breaking news New

Belajar Pada dan Dari MEDAN

Pada hari Minggu, 28 Agustus 2016 yang lalu, masyarakat Indonesia pada umumnya dan Medan pada khususnya dikejutkan oleh aksi seseorang yang mencoba untuk meledakkan bom bunuh diri di Gereja Katolik Stasi Santo Yoseph, Medan. Semua pihak pantas terkejut oleh aksi dari IAH (18) yang adalah pelaku percobaan tindakan teror itu.

Betapa tidak. Ia dengan berani melakukannya di Gereja tempat berkumpulnya semua umat beriman Katolik guna merayakan iman mereka. Dari segi tempat dan waktunya dapatlah dikatakan bahwa IAH telah tampil sebagai pribadi yang berwajah tanpa toleransi dan penghargaan terhadap umat beragama lain.

Hakikat Tindakan IAH: Teror

Banyak kalangan menilai bahwa gagalnya ledakan bom bunuh diri IAH menjadi tanda bahwa gerakan terorisme semakin melemah. Hemat saya, penafsiran dan kesimpulan yang demikian terlalu naif. Kesimpulan itu tidak menyentuh sama sekali hakikat dan juga substansi dari tindakan IAH di atas. Oleh karena itu adalah penting untuk mengenal dan juga mengetahui apa yang menjadi motif tindakannya itu. Dari laporan kronologis berita yang kita terima, IAH mencoba untuk menghampiri pastor tersebut sambil membawa sebuah bom rakitan dalam tas. Laki-laki itu juga membawa sebilah pisau dan bermaksud menyerang pastor tersebut.

 Jelas bahwa bom dan juga pisau yang dibawanya menjadi bukti sekaligus tanda bahwa tindakan IAH sudah termasuk dalam kategori teror. Hal itu kita kenal dari Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Terorisme serta Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang kepemilikan senjata api dan bahan peledak. Dengan demikian, percobaan yang gagal dari IAH tidak hendak mengatakan bahwa gerakan terorisme makin melemah. Yang hendak dikatakan sebenarnya bahwa kategori tindakannya teror dan gerakan radikalisme belumlah sepenuhnya hilang dari bumi pertiwi ini.

​Tampilnya IAH dalam kasus bom bunuh diri di Medan mensinyalir masih menjamurnya wajah-wajah intoleran dan radikal di Indonesia. Sangat ironi ketika hal itu terjadi di sebuah negara yang menjunjung tinggi semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Lebih ironi lagi oleh karena hal itu terjadi di tempat orang menjalankan haknya untuk beribadah yang adalah hak dasar yang dianut oleh warga negara di negeri ini sekaligus hak yang patut dilindungi oleh negara. Kenekatan dan juga kebrutalan yang ditunjukan oleh IAH menjadi bukti bahwa yang ia lakukan adalah tindakan teror.

​Semua orang yang menjunjung tinggi semangat toleransi dan juga kerukunan antarmasyarakat pasti mengecam dan bahkan mengutuk apa yang dilakukan oleh IAH. Sebuah hal yang wajar. Namun ada hal lain yang pantas kita perhatikan. Halnya berkaitan dengan gagalnya usaha bom bunuh diri itu. Hal itu membantu semua pihak untuk mengenal baik dalang maupun semua oknum yang ada di balik semua itu. Hal itu mempermudah semua usaha untuk mencari dan juga mengenal para pegiat tindakan teror di Medan khususnya dan Indonesia pada umumnya.

​Tindakan teror yang dilakukan oleh IAH, terlepas dari kegagalannya menjadi tanda bagi kita bahwa semangat toleransi antarumat beragama di negeri ini belum sepenuhnya terwujud. Hal itu menjadi pekerjaan rumah yang harus diperjuangkan terus menerus. Ia menuntut suatu gerakan bersama. Hal itu juga menyentuh peran para orang tua dan juga masyarakat serta pendidik lainnya untuk menanamakan semangat hormat menghormati dalam diri anak-anak dan kaum muda sejak dini. Hal itu menjadi mungkin jika generasi tua mampu menunjukkan semangat toleransi dan hormat menghormati di antarsesama dalam harian hidup mereka.

​Kita mengharapkan agar IAH menjadi kepingan terakhir dari usaha tindakan teror di negeri ini. Kita semua pastinya ingin agar tidak ada lagi IAH yang lain yang tampil dengan wajah intolerannya. Belajar dari kegagalannya menjadi tugas kita semua untuk meredam segala aksi dan provokasi gerakan radikalisme di tengah bangsa dan negara ini. Medan hendaknya menjadi cermin bagi semua orang untuk mengenal kekejaman dan juga kebengisan serta kebrutalan gerakan intoleran dan radikal. Adalah menyenangkan jika kita menjumpai negara ini hidup dalam kerukunan, damai, toleransi, dan juga kerjasama di antarwarganya. Wajah Indonesia yang dikenal dengan kerukunan dan toleransi di tengah pluralisme budaya, agama, suku, bahasa, dan keragaman lainnya hendaknya tidak hanya menjadi buah bibir tetapi menyata dalam keseharian hidup dan sejarah negeri ini.

​Belajar pada dan dari Medan merupakan undangan yang sangat mendesak bagi semua orang Indonesia saat ini. Undangan itu menyentuh semangat tentang hal yang sangat penting untuk dilakukan yakni menjunjung tinggi rasa hormat menghormati perbedaan yang ada di negeri ini. Kita masih pantas berharap bahwa toleransi dan juga kerukunan akan tercipta di negeri ini. Yang terpenting ialah usaha untuk tidak melahirkan IAH yang lainnya untuk perjalanan negara ini ke depannya.

Oleh: Hiro Edison, mahasiswa STF Widya Sasana Malang

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password