breaking news New

Reformasi Negara

Unsur-unsur yang membentuk negara adalah Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri ketuhanan, Peri kerakyatan, dan Kesejahteraan Rakyat. Kelima prinsip inilah yang harus menjiwai negara Indonesia. (M.Yamin dalam perumusan Pancasila tanggal 29 Mei 1945)

Tanggung jawab negara diletakkan di atas pundak pemimpin, yang adalah harapan besar dari banyak orang. Pembentukan sebuah negara yang beradab harus memperhatikan kelima unsur yang disampaikan oleh Muhammad Yamin. Apa yang beliau katakan bukanlah hanya untuk masa silam, tetapi masih relevan sampai saat ini.

Menjadi Pekerjaan Rumah bagi Pemerintahan Jokowi-JK untuk membentuk negara ini. Negara yang telah dibangun dengan gigih oleh para pendahulu dengan harapan agar ada perubahan terus-menerus menjadi lebih baik. Namun, itu masih menjadi sebuah impian, tatkala menyaksikan realitas yang dihadapi negara yang sudah 71 tahun merdeka.  

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Ban Ki-moon optimis bahwa kerja sama Indonesia dengan PBB akan semakin mendalam sehingga dapat merealisasikan visi bersama untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. Indonesia diperhitungkan oleh negara-negara lain, termasuk negara-negara maju.

Kelima unsur penting

Kelima unsur penting yang disampaikan M. Yamin harus menjadi pedomana dan dasar dalam bernegara. 

Pertama, Peri Kebangsaan. Negara Indonesia harus menjunjung tinggi martabat bangsa-bangsa yang tinggal di dalamnya. Membangun sebuah dasar budaya yang baik, demi mewujudkan negara yang kokoh. Kehidupan bangsa-bangsa diperhatikan, karena kalau tidak kita ini hanya akan menjadi negara yang selalu terarah ke luar dan tidak menghasilakan apa-apa untuk bangsa sendiri. Maka, membangun sebuah negara itu ibarat membangun sebuah rumah yang harus mulai dari fondasinya, baru bisa membangun tembok dan atapnya. Demikian pun membangun sebuah negara, adalah hal yang utama memerhatikan kehidupan rakyat kecil. Di sanalah letak Peri Kebangsaan. Budaya setiap bangsa dihormati demi menjunjung tinggi kesejahteraan masyarakat di dalamnya. 

Kedua, Peri Kemanusiaan. Ada orang yang terkenal di luar keluarganya, sedangkan di keluargnya tidak terkenal. Nasib sama pun yang dialami negara kita, sangat terkenal di luar, dan bisa bekerjasama dengan negara-negara maju. Namun, apa daya, di negara sendiri tidak menunjukan taringnya. Membangun negara tentu harus bisa mulai dari membangun manusia Indonesia yang berkualitas. Membangun kultur akademis melalui lembaga pendidikan. Dengan demikian produk manusia yang berkualitas semakin tinggi. Sehingga, negara kita tidak memperkerjakan orang dari luar negeri, melainkan orang kita sendiri. Bukan berarti kita tidak menjalin hubungan ke luar, tetapi hendaknya hubungan itu dibangun demi kesejahteraan bersama, bukan kesejahteraan individu. Kemanusiaan harus dibangun kokoh, agar mencapai sebuah kemajuan negara.

Ketiga, Peri Ketuhanan. Negara Indonesia menjunjung tinggi agama setiap individu. Toleransi dalam beragama harus sungguh ditegakkan. Apa gunanya “Ketuhanan Yang Maha Esa” selalu dideklarasikan hampir dari setiap mulut, jika kebebasan beragama masih terbelenggu. Keterbelengguan bukan diciptakan oleh negara tetapi oleh manusia yang berdiam di dalamnya. Kita semua adalah satu dan sama, yang adalah sama-sama meyakini satu Tuhan. Maka, perselisihan dan pertikain tidak mencerminkan makhluk beragama. 

Keempat, Peri Kerakyatan. Negara ini adalah negara rakyat. Rakyat dinomorsatukan ketimbang urusan lain. Kalau masyarakat sudah merasakan kesejahteraan, di sana pun kebahagiaan itu terwujud. Tatanan negara yang baik harus memperhatikan kepentingan rakyat. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat sebagai prinsip negara demokrasi harus menjadi semboyan yang terus dikumandangkan. 

Kelima, Kesejahteraan Rakyat. Merasakan kesejahteraan adalah harapan setiap orang. Maka, Negara harus selalu hadir untuk menjawabi kebutuhan rakyat menuju keadaan sejahtera seluruh bangsa.   

Reformasi Negara

​Reformasi berasal dari kata bahasa Latin reformare yang berarti memperbarui, artinya negara harus bisa memperbarui diri. Pertama-tama pembaharuan, bukan saja pembaharuan fisik, tetapi juga pembaharuan diri. Pembaharuan itu mulai dari atas. Kalau pemimpin lurus, rakyat juga lurus. Kalau pemimpin kriting, rakyat juga kriting. Seperti diramalkan oleh aliran konfusianisme. Bahwa pemimpin itu harus menjadi pilar.

​Reformasi Negara berarti adanya perubahan. Reformasi menuntut perubahan di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Perubahan tersebut mencakup pembaharuan sistem dan pembaharuan sikap para pemimpin. Inilah inti dari reformasi negara, agar bisa mewujudkan pilar-pilar di atas. 

Perubahan yang tak kalah pentingnya adalah prospek pembangunan yang tidak hanya fokus di wilayah Jawa. Indonesia bukan saja milik Jawa, tetapi milik semua bangsa dari sabang sampai merauke. Oleh karena itu, pembangunan harus merata ke seluruh pelosok negeri. 

Di era Pemerintahan Jokowi-JK, sasaran pembangun sudah mulai fokus ke daerah-daerah tertinggal atau tidak tersentral di Jawa saja. Di Indonesia Timur, misalnya telah dibangun berbagai infrastruktur yang menunjang usaha percepatan pembangunan ekonomi. Inilah terobosan-terobosan yang diharapkan dan tetap dipertahankan sebagai bagian dari reformasi negara. 

Oleh: Eugenius Ervan Sardono. Penulis kini Belajar Filsafat di STF Widya Sasana, Malang. 

160 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password