breaking news New

Imperatif Kategoris Kant vs Prostitusi Anak

Oleh: Hiro Edison 

​Salah satu informasi akhir-akhir ini, yang menjadi perhatian masyarakat Indonesia ialah kasus kekerasan terhadap anak. Apa yang terjadi di Bogor akhir-akhir ini, prostitusi anak buat gay yang dilakukan oleh AR (baca; http://www.merdeka.com/peristiwa/hanya-27-dari-99-korban-muncikari-ar-masih-di-bawah-umur.html) menjadi tanda bahwa persoalan seputar kemanusiaan belumlah hilang dari negeri ini. Bayangkan saja, anak-anak dengan jumlah yang tidak sedikit menjadi korban kasus itu. Mereka menjadi korban kebejatan dan kekejaman sesama manusia. Mereka menjadi orang yang tidak memiliki masa depan lagi.

​Banyak kalangan mengatakan bahwa semua itu terjadi oleh karena minim atau kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak. Sebuah tafsiran yang sangat benar di satu sisi namun patut juga diverifikasi pada sisi yang lain. Benar bahwa tugas pertama dan utama para orang tua ialah mendidik dan mengawasai pertumbuhan dan perkembangan anak-anak mereka. Tugas itu tidak akan pernah digantikan oleh siapapun.

​Tugas orang tua untuk mendidik dan mengawasi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya menyentuh dunia pendidikan di sekolah dan masyarakat. Sekolah dan masyarakat merupakan ranah sosial tempat anak-anak belajar sekaligus mendapatkan pelajaran dan sosialisasi. Sekolah dan masyarakat dengan demikian menjadi agen sosialisasi yang dialami dan diterima oleh mereka. Peran dan fungsi kedua agen sosialisasi secara mendasar bersifat partisipatif dalam tugas dan peran orang tua. Partisipatif tidak hendak mengatakan bahwa peran lembaga sekolah dan masyarakat dalam mendidik dan mengawasai pertumbuhan dan perkembangan anak-anak hanya sebagai pelengkap. Yang hendak dikatakan ialah peran mereka sama pentingnya dengan peran yang dijalankan para orang tua.

​Kasus yang menimpa para anak di Bogor, jika ditilik lebih jauh sesungguhnya lahir dari lemah dan minimnya fungsi pengawasan sekolah dan masyarakat. Mengapa demikian? Alasan yang diungkapkan bisa beragam. Saya pun tidak hendak mengajak Anda untuk melihat semua kemungkinan jawaban yang akan diberikan. Saya hanya ingin mencoba untuk meneropongnya perihal minim dan lemahnya penghargaan masyarakat dalam menghargai setiap pribadi dalam kaitannya dengan kategoris imperatif Imanuel Kant.

​Imanuel Kant adalah seorang Filosof berkebangsaan Jerman. Perannya dalam dunia Filsafat sangat penting. Dia dikenal dengan teorinya tentang Kritik atas Rasio Murni. Dari dia kita juga mengenal apa yang sampai saat ini dikenal secara luas dalam masyarakat yaitu imperatif kategoris. Ia mengatakan bahwa, “manusia harus sekaligus menjadi tujuan dalam dirinya sendiri dan bukan sebagai sarana”. Artinya jelas yaitu semua nilai dan peraturan dalam hidup bersama haruslah berorientasi pada manusia dan bukan manusia menjadi sarana guna mencpai tujuan dan nilai dalam hidup bersama. Kesadaran demikianlah yang masing kurang dihidupi dan ditumbuhkan dalam masyarakat kita teristimewa di Bogor. Bogor menjadi contoh oleh karena di sanalah terjadinya kasus yang sangat kejam yakni prostitusi anak buat gay yang menimpa puluhan anak. Tentu hal itu terjadi juga di tempat-tempat yang lainnya namun hal itu bukan menjadi fokus kita saat ini.

​Imperatif kategoris yang diungkapkan Kant sungguh tak bergema bagi pelaku kejahatan eksploitasi anak di Bogor juga bagi warga sekitarnya. Bisa dibayangkan. Di mata para pelaku (AR), anak-anak itu hanya dijadikan sebagai komoditi guna mendapatkan uang dan keuntungan. Mereka tidak lagi diperlakukan sebagai manusia yang secara intrisik mengandung nilai untuk dihormati dan dihargai. Bagi AR puluhan anak itu tidak lebih dari sarana dan media yang dapat digunakan dan dilepas jika tidak menguntungkan lagi. Sebuah bentuk tindakan dan sikap yang sangat tidak manusiawi.

​Peran masyarakat sekitar lokasi kejadian pun pantas kita pertanyakan. Mengapa mereka diam dan juga tidak bersuara berkaitan dengan tindakan yang tidak manusiawai itu? Aksi diam itu seakan menjadi tanda bahwa gaya hidup egoistis dan individualistis telah berakar dalam diri masyarakat. Gaya hidup itu menyata dalam tertutupnya mata, mulut, dan telinga terhadap fenomena kehidupan sekitar. Tidaklah mengherankan jika masalah yang meninmpa puluhan anak itu dibiarkan begitu saja. Tanggung jawab mereka untuk menjaga pertumbuhan dan perkembangan anak dalam masyarakat tidak tampak dan bahkan absen. Sebuah fenomena yang patut disayangkan. Oleh karena itu, berkaca pada fenomena yang terjadi di Bogor kita pantas bertanya dan mempertanyakan kembali peran masyarakat bagi anak-anak sekaligus berusaha untuk menjawabnya. Sebab bukan rahasia bagi kita untuk berbicara tentang banyaknya kasus dan pelanggaran yang menimpa dan menyerang anak-anak.

​Dari uraian di atas kita akhirnya dapat menarik kesimpulan bahwa imperatif kategoris Kant pertama-tama bertujuan menjunjung tinggi nilai manusia dengan segala martabatnya sebagai pribadi. Manusia secara instrinsik mengandung sekaligus nilai dan tujuannya dalam dirinya sendiri. Tidaklah dibenarkan segala bentuk tindakan yang menjadikan hidup manusia hanya sebagai sarana apalagi komoditi. Jika itu yang terjadi maka kehidupan manusia sungguh digiring pada nilai terendah yang tidaklah lebih dari apa yang diperlakukan terhadap binatang. Oleh karena itu, perlakauan AR dalam kasus prostitusi anak di Bogor sungguh mengungkapkan sebuah kekejaman sekaligus kebengisan manusia. Sikap dan tindakannya pantas kita kutuk dan tentang guna menjaga masa depan dan kehidupan yang bebas bagi anak-anak. Dari Kant kita belajar untuk mengatakan bahwa tindakan yang ditunjukkan oleh AR tidaklah dapat dibenarkan kapan dan dimanapun.

233 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password