breaking news New

Sastra Lisan : “Jong Dobo” Cerita Kapal yang Dikutuk

Kabarnusantara.net – Jong Dobo dalam Bahasa Sikka, Maumere, Flores, NTT terdiri dari dua suku kata. “Jong” berarti perahu/kapal, sedangkan “Dobo” adalah nama perkampungan, tempat disimpannya perahu tersebut. Jika diterjemahkan secara bebas, artinya “Perahu di kampung Dobo”.

Nama lengkap kampong Dobo adalah “Dobo Dora Nata Ulu” yang artinya Puncak Dobo Kampung Pertama. 

Ada beberapa perkampungan mesti dilewati sebelum mencapai kampung Dobo, yakni Kampung Habilopong, Apinggoot dan Wolomotong. Dengan kecepatan motor hingga 60 km/ jam, kita bisa tiba sekitar 30 menit. Disambut dengan gapura dalam bahasa Sikka “Uhet Dien Dat Hading” artinya, “Selamat Datang, Pintu Terbuka”.

Menurut cerita, kapal / “Jong Dobo” ini dikutuk setelah melanggar perjanjian. Namun tidak mengetahui janji apa yang telah mereka langgar, yang pastinya mereka diwajibkan meninggalkan Kampung Dobo sebelum fajar menyingsing. Keberadaan Jong Dobo pun sampai saat ini hanya cerita yang diturunkan dari mulut ke mulut. 

Pada abad ke tiga sebelum masehi, ada kapal besar berlayar keliling dunia yang dipercaya berasal dari Dongson (India belakang). Kapal ini berlayar dari India, Thailand, Selat Malaka terus ke Indonesia melalui Sumatera, Jawa, Irian (Aru/Dabu), Bima, Labuan Bajo (Pulau Flores). Dari situ mereka berlayar melalui pesisir pantai utara Pulau Flores, di Bajawa (Kabupaten Ngada) mereka mampir di Koli Dobo dan meneruskan hingga perjalanan ke Ende. Dari Ende, mereka meneruskan perjalanan menuju Maumere (Kabupaten Sikka) dan berlabu di Waipare, Kecamatan Kangae, mereka membuang sauh di situ, setelah beristirahat mereka melanjutkan perjalanan ke arah selatan ke Kampung Dobo. Dalam perjalanannya mereka sempat menabrak karang yang bekasnya diyakini masih ada sekarang. Sampai di Kampung Dobo ada pantangan dan larangan yang dilanggar, dan mereka diwajibkan meninggalkan kampung sebelum pagi tiba, kalau tidak akan terkena kutukan.

Saat ini kita tidak akan melihat kapal berukuran besar. Tapi sebuah miniatur kapal yang terbuat dari perunggu. Sebuah kapal yang memiliki panjang 60 cm, tinggi 12 cm dan lebar 25 cm. Jong Dobo berisikan 22 kru kapal, terdiri dari kapten, tiga prajurit, 12 pendayung, tiga juru mudi dan enam penumpang bersebelahan dengan ayam dan gong. Ayam dibawa dalam perjalanan karena pada saat itu belum ada jam sebagai penunjuk waktu.

Asal mula dan asal dari Jong Dobo menyatu dalam syair adat yang dikenal dalam bahasa Sikka dengan sebutan Kleteng Latar yaitu prosa liris paralel. Yang merupakan legenda tentang terjadinya dan asal mula Jong Dobo. Muatan syair merupakan suatu legenda dari pada mitos, dalam arti yang menonjol ialah pribadi – pribadi historis entah riil atau yang dibayangkan.
Adapun syair adat tentang asal mula Jong Dobo adalah sebagai berikut :

Soge ata Numba

Soge jong gelang reta

Jong gelang reta

Beli uran nora dara

Poto watu ia Dobo

Poa inga ia Dobo

Inga ia Dobo

Jong baler dadi gelang Orang soge dari Numba

Yang mengkeramatkan jong gelang oti

Jong gelang itu

Menurunkan hujan dan panas

Mengangkat jangkar di Dobo

Mereka kesiangan di sana

Kesiangan di Dobo

Kapal itu berubah menjadi gelang

Ada beberapa peneliti yang memiliki argumen mengenai artefak tersebut.   Sebut saja Dr. Th. Hoeven dan Prof. Hugh O’neil. Kedua ilmuwan ini mempunyai pendapat berbeda sesuai hasil penelitiannya. Menurut Ahli Bahasa Yunani dan Latin Dr. Th. Hoeven, artefak Jong Dobo berasal dari kebudayaan Dongson, India Belakang atau Tiongkok, sekarang Vietnam pada abad 13 SM.

Sementara Prof. Hugh O’neil, Ahli Bangun Purba dan Modern dari Melbourne University, Australia, berpendapat, jika dilihat dari struktur dan bentuknya artefak Jong Dobo berasal dari kebudayaan Sumeria pada abad 3 SM. Artefak ini dibawah dari Laut Tengah India dalam petualangan migrasi Suku India ke Indonesia. Perjalanan ini menghantarkan mereka sampai di Bukit Dobo dan meletakkan benda tersebut.

Entah apapun persepsinya yang pasti cerita “Jong Dobo” menjadi literatur daerah yang perlu dilestarikan menjadi kearifan lokal yang bermanfaat buat generasi muda. (RR/KbN)

159 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password