breaking news New

Meluruskan Pemahaman Masyarakat tentang Radikalisme

Kata radikal atau kelompok radikal sering kali dilabeling oleh masyarakat awam sebagai perkataan atau kelompok yang bersifat negatif. Radikal sering kali ditandai dengan kekerasan. Sebelum menghakimi Radikal adalah tindakan yang buruk, perlu diketahui tentang asal usul arti kata Radikal. Radikalisme atau Radikal berasal dari bahasa latin yaitu radix yang artinya akar, kemudian isme yaitu paham, maka dapat disimpulkan Radikalisme merupakan berpikir atau memahami suatu permasalahan sampai ke akar-akarnya.

Berpikir secara radikal sangatlah perlu artinya dalam memahami atau menghadapi suatu masalah tidak mudah terbawa arus dan sekedar ikut-ikutan seperti paduan suara. Berpikir secara radikal merupakan cara untuk mengetahui mengapa suatu permasalahan dapat muncul atau suatu kelompok melakukan aksi protes. Membiasakan otak berpikir secara radikal dapat membantu menemukan sebab kemunculan permasalahan yang tidak hanya memandang penyebab suatu masalah melalui satu pintu atau sudut pandang yang menjadi keyakinan mayoritas masyarakat.

Sebagai contoh ketika ada seorang lelaki di bawah umur memperkosa seorang gadis, tindakan anak lelaki merupakan tindakan kriminal, namun perlu diketahui apakah anak lelaki ini memang murni melakukan pemerkosaan tanpa ada pengaruh apapun? Dalam kasus ini, kita jangan hanya memandang si anak lelaki sebagai tersangka namun harus juga sebagai korban, mengapa? Sebelum memvonis sebagai tersangka, anak lelaki ini harus diperiksa terkait kegiatan apa yang dilakukan sebelum memperkosa seorang gadis. Misal, sebelum memperkosa dia menonton film dewasa atau pengaruh minuman beralkohol. Jika benar si pelaku dibawah pengaruh-pengaruh tersebut, maka yang patut disalahkan adalah pihak yang bertanggungjawab terkait peredaran film dewasa atau menjual minuman beralkohol ke anak-anak yang belum cukup umur. Justru bisa dikatakan bahwa si pelaku merupakan korban, karena kelalaian pihak yang bertanggungjawab .

Contoh kasus di atas merupakan bukti bahwa berpikir secara radikal atau berpikir sampai ke akar permasalahan adalah suatu tindakan yang penting dalam kehidupan, bagaimana status tersangka bisa berubah menjadi korban apabila setiap kasus tidak dipandang melalui satu sudut pandang saja.

Radikalisme tidak hanya dapat diterapkan dalam kasus di atas, namun dapat juga diterapkan dalam memandang kelompok-kelompok di Indonesia. Banyak kelompok di Indonesia disebut sebagai kelompok radikal, penyebutan ini sering kali diberikan kepada kelompok-kelompok yang berbasis agama. Apalagi yang paling parah adalah masyarakat awam hanya mengetahui Islam adalah agama yang memiliki kelompok radikal. Pemahaman yang salah kaprah sudah mendunia dan tersebar ke seluruh penjuru dunia melalui media massa yang terlalu membesar-besarkan dalam pemberitaan.

Perlu diketahui bahwa kelompok radikal tidak hanya dimiliki oleh agama Islam, tetapi semua agama samawi memiliki kelompok radikalnya masing-masing. Sebenarnya kelompok radikal dalam agama tidak menyebabkan kerugian, namun kelompok ini hanyalah ingin mengembalikan kehidupan beragama sesungguhnya yang sesuai dengan koridor-koridor yang telah diatur oleh masing-masing agama. Namun, sejak dulu kelompok radikal dalam agama selalu diiringi oleh aksi-aksi yang tidak mengindahkan peraturan dan merusak apa yang seharusnya tidak dirusak. Akibat aksi-aksi negatif yang dilancarkan oleh kelompok-kelompok radikal, akhirnya berujung pada pemahaman radikal yang dikemas negatif oleh masyarakat awam. Pemahaman ini sudah mendarah daging dan sangat perlu diluruskan bahwa radikal bukanlah sikap yang anarkis, justru dengan berpikir radikal kita dapat memperbaiki penyakit-penyakit kronis karena diobati mulai dari akar-akar permasalahan.

Tulisan ini lebih menekankan pada pemahaman masyarakat awam yang salah mengenai kata radikal. Sama sekali tidak mengurangi hak berpendapat atau berbicara setiap individu, namun alangkah cantiknya kalau setiap individu lebih kritis terhadap suatu permasalahan dan tidak sekadar menjadi follower. Apabila setiap individu dapat berpikir secara radikal, Indonesia akan menjadi negara yang damai bebas dari konflik antar suku, ras dan agama yang mana masyarakat tidak mudah terbawa arus karena dapat berpikir secara jernih dan kritis melalui cara berpikir radikal.

Oleh: Umu Nusaibah, Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Jakarta. 

6 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password