breaking news New

Silent Reading, Literasi dan Budaya Membaca

Di tengah hiruk pikuk persoalan pendidikan, yang mengemuka ke permukaan kadang persoalan yang sepele. Masih segar dalam ingatan kita soal ide full day school (FDS). Bagaikan akademisi yang tidak punya landasan berpikir, begitu diserang banyak pihak, ide FDS Mendikbud Muhadjir Effendi layu sebelum berkembang.
Kita kadang dipertontonkan sinetron pendidikan yang menjenuhkan. Kadang tidak berakar sehingga tidak menjawab persoalan pendidikan bangsa ini. Tentu Mendikbud sekalipun bukan pesulap, yang dalam satu trik bisa mengubah pendidikan bangsa ini.

Sebenarnya ada ide besar yang sampai sekarang pelaksanaannya masih sayup-sayup bahkan hampir tidak dilaksanakan. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mempunyai program unggulan bernama “Gerakan Literasi Bangsa (GLB)” yang bertujuan untuk menumbuhkan budi pekerti anak melalui budaya literasi (membaca dan menulis).

Gerakan Literasi

Berdasarkan informasi dari laman resmi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bisa kita gali lebih lanjut tentang gerakan ini. Ini data yang mereka rilis ke masyarakat yang tentu hanya segelintir orang yang membacanya.

Secara kultural masyarakat kita belum mempunyai budaya literasi yang tinggi, hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada tahun 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara tersebut. Sementara Vietnam justru menempati urutan ke-20 besar. Pada penelitian yang sama, PISA juga menempatkan posisi membaca siswa Indonesia di urutan ke 57 dari 65 negara yang diteliti.

Data statistik UNESCO tahun 2012 menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca.

Tentu hal data di atas linier dengan kenyataan jumlah penduduk Indonesia yang mengeyam pendidikan. Karena kalau kita jujur, bagi orang Indonesia pada umumnya, membaca itu masuk dalam konteks pendidikan.

Sederhana saja, para pelajar bahkan mahasiswa memiliki dorongan membaca karena tuntutan pendidikan. Hanya sedikit yang karena kesadaran. Bisa kita cek dalam diri kita masing-masing.

Data di atas tidak mencengangkan. Kita tengok saja kiri-kanan kita seberapa banyak yang suka membaca. Lalu, kita tentu mudah menilai jika menyaksikan para pelajar kita. Seberapa yang lebih memilih membaca buku di luar karena tuntutan pendidikan? Atau lebih ekstrem, diminta membaca dengan tuntutan pendidikan pun mereka angkat tangan.

Gerakan literasi tentu dirancang untuk membiasakan anak gemar membaca. Outputnya tentu saja lanjut ke gemar menulis. Karena kedua hal ini biasanya saling berkaitan.

Model gerakan literasi ini adalah membaca, mengkonstruksi, dan menulis kembali hasil bacaan. Hal lain yang dianggap penting adalah bahan bacaan yang nanti disiapkan tentunya relevan dengan perkembangan psikologi dan kecerdasan pelajar.

Silent Reading dan Membangun Budaya Membaca

Membangun budaya membaca bukanlah pekerjaan mudah. Untuk konteks bangsa Indonesia proyek ini bisa dianggap mustahil. Ini pernyataan sinis. Tapi marilah kita melihatnya secara positif.

Membangun budaya membaca tidak hanya soal ide. Membangun budaya membaca harus dengan membiasakan membaca itu sendiri. Paling mungkin tentu saja dimulai dari lingkungan pendidikan.

Lingkungan pendidikan adalah pintu masuk membiasakan masyarakat untuk membaca. Membangun sebuah kebudayaan tentu dipupuk dari kecil. Sederhananya, mulai dari sekolah dasar (SD).

Silent reading adalah program yang di beberapa sekolah sudah mulai dijalankan. Bahkan bagi sebagiannya sudah menjadikannya budaya. Ini adalah konsep membiasakan yang bergerak ke budaya.

Silent reading adalah menyisihkan waktu pada pagi hari sebelum pelajaran dimulai dengan mengonsumsi bacaan. Siswa diminta atau disiapkan bacaan lalu mereka menikmatinya. Konsepnya adalah siswa menikmati bacaannya.

Sebisa mungkin siswa tidak dibebani dengan bacaan yang berat. Jika level kemampuan membacanya makin meningkat tentu makin lama bahan bacaannya juga harus diubah. Akan terus seperti itu sehingga dalam konsep siswa bahwa membaca itu menyenangkan. Mereka bisa menemukan kenikmatan dalam membaca.

Waktunya pun bisa diatur. Paling ideal,diatur cukup sekitar 15 sampai 20 menit saja. Membaca dalam waktu lama bisa menghilangkan kenikmatan untuk sebuah pembiasaan. Hal ini juga untuk menimbulkan rasa penasaran akan hal yang mereka baca. Selanjutnya mereka akan mimiliki keinginan untuk melanjtkan hal yang mereka baca.

Dalam konteks Indonesia hal ini perlu terus dikembangkan. Gerakan literasi ini perlu direalisasikan. Juga perlu pengorbanan, dalam hal ini pengadaan buku bacaan yang cukup. Kadang budaya membaca terbentur pada ketersediaan bahan bacaan.

Mari kita terus berharap bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki budaya membaca. Harapannya, tidak ada lagi plagiarism karena keengganan menggali informasi. Tidak ada lagi orang yang sekadar percaya isu, tanpa menggali kebenarannya.

Oleh: Lorens Yosef (Praktisi Pendidikan)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password