breaking news New

Pria Asal Yogya Ini Rintis Usaha Ojek Online Khusus Difabel

Yogyakarta, Kabarnusantara.net – Usaha ojek berbasis online kini memang sedang naik daun. Namun ternyata di Kota Gudeg Yogyakarta, seorang pria malah membuat usaha ojek yang berbeda. Ia membuat ojek khusus difabel yang baik pengendara maupun penumpangnya adalah orang-orang berkebutuhan khusus.

Dilansir dari BBC Indonesia, adalah Triyono seorang pengusaha berusia 35 tahun, merintis layanan ojek untuk para difabel. Triyono sendiri juga seorang difabel, ia diserang polio ketika kecil dan kemudian harus menggunakan dua tongkat untuk berjalan.

Difa City Tour dan Transport dirintis Triyono sejak Desember tahun lalu dan kini telah mengoperasikan 15 motor – yang dimodifikasi dengan tambahan bangku di samping. Layanannya tidak hanya terbatas untuk mengantar jemput para difabel, tetapi juga bisa mengantar orang-orang biasa dan turis untuk berkeliling Yogyakarta.

Sebuah layanan ojek dirintis di Yogyakarta untuk menyediakan sarana transportasi yang nyaman untuk para difabel. Unik, karena para pengendaranya pun orang-orang yang punya kebutuhan khusus.

Triyono mendirikan usaha ini berdasarkan pengalaman pribadinya. Dimana bagi para penyadang disabilitas, sangat sulit untuk bisa menemukan transportasi umum yang nyaman.

“Saya pernah hampir satu jam lebih hanya untuk menunggu angkot yang mau mengangkut saya,”kata Muryati, salah satu penyandang disabilitas yang menggunkan kursi roda.

Layanan ini bertambah istimewa karena para pengendara juga orang-orang yang berkebutuhan khusus. Sugiyono misalnya, punya keterbatasan sehingga telapak tangan kanannya tidak bisa menggenggam. Ada juga Suwardono yang agak pincang ketika berjalan tetapi bisa lancar mengendarai motor dengan surat izin mengemudi khusus.

“Kita unik, semua melibatkan difabel. Kita satu-satunya (ojek) di dunia yang betul-betul mengakomodasi para difabel,”kata Triyono.

Alasan inilah yang akhirnya membuat aktivis tuna netra seperti Pardiono memilih Difa dibanding ojek biasa. Ada rasa senasib sepenanggungan antara pengendara dan penumpang.
Alasan inilah yang akhirnya membuat aktivis tuna netra seperti Pardiono memilih Difa dibanding ojek biasa. Ada rasa senasib sepenanggungan antara pengendara dan penumpang.

“Bagaimana (sulitnya) mencari uang bagi orang disabilitas. Jadi saja juga ingin memberdayakan mereka juga. Apa gunanya saya menjadi aktivis penyandang disabilitas kalau saya tidak menggunakan jasa mereka? Kan non sense, ngapusimba,” katanya.

Sebanyak 90% uang yang diperoleh diberikan pada pengendara ojek dan hanya 10% disisihkan untuk operasional. Bagi Tri, ini bukan masalah besar karena bukanlah untung yang dicari, melainkan kesadaraan dan pemahaman agar orang-orang umum bisa lebih mengerti kebutuhan difabel.

Sejak peluncuran ojek ini, tak sedikit turis dan orang-orang biasa yang menggunakan jasa mereka.

“Jadi Difa ini juga untuk kampanye, kita tidak boleh saling mengucilkan, kita bisa saling melayani. Kamu bilang kamu ‘normal’ hari ini, besok kamu bisa jadi difabel juga, dengan adanya kampanye ini, rasa kasih sayang akan terbentuk.” katanya.(RR/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password