breaking news New

Kemiskinan Cinta; Kegalauan Anak  Modern

Atau cinta atau benci

Siapa yang bisa memilih antara keduanya. Barangsiapa memilih yang pertama. Dia telah memahati kehidupannya dengan kuas yang indah. Sebaliknya, barangsiapa memilih yang memilih yang kedua. Dia telah membangun tembok kedengkian bagi sesama.

 Suatu kali Joffer berincang dengan seorang anak yang berasal dari keluarga kaya raya. Joffer mengatakan, “Sungguh bahagia Nesia memiliki ayah dan ibu yang kaya. Sehingga apa pun yang Nesia inginkan terpenuhi.” Nesia menjawab, “Aku tak butuh banyak uang, mobil, speda motor. Saat ini, saya membutuhkan perhatian”. Dasar yang lebih dalam itu adalah cinta. Cinta soal hubungan yang sejati antara dua pribadi. Terutama dalam pribadi anak dan orang tua, sahabat dan juga seluruh peristiwa perjumpaan.

Lalu Joffer pun berbincang dengan seorang anak dari keluarga miskin. “Apakah kamu bangga dengan keadaanmu yang miskin dan susah payah menghidupi kehidupan itu sendiri?”, Sejurus pertanyaan dari Joffer. “Kendatipun orang tuaku miskin, tetapi cinta mereka telah kurasakan dalam kehidupan.” Anak itu bangga dengan keadaan orang tuanya. Bahkan, ia bersyukur memiliki orang tua seperti itu.

Krisis Cinta

Apa yang menimpa seorang anak (Nesia) bukanlah sebuah kisah tunggal. Banyak anak sekarang yang mengalami sebuah krisis dalam hidup. Krisis utamanya adalah cinta dan perhatian. Sehingga kemiskinan berasal dari anak orang kaya. Orang tidak lagi puas dengan fasilitas yang memadai kalau orang tua tidak pernah berbicara dan berdialog dengan mereka. Orang tua pergi bekerja dari pagi sampai malam, tak ada sedikit waktu pun untuk bisa berada bersama sang anak. Akibatnya anaknya lebih mendapat kasih dari pembantu daripada orang tua kandung. Sehingga ketika berada jauh atau pergi sekolah jauh emosional seorang anak lebih kuat dan dekat dengan pembantu ketimbang orang tuanya sendiri. Sedih bukan?

Ada sebuah kecenderungan di sini untuk mencari cinta dan perhatian di luar. Banyak anak muda sekarang mencari cinta di luar rumah. Orang mencari cinta dengan teman ABG-nya. Mereka juga tidak salah. Karena di dalam rumah, mereka tidak menemukan kasih dari orang tuanya. Pegangan dalam hidup yang pertama dan terutama adalah pemenuhan energi cinta. Ketika orang sudah diluapi dengan energi cinta, maka orang tidak lagi mencari cinta lain.

Situasi carut marut dunia sekarang sedang dipentaskan tat kala banyak anak muda yang terjerumus dalam narkoba. Kebanyakan dari mereka adalah anak orang yang cukup berada. Lalu, kita bertanya, apakah mereka tidak puas dengan kekayaan orang tua mereka? Terlalu sempit kalau dunia langsung menyalahkan anak muda. Patutlah kita melihat fondasi dari kehidupan adalah relasi aku-kamu. Relasi yang dibangun di atas wadas cinta. Kalau relasi dibangun di atas wadas ‘uang dan harta’, yang terjadi adalah relasi semu atau temporal. Karena kehausan utama adalah kehausan kasih.

Terlalu naif kalau orang tua mengatakan yang terpenting adalah kesejahteraan lahiriah keluarga. Bahwa semua keperluan anak terpenuhi. Anak difasilitasi oleh berbagai peralatan yang mempermudahnya. Misalnya, mobil, laptop, motor, dan sebagainya. Dominan pemenuhan adalah keperluan dan kebutuhan seseorang. Sesungguhnya tangki yang masih kosong di dalam diri seorang anak adalah tangki cinta. Maka, isilah tangki itu sepenuhnya, baru yang lain ditambahkan kemudian. Karena tangki cinta itulah yang menghidupi dia di kemudian hari. Orang tidak bisa memberi kalau ia tidak pernah menerima. Kalau ia sudah mendapat banyak perhatian dan kasih dari orang tuanya, maka kasih dan cinta itulah yang dia bagikan kepada orang lain dalam hidupnya.

Ada dua tipe orang yang sering kita jumpai dalam kehidupan ini, Pertama, mungkin kita sering melihat ada pribadi yang dingin dan pelit. Sesungguhnya yang terjadi adalah karena dia kekosongan cinta dan kasih dalam pergulatan hidupnya. Maka, ia tidak bisa memberi dari apa yang ia tidak punya. Salah satunya, ia justru masih mencari dan membutuhkan. Belum bisa memberi. Ia terus mencari perhatian, cinta, pujian, dukungan dan decak kagum dari banyak orang. Kedua, Sangat berbeda jauh dari pribadi pertama, yang suka membantu. Suka berkurban. Karena dalam hidupnya, ia sudah terpenuhi dengan tangki cinta oleh orang tuanya. Relasi aku-kau (keluarga) membawa ia untuk bertumbuh dan membagi cinta yang telah ditanam dalam keluarga. Cinta itulah yang menjadi investasi untuk bisa diberikan kepada orang lain. Maka bisa ditarik kesimpulan, cinta itu butuh investasi. Sehingga cinta itu akan menjadi sebuah gerakan yang dahsyat dalam sebuah kolam hidup keseharian.

Maka, sesungguhnya tidak ada pribadi yang disalahkan. Kalau kita melihat kedua pribadi di atas, sesungguhnya yang kurang adalah tangki cinta di dalam diri seseorang. Mana mungkin orang memberi dari apa yang dia tidak miliki. Orang memberi dari kelebihannya. Adakah sebuah pemberian dari ketiadaan. Sungguh tidak ada. Dari kekurangan orang memberi, sesungguhnya karena dia sudah menganggap sudah cukup dan banyak.

Eugen Sardono, SMM adalah Montfortan. Kini, Belajar Filsafat di STF Widya Sasana-Malang.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password