breaking news New

SASTRA DALAM KESEKARANGAN

“De plicht van een mens in mens te zijn – tugas manusia adalah menjadi manusia” ( Multatuli).

Sastra dan panggilan kebersastraan merupakan pembacaan eksistensial kehidupan manusia. Ia menyangkut manusia dengan segala kandungan hakikat dan problem di dalamnya. Sastra dalam konteks ini tidak lagi berkutat dalam tataran ilmu ortodoksi melainkan mendarat dalam suatu otopraksis. Pembacaan yang mendalam terhadap realitas kehidupan manusia itu tidak hanya melibatkan logika, tetapi juga hati nurani yang utuh. Logika bersastra bisa menjadi acuan untuk melihat secara kritis dan revolutif terhadap kenyataan hidup manusia. Selanjutnya eksistensi hati nurani diperuntukkan untuk menguji daya kemanusiaan yang manusiawi. Ia menjelma dalam nilai empati, keadilan, kejujuran, dan pembelaan yang konkret terhadap manusia itu sendiri.

Keberpihakan menjadi salah satu kekhasan keberadaan sastra dalam ziarah kehidupan manusia. Sastra memihak manusia ketika berhadapan dengan kenyataan yang memenjarakan manusia. Pencaplokan kebebasan, penjajahan, penindasan, kemiskinan, pelecehan harkat dan martabat merupakan sederetan soal yang mesti dicatat dan diperjuangkan dalam kesusateraan. Mengenai hal ini Multatuli pernah mengafirmasi bahwa tugas seorang manusia adalah untuk menjadi manusia. Panggilan bersastra bisa menjadi panggilan mulia untuk mewujudkan apa yang pernah dilirihkan oleh Multatuli. Bersastra bisa menjadi cara yang manusiawi untuk memanusiakan manusia itu sendiri.

Pramodya Ananta Toer, seorang sastrawan terkemuka yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia pernah menyatakan bahwa panggilan hidupnya untuk menulis adalah untuk melakukan perlawanan dan mengajak orang untuk melawan. Perlawanan berarti suatu upaya manusiawi untuk membebaskan diri dari suatu cangkang penindasan dan pembredelan harkat dan martabat sebagai manusia. Lebih lanjut ia bersuara dengan lantang bahwa sastra semestinya menanggung tanggung jawab sosial terhadap kemanusiaan universal. Pramodya Ananta Toer telah membuktikan itu dengan suatu dedikasi dan totalitas untuk membebaskan manusia melalui sastra.

Selain Mencatat, Sastra Melawan Amnesia akut

Manusia mengalami multidimensi pengalaman yang terangkai dalam zirah hidupnya. Keberadaannya dipenuhi oleh sekian fakta dan imajinasi yang membentuk dan menegaskan ‘adanya’. Fakta penderitaan adalah suatu kenyataan yang hadir secara lahiriah dan rohaniah. Pergulatan dan kegelisahan batin untuk mencari kebenaran dan kebahagiaan adalah jenis penderitaan rohaniah-internal sedangkan secara lahiriah-eksternal dapat berupa pengalaman ketidakadilan dan penindasan struktural. Dalam hal ini keberadaan sastra dapat menjadi jalan yang membebaskan manusia dari dua belenggu yang menimpanya.

Karya-karya besar para sastrawan dunia juga tidak terlepas dari suatu keprihatinan untuk melawan aneka penderitaan yang dialami oleh orang-orang di sekitarnya. Sebagai misal Salman Rushdie yang berkarya untuk membela hak-hak etnis minoritas Kurdi, Mo Yan yang pernah menulis The Garlic Ballads (1988) mengisahkan para petani bawang berjuang menentang para pejabat korup, Nadine Godimer yang menulis The Conservationist sebagai bentuk protes terhadap politik apartheid, dan masih banyak lagi. Panggilan untuk berkarya bagi para sastrawan itu terbentang sebagai aksi konkret untuk membebaskan manusia dari segala kenyataan yang tidak manusiawi.

Bersastra merupakan jalan luhur untuk mengembalikan manusia dari kungkungan dan pemenjaraan jati dirinya. Saat kekuasaan menggeliat dan memporak-porandakan manusia, maka perjuangan sastra mesti menjadi lebih berani dan terbuka. Ia hadir untuk membela serentak mengangkat kembali harkat dan martabat manusia. Perjuangan melalui sastra juga tidak hanya berhenti pada tahap perlawanan, tetapi mesti terus bertahan untuk merawat kenangan. Penderitaan itu tidak boleh dilupakan melainkan dikenang sebagai suatu post-factum yang mengantar kesadaran kolektif manusia untuk tidak mengulangi lagi kenyataan pilu yang telah berlalu.

Kesekarangan Sebagai Locus

Kata sekarang mengindikasikan fakta tentang waktu yang benar-benar dan sementara berlangsung. Ia dikategorikan sebagai suatu tempus yang berada di antara waktu lampau dan waktu yang akan datang. Sekarang mengandung kejadian nyata. Dalam hal ini manusia yan berposisi sebagai subjek waktu sedang mengalami dan terlibat di dalam ‘sekarang’ itu. Adapun pengertian kesekarangan sebagai locus mengandung pengertian terdapatnya muatan unsur tempat di mana sesuatu yang benar-benar terjadi berlangsung di dalamnya. Lalu apa hubungan sastra dalam kesekarangan?

Pertanyaan ini dapat dijawab dengan baik apabila memutuskan bahwa sastra mesti berlangsung dalam waktu ‘sekarang’. Sastra dalam kesekarangan itu merupakan rangkaian kejadian yang berlangsung dari waktu lampau dan yang akan datang. Aneka peristiwa yang sedang dan benar-benar terjadi di dalamnya merupakan titik di antara yang sudah berlalu dan yang akan terjadi. Berkaitan dengan hal ini dapat dirumuskan dan diakui bahwa aneka peristiwa yang mewarnai hidup dan kehidupan manusia selalu berkenyataan kontinu. Manusia sebagai subjek sejarah ada dan mengalaminya.

Paul Budi Kleden mengafirmasi hal ini di mana bentuk-bentuk penderitaan yang menimpa manusia dalam waktu yang lampau hadir sebagai kenangan. Dalam arti kenangan adalah momen penghadiran yang terjadi karena desakan masa lampau ke masa sekarang. Demikianlah sastra memposisikan dirinya dalam sesuatu yang ‘sekarang’ untuk menghadirkan kembali kenangan peristiwa sebagai pijak refleksi ontologisnya menuju masa depan. Sastra yang selalu dalam ‘sekarang’ menempatkan manusia untuk kembali ke dalam dirinya yaitu menjadi manusia dalam adanya. Manusia yang tidak lupa mesti berada dalam kesekarangan untuk menoleh ke masa lampau dan siap melangkah ke masa depan dengan memilih dan memilih apa yang layak untuk keberlangsungan hidupnya.

Suatu kali Gabriel Garcia Marquez berujar; “Kita bisa memiliki apa yang kita inginkan, tetapi kita harus memperjuangkannya agar bisa menikmatinya dengan layak.” Kebersastraan manusia dalam kesekarangannya patut memperjuangkan hal-hal yang dikehendakinya dengan mengacu pada alur kenangannya di waktu lampau. Kebersastraan yang demikian menjembatani manusia untuk mengatakan apa yang terjadi di waktu lampau dan mengambil kepastian untuk menjalani kehidupan yang akan datang. Tentu saja manusia tidak akan berhenti dan puas dengan kenyataan yang ada sebab ia selalu merasa ada yang kurang di dalam hidupnya. Dalam hal ini bersastra dapat menjadi jalan yang membebaskan manusia dari segala penderitaan menuju kemerdekaan dalam hakikatnya, yang berarti manusia menghayati dengan baik tugasnya untuk menjadi manusia.***

Oleh: Ardi Suhardi. Aktif di Komunitas Teater Tanya Ritapiret dan Komunitas KAHE Maumere. Sejumlah puisinya tersebar dalam antologi FAM Indonesia, Antologi Kartini Komunitas Joebawi, media Flores Pos, Pos Kupang, Warta Flobamora, Jurnal Santarang, Jurnal Linear, Lokerpuisi.com, Lpmarena.com, Voxmuda.com, Floresa.co, Floressastra.com, dan Floresmuda.com. Buku puisi perdananya berjudul Minggu Pagi.

4 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password