breaking news New

Mengenang Dami Ndandu Toda, Kritikus Sastra Asal Manggarai, Flores, NTT

Kabarnusantara.net – Dami N. Toda dikenal luas sebagai salah satu kritikus sastra Indonesia modern yang berkiprah setelah kritikus sastra legendaris Indonesia, H.B. Jassin, mulai meredup pengaruhnya. Dami juga dikenal sebagai pencetus lahirnya Angkatan 1970 dalam sastra Indonesia.

Lewat telaah dan kritik sastra yang dilakukannya, beliau berhasil “menemukan” Iwan Simatupang (sebagai novelis besar) dan “melambungkan” Sutardji Calzoum Bachri (sebagai penyair besar). Menerima hadiah sastra dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 1984 atas buku telaah dan kritik sastranya, Hamba-Hamba Kebudayaan (Sinar Harapan, Jakarta, 1984).

Dami Ndandu Toda, lahir di Pongkor, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, 20 September 1942. Beliau meninggal pada 10 November 2006 di Leezen, Hamburg, Jerman pada usia 64 tahun.

Dami menempuh pendidikan dasarnya di SD Ruteng I, Manggarai (1954). Kemudian ia melanjutkan ke pendidikan menengah di Seminari St. Yohanes Berkhmans, Mataloko, Flores (1961), dan meneruskan ke pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Ledalero, Maumere, Sikka, Flores (tidak tamat), lalu ke Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta sampai tingkat sarjana muda dan doktoral (1967), Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya (tidak tamat), dan Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta (1974).

Dami N. Toda adalah anak bungsu dari 8 bersaudara, keturunan raja Todo-Pongkor, Manggarai, dari Bapak Frans Sales Baso (Kraeng Baso) dan mama Paula Pangul. Menikah dengan D.S. Setya Wardhani (dari Solo), dikaruniai dua orang anak, Putra Rian Mashur dan Mayang Citra Putri Kembang Emas. 

Dami pernah bekerja di Departemen Sosial RI (1973-1975), mengajar pada Institut Kesenian Jakarta, dan menjadi Sekretaris Eksekutif Yayasan Seni Tradisional (Jakarta). Dia juga banyak tampil dalam seminar baik di tingkat nasional maupun internasional, seperti di Universitas Sam Ratulangi, Manado, Fakultas Sastra UI, Universitas Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur, dan pada 10th European Colloquium on Indonesian Studies di Universitas von Humboldt, Berlin, dengan makalah “Dutch-Treaty and Contract Conceptions versus Adat Perceptions”. Sejak 1981, dia menetap di Hamburg untuk mengajar pada Lembaga Studi-studi Indonesia dan Pasifik, Universitas Hamburg.

Dia yang rajin menulis pernah menjadi redaktur tamu pada Harian Berita Buana dan staf redaksi Majalah Kadin Indonesia. Tulisannya banyak tersebar di sejumlah surat kabar nasional seperti Sinar Harapan, Kompas, Suara Karya, dan Berita Buana. Sedangkan esai-esainya banyak muncul di majalah budaya, seperti Budaya Jaya dan Horison.

Dami N. Toda menulis puisi pertama kali pada tahun 1969 dengan judul “Sesando Negeri Savana” dimuat  majalah Sastra (edisi bulan Juli, Nomor 7, Tahun 1969). Puisi yang kedua pada 1973 berjudul “Epitaph Buat Daisia Kecil” dimuat dalam majalah sastra Horison (edisi Desember, Nomor 12, Tahun VIII, 1973). Puisi yang ketiga pada 1977 berjudul “Pidato Kuburan Seorang Pembunuh (Tragedi Pendendam Tua di Adonara)” dimuat Majalah Dian (Nomor 1, Tahun V, 24 Oktober 1977), yang pada bagian akhir puisi tertulis, Mei 1967 (artinya puisi ini diciptakan tahun 1967). Dilihat dari segi tahun penciptaannya, puisi yang dimuat Majalah Dian (terbitan Ende, Flores, milik Serikat Sabda Allah, SVD) adalah puisi pertama Dami, namun dilihat dari segi tahun publikasinya, puisi yang dimuat majalah Sastra adalah puisi pertama.

Selanjutnya, kumpulan puisi Dami pertama terbit tahun 1976 dalam bentuk antologi bersama penyair Indonesia yang lain berjudul Penyair Muda di Depan Forum (Dewan Kesenian Jakarta, 1976). Puisi-puisinya lain terdapat dalam antologi Tonggak  III (Gramedia, Jakarta, 1987) editor Linus Suryadi AG. Pada tahun 2005 terbit buku kumpulan puisi pribadinya berjudul  Buru Abadi (Indonesia Tera, Magelang, 2005).

Dalam perjalanan kariernya di bidang sastra, Dami N. Toda lebih dikenal sebagai kritikus sastra dibandingkan sebagai penyair. Sejak jadi mahasiswa UGM di Yogyakarta, Dami aktif menulis artikel opini, esai, telaah dan kritik sastra pada berbagai surat kabar, antara lain di Yogyakarta (Pelopor Minggu), Jakarta (Sinar Harapan, Kompas, Suara Karya, dan Berita Buana), Bandung (Mingguan Mahasiswa Indonesia). Juga menulis kritik sastra dan budaya pada majalah sastra Horison dan Budaya Jaya. Sering tampil sebagai pembicara di berbagai forum seminar sastra, seperti di Universitas Sam Ratulangi, Manado, Fakultas Sastra UI, Universitas Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur, dan pada 10th European Colloquium on Indonesian Studies di Universitas von Humboldt, Jerman.

Berikut ini adalah sebagian dari hasil karya tulis Dami N. Toda:

  • Penyair Muda di Depan Forum (1974)
  • Puisi-puisi Goenawan Mohamad (1975)
  • Pembacaan puisi dua penyair muda Jakarta, 27 Agustus 1975, jam 20.00 WIB di Plaza Taman Ismail Marzuki (bersama Handrawan Nadesul) (1975)
  • Novel Baru Iwan Simatupang (1980)
  • Cerita-cerita Pendek Iwan Simatupang (1983)
  • Sajak-sajak Goenawan Mohamad dan sajak-sajak Taufik Ismail, bersama Pamusuk Nasution (1984)
  • Hamba-hamba Kebudayaan (1984)
  • Catatan Penutup dalam “Ziarah malam: sajak-sajak 1952-1967” oleh Iwan Simatupang (1993)
  • Manggarai Mencari Pencerahan Historiografi (1999)
  • “Maka berbicaralah Zarathustra” – terjemahan (2000)
  • “Siti Zainon Ismail: penyair wanita tersohor Nusantara”, dalam majalah “Dewan Sastera”, No.10, Vol.32 (2002)
  • Apakah sastra?: kumpulan esai kritik teori sastra budaya mengenang almarhum Dr. H.B. Jassin (2005). (Berbagai Sumber/RR/KbN)

6 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password