breaking news New

Krisis Kepercayaan Pada Parpol; Hal Wajar yang Memprihatinkan

Partai politik sebagai salah satu elemen penting dalam demokrasi memang tidak bisa diingkari lagi. Partai politik perannya dalam masyarakat sangatlah prinsip. Mulai dari sebagai sarana komunikasi politik, sarana sosialisasi politik, sampai pada pendidikan politik. Kesadaran politik masyarakat yang merupakan tanggungan partai politik sebagai pemegang fungsi pendidikan politik bisa kita telaah dengan mudah. Di mana-mana jangankan berbicara partai politik, baru sekedar menyebut kata politik saja pandangan mereka sudah negatif. Meskipun akhir-akhir ini kesadaran politik masyarakat menunjukkan peningkatan. Hal ini ditandai dengan meningkatnya responden di berbagai kolom komentar yang terdapat di laman berita media online. Tapi perlu kita sadari bahwa kesadaran politik itu disebabkan oleh teknologi dimana masyarakat bisa membaca berita di mana saja dan kapan saja, selain itu masyarakat juga bisa langsung mengkritik isi berita tersebut. Jadi bukan hasil dari pendidikan politik yang dilakukan oleh partai politik.

Sudah jadi pandangan umum di masyarakat bahwa partai politik sudah tidak benar. Kasus korupsi yang sering melibatkan tokoh-tokoh partai politik merupakan penyebab merosotnya kepercayaan publik terhadap partai politik. Namun akibatnya bukan saja terhadap partai politik itu sendiri tetapi menjalar ke mana-mana. Program studi ilmu politik pun tidak luput dari pandangan negatif masyarakat. Selain itu, pandangan negatif publik juga terlihat pada penilaianya terhadap kinerja pemerintah. Hal ini tentu sangat memprihatinkan.

Akibat lain dari pada jejak langkah partai politik yang menimbulkan penilaian negatif terhadap istilah politik adalah hal wajar dan seharusnya, namun memprihatinkan. Dimana hasil penelitian yang di lakukan oleh Survey Saiful Mujani Research and Consulting menempatkan partai politik di posisi terbawah yang mendapat kepercayan dari masyarakat. Hasil dari survey tersebut menetapkan TNI sebagai lembaga negara yang mendapat kepercayaan masyarakat paling tinggi yaitu 89,6 persen. Menyusul posisi dua adalah presiden dengan 83,7 persen. Polri kemudian di posisi tiga dengan 76,3 persen. DPR sebagai representasi rakyat juga sangat memprihatinkan yaitu dengan 58,4 persen.

DPR memprihatinkan sebab DPR merupakan representasi rakyat yang secara logikanya harus mendapat mendapat 100 persen. Kalau sudah seperti ini, apakah masih pantas disebut wakil rakyat, toh yang diwakili tidak percaya terhadapnya. Yang terakhir dan terbawah adalah partai politik dengan 52,9 persen. Dan benar saja, hasil survey yang dilakukan oleh SMRC pada Desember 2015 tersebut sesuai dengan realita dimana menempatkan DPR dan partai politik di posisi terbawah karena bukan hal baru, semua anggota DPR merupakan anggota partai. Sering kita dengar di DPR istilah fraksi partai A, partai B dan begitulah adanya. Hal ini mengingatkan kita pada utusan golongan yang pernah ada dalam lembaga legislatif.

Dari hasil survei SMRC tersebut manyiratkan bahwa pemerintah dalam hal ini tidak boleh membiarkan itu terjadi berlarut-larut. Krisis kepercayaan yang dialami oleh DPR dan partai politik telah mencederai demokrasi. Penertiban dan pembenahan regulasi terhadap partai politik tentu sangat dinantikan. Proses kaderisasi adalah hal yang paling utama. Proses kaderisasi yang benar bukan hanya akan mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap kedua lembaga negara tersebut, melainkan akan mampu menperbaiki demokrasi bahkan menjauhkan negara dari sistem neolib yang sementara panas-panasnya.

Oleh: Muqaddim, Mahasiswa Ilmu Politik, FISIP UNAS

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password