breaking news New

“Ria Rago” Lembah Ndona di Dunia Maya: Film Roman Adat-Religi Flores tahun 1930-an

Kabarnusantara.net – Maret 1930. Dua puluh tujuh peti berisi tiga kamera, ribuan meter stok film nitrat, dua proyektor, generator listrik dan peralatan cuci-cetak film tiba di Ende, Flores. Hari ini, setelah lebih dari 80 tahun kemudian, seluruh dunia masih bisa melihat hasilnya lewat internet.

Tidak lama sesudah Loetoeng Kasaroeng (1926) dibuat di Bandung, tiga film rekaan dari Flores diluncurkan oleh Societas Verbi Divini (Soverdi) di Belanda. Ria Rago adalah film rekaan pertama yang diluncurkan Soverdi. Soverdi bukanlah perusahaan produksi film biasa, melainkan sebuah ordo (perkumpulan rohaniwan) dari gereja Katolik.

Antara tahun 1925-1933, pastor Simon Buis SVD, menghasilkan tiga film perjalanan dan tiga film cerita rekaan yang diputar oleh Soverdi di berbagai kesempatan penggalangan dana di Belanda dan sekitarnya. Dua dari tiga film cerita karya Pastor Buis ini masih dapat kita saksikan secara lengkap, hasil rekonstruksi EYE Film Institut.

Soverdi membuat film dengan tujuan menggalang dana untuk misi. Film perjalanan Flores-Film: Reis naar Insulinde en Missie op Flores Nederlands Oost-Indië (1925) karya Pastor Simon Buis SVD berhasil menyedot perhatian penonton. Saat diputar di ruang serbaguna Tivoli di Utrecht yang berkapasitas 2.000 kursi, film perjalanan ini selalu penuh penonton selama seminggu dengan frekuensi pemutaran tiga kali sehari.

Setelah berhasil dengan film perjalanan, Soverdi mencoba bentuk lain: film cerita. Skenario film dikembangkan berdasarkan kisah nyata yang direka-ulang.

Demi menghasilkan karya-karya film yang mengesankan umat, ordo SVD mengerahkan pastor-pastornya untuk menempuh pendidikan sinematografi. Buis, sebagai pastor-pembuat film sukses, dikirim ke New York pada tahun 1929. Menurut catatan biografinya, di sana ia menamatkan pendidikan sinematografi yang setara dengan tiga tahun sekolah hanya dalam tiga bulan saja.

Pastor Simon Buis, SVD (1892-1960) adalah tokoh penting bagi komunitas Katolik Indonesia, terutama di wilayah Flores, Bali dan sekitarnya. Ia ditugaskan merintis komunitas gereja Katolik di beberapa wilayah daerah ini. Pastor Buis sempat ditahan oleh tentara pendudukan Jepang. Ia tetap tinggal di wilayah Indonesia sampai tahun 1951 dan kemudian kembali ke Belanda.

Seperti juga banyak film yang diproduksi pada periode pra-kemerdekaan di Indonesia, film-film Soverdi dihasilkan oleh tim kerja campuran antara orang Eropa dan orang setempat. Percampuran ini kiranya bukan sekadar siasat penghematan biaya seperti yang lazim dilakukan oleh produser film komersial dalam pembuatan film-film fantasi eksotis seperti Tabu (Murnau & Flaherty, 1932) atau Goona-Goona, An Authentic Melodrama of the Island of Bali/Kriss the Sword of Death (Armand Denis & Andre Roosevelt, 1932). Dalam hal film-film Soverdi, keterlibatan pemain lokal adalah mutlak untuk menciptakan gambaran otentik kehidupan masyarakat lokal di wilayah kerja ordo SVD.

Ada dua hal yang menjadi prioritas saat Uskup Nusa Tenggara Monsinyor Arnold Verstraelen, SVD (1882-1932) menugaskan pembuatan film-film rekaan dari Flores: ketepatan detil etnografis dan perlakuan yang peka terhadap warga lokal. Karena itu Soverdi tidak mau merekrut kru film profesional dari Belanda dan memilih melatih para pastor menjadi kru untuk dikirim ke lokasi.

Pastor Buis tidak sendirian. Bersamanya, Pastor Pieter Beltjens, SVD ditugaskan belajar khusus soal penggunaan kamera dan selama tiga bulan magang di laboratorium film di Chicago sampai menemukan cara yang cocok untuk menghasilkan gambar di atas film nitrat di tengah lingkungan tanah tropis bergunung api.

Proses Pembuatan Film Ria Rago

Adegan-adegan di lokasi dibuat pada pagi hari, antara jam 10 sampai jam 1 siang. Lepas dari itu sinar matahari sudah kelewat terik. Pengambilan gambar selalu dilakukan empat hari sepekan, mulai Senin sampai Kamis. Pastor Beltjens mencuci film negatif setiap hari, memeriksa apakah tiap adegan terekam dengan jelas, sembari menyiapkan bahan pemutaran untuk akhir pekan. Tiap hari Minggu sore sehabis ibadat, para pemain dan kru film berkumpul menonton hasil pengambilan gambar pekan itu.

Ritual ini berjalan selama tiga bulan. Pastor Buis kadang harus pulang dari lokasi dengan tangan hampa. Para pemeran tak selalu taat jadual dan mangkir karena pergi mencari ikan atau bekerja di ladang. Ada kalanya, mereka juga sedang malas main film dan pura-pura sakit. Di hari-hari seperti ini, Pastor Buis harus mendatangi rumah pemeran dengan membawa oleh-oleh demi membujuk para aktor. Kadang, meskipun semua kru dan pemeran lengkap terkumpul, Ria Rago tak bisa menahan tawa sehingga pengambilan gambar untuk adegan yang serius atau sedih harus diulang.

Tanggapan dan Reaksi Media 

“Inderdaad inlanders… en van welk allooi!”

Desember 1930. Pada pagi yang dingin itu para wartawan berkumpul di gedung teater Flora, Utrecht. Asosiasi wartawan Katolik Belanda (De Nederlandsche Rooms-Katholieke Journalistenvereeniging) mengadakan pemutaran khusus untuk publikasi film Ria Rago. Pastor Beltjens hari itu bertugas menggantikan sutradara Pastor Buis yang masih berada di Flores untuk mendampingi Uskup Nusa Tenggara dalam konperensi pers. Mereka harus meyakinkan para wartawan bahwa film ini dibuat semata-mata untuk menunjukkan betapa penting dan berat misi yang mereka hadapi di Flores sehingga perlu dukungan umat dari Belanda.

Reaksi koran-koran Belanda terhadap Ria Rago menggambarkan dengan jelas bagaimana masyarakat Belanda saat itu membayangkan Hindia sebagai wilayah koloni.

Koresponden koran sore De Tijd, koran Katolik tertua Belanda, menulis: “Film baru ini menunjukkan bagaimana kasih Kristiani dapat mengatasi kekejaman para penyembah berhala.” Artikel ini diikuti kisah panjang tentang perjuangan Pastor Buis dan Beltjens menaklukkan tantangan alam Flores demi menghasilkan Ria Rago. Jelas bahwa De Tijd berusaha keras mendukung upaya penggalangan dana Soverdi.

Tak cuma mendapat pujian dari koran Katolik, Ria Rago pun nampaknya memukau kalangan liberal Belanda. Koran Algemeen-Handelsblad menulis, “… Ria Rago jelas bukan film bertendens yang membuat penonton jengkel karena dijejali informasi berlebihan yang diolah dengan berat-sebelah… [Film ini] berselera tinggi dan tak melebih-lebihkan, meskipun tetap membuat kita jeri akan kekejaman orangtua [Ria]. Kerja para misionaris tampil dengan halus sebagai latar dengan tetap menonjolkan kehidupan masyarakat kampung yang diperlihatkan dengan akurat.” Resensi yang sama juga terbit satu bulan kemudian di koran Soerabaiasch-Handelsblad.

Tentu saja, tidak semua koran bereaksi positif. Het Volk, harian serikat pekerja Katolik dari Belgia, sama sekali tidak bersimpati pada film ini. “Meskipun dari sudut pandang budaya upaya ini harus dihargai, kegagalannya harus dicatat. Kegagalan [film ini terlihat] baik dari sisi sinematik maupun propaganda.” Skenario Ria Rago dianggap sangat lemah, lebih mirip laporan kerja misionaris yang ditulis ulang menyerupai karya sastra. 

Komposisi gambar-gambarnya pun dianggap sangat buruk karena banyak detil wajah yang terpotong akibat kesalahan framing. Pencahayaan gambarnya dinilai buruk dan terlalu minim close-up. Bagi Het Volk, film ini tak lebih dari kumpulan gambar yang disambungkan secara serampangan dan diberi arti oleh intertitel (teks antara dua gambar) yang terlalu nyinyir. Het Volk menyimpulkan bahwa kegagalan Ria Rago adalah akibat Soverdi tak mau mempekerjakan kru film ahli.

Meskipun tanggapan para wartawan mengenai Ria Rago berlawanan, nampaknya semua setuju bahwa elemen musik yang mengiringi adegan upacara adat membuat film ini terasa sangat otentik dan istimewa.

Ria Rago berkeliling dari komunitas ke komunitas di Belanda, Belgia, Jerman, Inggris, Irlandia dan Amerika Serikat dan memicu banyak diskusi tentang kondisi perempuan (Katolik) di komunitas adat. Di luar tanggapan tentang mutu sinematik atau cerita film, tanggapan terhadap Ria Rago juga memperlihatkan bahwa film ini sangat berhasil menempatkan masyarakat lokal sebagai sorotan utama. 

Koresponden koran Limburgsch Dagblad, melaporkan pada Desember 1935, bahwa sesudah pemutaran di Polytechnical Theatre London muncul komentar di koran Katolik lokal The Universe, “… bahkan Hollywood atau Paris belum pernah seberani Ria Rago menempatkan warga asli sebagai pemeran utama dalam film cerita.” Wartawan Limburgsch Dagblad pun mengamini dan menulis, “Inderdaad inlanders… en van welk allooi!” (Mereka memang inlander… dan [mereka] luar biasa!).

Berita dan tanggapan tentang Ria Rago terus muncul di media massa Katolik hingga tahun 1936, sampai Pastor Buis meluncurkan film rekaan kedua yang dibuatnya di Flores, Amorira.

Selain berita mengenai pemutaran film dan resensi, Ria Rago juga sempat menjadi tajuk utama di media massa nasional.(http://filmindonesia.or.id/article/lembah-ndona-di-dunia-maya-roman-adat-relijius-ala-flores-tahun-1930-an#.V9b0rJ8VbqA/RR/KbN)

137 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password