breaking news New

Boni Hargens Sebut Pemimpin di NTT Loyo dan Sontoloyo

Kupang, Kabarnusantara.net – Dalam diskusi bertema “Goresan Nawacita di NTT” di markas Barisan Relawan Jokowi Untuk Perubahan (Bara JP), Kota Kupang, sabtu (20/08), pengamat politik Universitas Indonesia, Boni Hargens menyebut bupati dan gubernur di NTT ada yang loyo dan sontoloyo. Pernyataan ini disampaikan Boni sebagai bentuk kekecewaannya melihat situasi kemiskinan di NTT yang tak kunjung sirna.

“Saya bangga menjadi orang NTT, tapi di saat yang sama saya tidak akan mengerti kenapa kemiskinan masih menjadi karakter kita” ungkap Boni.

Atas situasi itu, Boni pun membagi bupati-bupati dan wali kota di NTT ada yang loyo dan sontoloyo.

“Yang loyo itu,  dia ngerti buat apa tapi tidak ada semangat, tak ada gairah untuk berbuat tapi selalu memikirkan pilkada berikutnya. Yang Sontoloyo udah ga ngerti apa-apa, ga buat untuk rakyat, ngerampok pula” cetus Boni dengan nada tinggi.

Tidak hanya itu, Boni juga menyebut bupati dan wali kota yang seperti itu sebagai bajingan-bajingan yang harus dilawan oleh kekuatan rakyat.

Soal bagaimana mengubah NTT ke depan, Boni menawarkan pemimpin yang punya hati dan punya otak. Punya hati untuk merasakan denyut nadi serta penderitaan rakyat.

Ia juga mengaku tak mengerti kalau ada DPR-RI, bupati dan gubernur bisa tertawa keliling NTT, makan kenyang namun tidak pernah terganggu tidurnya oleh kemiskinan yang ada di daerah itu.

“Saya heran kok Gubernur NTT bisa tidur nyenyak. Mengapa pak Frans bisa tidur nyenyak di NTT yang miskin dan melarat di mana-mana” tanya Boni.

Sebagai orang NTT, Boni tak menyangkal banyak orang hebat dari daerah itu, namun banyak juga yang jadi tukang suruh, tukang tagih utang, menjadi tumbal di mana-mana, banyak TKI dari NTT yang jadi korban human trafficking.

“Dan itu terjadi hari ini di depan bupati-bupati dan gubernur yang merasa paling tahu tentang demokrasi” lanjutnya.

Menurutnya, saat ini NTT butuh pemimpin yang bisa menjadi pelayan dan hamba rakyat. Berkuasa itu, kata Boni, paling mudah namun memimpin dalam pengertian melayani itu yang tak ada di NTT

“Padahal pelayan di sini banyak sekali, mulai dari pelayan Tuhan sampai ke pelayan rumah tangga” katanya.

Boni pun meminta pendeta dan pastor di NTT agar berkotbah dan membuat ibadat di kantor-kantor bupati dan gubernur NTT. (Irvan Kurniawan/Hip/KbN)

1 Comment

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password