejar eksistensi biar disebut trendy, gaul, eksis, modern dan sebagainya.

Pada titik ini, yang membuat bangsa ini menjadi tetap terjajah bahkan semakin terjajah adalah diri kita sendiri. Kita adalah manusia mati rasa yang hilang kepekaan sosial untuk merasakan situasi kerterjajahan anak terlantar, buruh, petani, tukang bakso, tukang cuci, dan orang-oang kecil lainnya yang oleh Bung Karno disebut sebagai kaum marhaen. Mereka adalah orang-orang kalah yang tergerus sistematisasi penjajahan oleh bangsanya sendiri.

Lihat saja, lembaga public yang seharusnya lebih mementingkan kemerdekaan komunal justru menjadi arena pelampiasan hasrat pribadi dan golongan. Kemerdekaan komunal pada akhirnya terpenjara oleh oleh kemerdekaan individu yang sejatinya pelampiasan nafsu dan keinginan pragmatis. Kemerdekaan komunal diprivatisasi oleh segelintir orang yang rakus dan tamak.

Kontrol Diri

Jika ditarik ke ranah yang lebih dalam, situasi merdeka sebenarnya lebih kepada penghayatan setiap individu dalam suatu negara. Orang bisa saja merumuskan konsep ideal tentang kemerdekaan, namun ihwal kemerdekaan sejati tetap menjadi penghayatan masing-masing orang. Mengapa demikian?

Kemerdekaan itu berkaitan dengan keinginan, harapan dan cita-cita setiap manusia. Itu semua muncul dari  sifat manusia yang tak pernah puas. Milyarder sekalipun jika keinginannya belum tercapai pasti merasa terjajah atau belum merdeka. Sebaliknya si nelayan kecil yang kumuh dan dekil bisa jadi merasa merdeka walaupun cuma duduk di pantai sembari menghisap sebatang rokok usai ikan-ikannya terjual. Lalu apa inti kemerdekaan itu?

Jika kemerdekaan berkaitan dengan keinginan, harapan dan cita-cita, maka sejatinya manusia akan terus mencari kesempuraan. Dengan kata lain, jika mengikuti nafsu dan keinginan, maka kemerdekaan sejati itu tidak pernah ada. Kita hanya mampu mendekati kesempuraan. Semakin manusia mencari kemerdekaan, maka sesungguhnya ia makin terjajah oleh keinginan dan harapannya sendiri.

Ekspresi kemerdekaan pribadi yang tidak dikontrol, hanya akan menjadikan manusia sebagai homo homini lupus. Pada titik ini, manusia dikuasai ketidaksadarannya demi sebuah eksistensi. Sungguh rendah dan menyedihkan.

Karena itu, setiap manusia yang hidup di alam kemerdekaan, tidak boleh menghayati kemerdekaan sebagai tujuan. Kemerdekaan mengutip Bung Karno hanyalah jembatan emas menuju masyarakat yang adil dan makmur. Demikian pun dengan kemerdekaan individu harus dihayati sebagai jembatan untuk saling membantu dan berempati bagi sesama. Dalam term yang lebih luas kemerdekaan individu harus harus mampu bersolider dengan situasi kertejajahan sesama. Dengan demikian, kemerdekaan tidak hanya dirayakan sebagai keriuhan publik tahunan tetapi perayaan kemerdekaan yang membebaskan sesama.

*Penulis adalah Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GMNI Kupang

18 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password