breaking news New

Pengaruh Iklan dalam Kehidupan Generasi Muda Manggarai

Suatu kesempatan, saya mengisi waktu liburan bersama keluarga di Manggarai Timur, Weleng. Sore itu, saya menikmati secangkir kopi Manggarai dan sepiring ubi talas. Ini bukan diskursus seputar “Makan dan Minum”. Saking asyiknya ngobrol, kami pun sampai kepada pembahasan tentang moralitas anak muda Manggarai. Seorang bapak yang sudah beruban dalam pengalaman bernazar, “zaman dahulu, seorang pelajar sangat dirindukan kehadirannya di masyarakat. Karena kehadirannya memberikan banyak hal baik bagi warga kampung. Sekarang, justru sebaliknya. Kehadiran seorang terpelajar malah memberikan banyak pengaruh buruk dalam kehidupan masyarakat.” Sebagai seorang terpelajar saya merasa malu dan ini adalah tamparan telak bagi saya.

​Refleksi bapak itu tidak berlandaskan sebuah data statistik. Ia berbicara dari bibir realitas. Refleksi beliau lantas menjadi sia-sia jika tak dicari blue print (cetak biru) untuk direfleksikan. Selama berada di Jawa, banyak keluhan terhadap mahasiswa Manggarai oleh masyarakat setempat. Telinga saya hampir jenuh mendengar komentar pahit terhadap para pelajar Manggarai.

​Lantas, apa yang menjadi penyebab kemerosotan moral di kalangan para pelajar Manggarai? Budaya modern masuk ke rumah kita tanpa mengetuk pintu dan tanpa ada jendela yang rusak. Budaya modern in se tidak buruk. Tetapi keabsenanan daya kritis membuat orang menjadi jatuh dalam salah tingkah.

Budaya Populer

​Istilah budaya populer (culture popular) sendiri dalam bahasa Latin merujuk secara harafiah pada culture of people. Budaya popular sangat nyata dalam media iklan. Iklan membuat orang menjadi ‘buta’ nurani dan hati. Menurut Encyclopedia Britannica, iklan adalah sebuah bentuk pengumuman umum berbayar yang bertujuan untuk mempromosikan penjualan sebuah komoditas atau jasa, untuk membenarkan sebuah ide atau memberikan beberapa pengaruh lainnya berdasarkan harapan pengiklan. Pada dasarnya, iklan adalah sebuah komunikasi atau pengumuman berbayar tentang produk atau jasa atau ide yang disponsori oleh institusi atau kelompok tertentu untuk memengaruhi audiens (pemirsa, pendengar atau pembaca) sehingga percaya dan ingin membeli atau memiliki produk atau jasa tersebut atau mengikuti ide yang diiklankan.

​Lantas, saya bertanya tepat kepada diriku sendiri: apa yang membuat orang terlena dengan dunia periklanan dan sampai lupa akan apa yang sejati. Litani seperti generasi ‘modifikasi’ terus diumbarkan. Generasi yang selalu mengikuti mode dan tidak menerima keadaan asli.

Mari Berbenah

​Rupanya faktor iklan menghanyutkan dan kadang orang lupa merefleksikan di dalamnya. Tak jarang, fokus perhatian orang hanya pada aspek fisik. Rambaut catok, wajah dipoles dengan make-up tebal, celana yang masih kelihatan bagian tubuh, dan orang juga enggan memakai celana. Ini generasi yang tidak suka dengan celana dan pakaian. Mereka lebih memilih pakaian yang kurang kain.

​Rupanya saya tidak sedang jengkel dengan anak muda. Saya hanya ‘galau’ jika ini terus melanda orang muda. Kalau orang muda sudah tergila-gila dengan iklan, siapa lagi yang bisa menyelamatkan kehidupan selanjutnya. 

Eugen Sardono, SMM adalah Montfortan. Kini, Belajar Filsafat di STF Widya Sasana, Malang

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password