breaking news New

NTT Jadi Tuan Rumah Expo Sunda Kecil

Kupang, Kabarnusantara.net –Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menggelar Expo Sunda Kecil di Kupang, pada 7-10 September 2016, untuk menarik minat investor melakukan investasi di wilayah NTT di bidang Pariwisata, Peternakan, Pertanian, Perikanan, Perkebunan, Industri dan sektor jasa lainnya yang ada di NTT.

“Expo Sunda Kecil merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk menarik minat investor menanamkan modalnya di Provinsi Kepulauan NTT ,”kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) NTT, Semuel Rebo kepada SP di Kupang, Sabtu, (3/9) pagi.

NTT menjadi tuan rumah pertama Expo Sunda Kecil 2016 yang dihadiri Provinsi NTB, Bali, Papua, Papua Barat, Jawa Barat, Jawa Timur dan Negara Republik Demokratic Timor Leste (RDTL) dalam menyemarakkan expo sunda kecil yang berlangsung di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), 7 – 10 September 2016.

Saat ini lebih dari 70 peserta, termasuk negara tetangga Timor Leste yang sudah mendaftar dan menyampaikan keinginannya untuk ikut dalam ajang Expo Sunda Kecil 2016 di Kota Kupang. Para peserta yang mendaftar tersebut, baik dari instansi pemerintah, industri dan perusahaan-perusahaan yang ingin promosikan produk unggulannya. Sementara NTT sendiri tampil dengan potensi pariwisata, peternakan, pertanian dan perkebunan, perikanan dan kelautan serta kerajinan-kerajinan UKM lainnya, yang merupakan hasil karya putra NTT, kata Semuel Rebo.

Mengenai provinsi, dia mengatakan sebagai penyelenggara pameran sudah mendapat konfirmasi dari sejumlah provinsi yang ingin terlibat dalam pameran tersebut dan pesertanya akan bertambah.

Pemerintah Daerah Provinsi NTT berharap kegiatan expo sunda kecil tersebut sebagai salah satu ajang kontak bisnis antara pengusaha di NTT dengan pengusaha dari provinsi lain di Indonesia. 

“Kita berharap event ini masyarakat NTT yang bergerak pada usaha kecil, menengah dan pengusaha besar mampu menjalin kerjasama dengan pengusaha dari luar untuk melakukan kerjasama bisnis dari berbagai sektor usaha baik di NTT maupun di luar NTT,” katanya.

Selain itu keinginan pemerintah daerah Provinsi NTT untuk menghadirkan banyak investor sebagai salah satu upaya mendorong pertumbuhan ekonomi serta dapat menampung tenaga kerja produktif di NTT. Saat ini pemerintah daerah perjuangkan pembangunan pabrik garam yang akan menjadi lumbung garam nasional. Pemerintah melalui PT Garam (persero) telah membangun pabrik garam di Desa Bipolo Kecamatan Sulamu Kabupaten Kupang, NTT.

Meski baru dimulai Mei 2016, pihak PT Garam sudah memastikan, kualitas garam di lokasi yang berada di Teluk Kupang itu lebih bagus dari penyuplai garam nasional terbesar, yakni garam Madura di Jawa Timur. Bahkan, saat ini proses produksi garam di Bipolo menggunakan pola yang digunakan di Australia dan hasilnya bisa bersaing dengan produk garam dari Australia.

Secara terpisah Direktur Utama PT Garam Ahmad Budiono mengatakan, potensi yang ada di wilayah NTT dapat dikembangkan menjadi lumbung garam nasional seperti di Teluk Kupang mencapai 9.000 hektare dan PT. Garam sudah memulai pembangunan pabrik di lokasi seluas 400 hektare. Dibanding Madura yang saat ini sudah menggarap lahan seluas 5.000 hektare dengan produksi mencapai 345 ribu ton per tahun dan terbesar di Indonesia.

“Jika ikut sistem di Madura, maka kita punya di Bipolo sudah bisa panen dua sampai tiga kali. Tetapi karena kita ingin yang kualitasnya bagus, maka beberapa bulan dapat dipanen. Dengan luas lahan 400 hektare, dengan total nilai investasi Rp 10 miliar dan dapat menghasilkan garam 50.000 ton per tahun,”jelas Ahmad saat mendampingi Deputi SDA dan Jasa Kemenko Bidang Kemaritiman, Agung Kuswandono meninjau pabrik garam di Bipolo, belum lama ini.
Terkait kualitas garam di Bipolo, kata Ahmad, salah satu alasannya karena suhu udara di wilayah NTT lebih panas dibanding Jawa dan Madura, ditambah angin, sehingga air laut lebih cepat mengkristal dan menjadi garam. 

Keunggulan lainnya, NTT memiliki iklim panas selama sembilan bulan, sementara Jawa dan Madura hanya memiliki musim panas selama lima bulan. Sementara perbandingan lain adalah Australia dengan musim panas juga sembilan bulan, bahkan lebih.

Dengan beberapa keunggulan tersebut, pihaknya menggunakan sistem meja pengkristalan, sehingga garam yang dihasilkan akan lebih tebal dan tentu lebih berkualitas tembus dunia.

“Kualitasnya lebih bagus di NTT. Kita ini kayak gadis cantik, sehingga banyak yang ngantri. Menarik di Kupang, karena sebelum kita keluarkan produk, pemain garam sudah antre untuk beli. Bukan hanya mau beli, bahkan ada yang ngantre mau bangun pabrik juga,” kata Ahmad.

Deputi SDA dan Jasa Kemenko Bidang Kemaritiman, Agung Kuswandono saat meninjau lokasi pabrik garam tersebut mengakui, sistem yang dipakai di Bipolo berbeda dengan yang diterapkan di Madura yang menggunakan sistem padat karya.

“Kalau di sini sistemnya mekanis. Nanti orangnya tidak banyak, lahannya luas-luas, nanti panennya pakai alat atau mesin,”jelas Agung.

Dengan sistem dan pola kerja yang berbeda, Agung ingin produksi garam di Bipolo dapat dipasok untuk memenuhi kebutuhan garam industri yang selama ini belum terpenuhi. Pasalnya, saat ini Indonesia baru swasembada garam industri konsumsi.

“Padahal kebutuhannya bukan hanya industri konsumsi, tetapi ada juga garam untuk farmasi, industri dan lebih banyak lagi kebutuhan kita,”ungkapnya.

Selama ini produsen garam baru menyentuh proses dasar, yakni panen dan langsung dijual. Namun dia katakan, kali ini akan lebih panjang prosesnya untuk mendapatkan garam yang berkualitas. “Kita ingin dipanen lalu diolah, dibersihkan sehingga hasilnya kualitas lebih tinggi dan masuk dalam garam industri untuk subsidi garam yang selama ini diimpor,”katanya.

Agung akui, selama ini pemerintah lebih fokus pada garam di Jawa dan Madura. inilah saatnya untuk memaksimalkan potensi garam di Provinsi NTT, lalu ke NTB, Kalimantan dan Sulawesi. Bipolo, lanjut dia adalah bagian terkecil yang akan dikembangkan di NTT. Dengan besarnya peluang pengembangan produksi garam di NTT, sangat terbuka bagi perusahaan lain untuk menanamkan modal di NTT. 

“Kalau ada kendala di sisi administrasi, kerja sama, maka ada Kemenko Maritim, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan sebagai pemberi izin kita akan sinkronkan supaya bisa berjalan dengan lancar,”ujarnya.

Keseriusan pemerintah, lanjut dia terus dibuktikan dengan akan dibangunnya dermaga di Bipolo, tepat di depan lokasi pabrik garam. Menurut dia, setelah pabrik tersebut beroperasi normal, maka untuk mengangkut ribuan ton garam dari sana akan lebih mudah menggunakan jalur laut.

 “Kalau lewat darat, biayanya tinggi dan jalan masih sempit,”tambahnya.(RR/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password