breaking news New

Prostitusi Anak Melayani Gay, Siapa saja pelanggannya?

Jakarta, Kabarnusantara.net – Subdit Cyber Crime Mabes Polri mengungkap praktik pelacuran anak di bawah umur di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat Selasa (30/8).Polisi telah menangkap seseorang berinisial Ar yang mengelola Rio Ceper Manajemen di Jl Raya Puncak km 75 Cipayung‎ Selasa (30/8). Pelaku melancarkan aksi haramnya melalui akun Facebook‎ (FB).

Saat ditangkap diamankan tujuh orang korbannya yang rata-rata di bawah 18 tahun. Di Facebook, ternyata daftar anak-anak yang ditawarkan pelaku lebih banyak lagi.

“Kami bersama Kominfo, KPAI, dan Kemensos akan tangani holistik persoalan ini. Bukan hanya hukum pelaku tapi juga persoalan lain ke korban bagaimana mengembalikan mereka,” kata Dir Pidsus Brigjen Agung Setya di Mabes Polri Rabu (31/8).

Menurut jenderal bintang satu ini ada 99 anak yang ditawarkan pelaku yang merupakan residivis kasus penjualan perempuan dan baru bebas enam bulan lalu itu.

Siapa Saja Pelanggannya ?

Para korban malang itu, masih kata Agung, sebagian besar berasal dari Jawa Barat. Diperkirakan Ar juga mempunyai pelaku seksual menyimpang meski diketahui sudah berkeluarga.

“Dari tarif Rp 1,2 juta itu korban rata-rata hanya dapat Rp 100-150.000. 

Selain Ar, polisi akan menjerat konsumen atau pengguna jasa anak-anak itu dengan Undang-Undang Perlindungan Anak. Berdasarkan beleid itu, perilaku yang sifatnya cabul pada anak adalah kejahatan. “Para pengguna ini juga sesuatu yang menyimpang dan ini kejahatan. Kami akan kembangkan siapa pengguna ini,”  ujar Agung.

Ar Biasanya, menawarkan anak-anak tersebut kepada warga negara asing melalui komunikasi jejaring Facebook dan media sosial lainnya. Konsumen tersebut membayar uang muka melalui transfer bank. Adapun tarif yang disepakati sekitar Rp 1,2 juta. Namun, korban hanya mendapatkan komisi Rp 100-200 ribu.

Namun begitu, Agung melanjutkan, pihaknya masih mendalami dan menelusuri siapa pelanggan prostitusi anak. Termasuk apakah pelanggan prostitusi anak ini merupakan wisatawan maupun WNA mengingat penggrebekan dilakukan di wilayah Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. 

Seusai penangkapan oleh Kepolisian, Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa menggelar pertemuan tertutup dengan jajaran Bareskrim Mabes Polri, Rabu, 31 Agustus 2016. “Eksploitasi seks gay virtual ini baru pertama kali terjadi, sehingga kita perlu menghentikannya bersama-sama,” ujar Khofifah dalam jumpa pers usai pertemuan. 

Menteri Khofifah mengaku kaget dengan pengungkapan kasus ini. Dia mengimbau para orang tua untuk mewaspadai agar anaknya tidak terjerat dalam praktik seperti ini.  “Sekarang banyak anak-anak yang berperilaku konsumtif, hedonisme. Kami prihatin, kaget atas kasus ini,” ucap Khofifah.

Menteri Sosial menjelaskan sebelumnya, ada pedofilia atau wisata seks anak-anak yang dijadikan satu paket dengan industri wisata. “Ini trafficking in children (perdagangan anak-anak), ini harus diwaspadai orang tua. Tanggung jawab utama dan pertama (untuk mencegah) itu adalah orang tua,” ucap Khofifah.

Tugas Kementrian Sosial, katanya, pada proses rehabilitasinya. Anak-anak yang menjadi korban itu akan dipsikoterapi di RPSA Kemensos. Khofifah mengatakan, tujuh anak itu saat ini sedang menjalani tes kesehatan.

 “Sekarang lagi menunggu hasil tes kesehatan, semoga enggak ada yang terinfeksi HIV,” ujarnya.(RR/KbN)

2 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password