breaking news New

Kapten Bram, Pelaku Utama Perdagangan Manusia di Indonesia

Jakarta, kabarnusantara.net – Abraham Louhenappessy alias Kapten Bram ternyata merupakan pelaku utama kasus perdagangan manusia (human trafficking) di Indonesia selama ini. Hal itu disampaikan pemerintah Australia setelah ditangkapnya Kapten Bram oleh jajaran Subdit III Ditipidum Bareskrim Polri. Pemerintah Australia juga menyampaikan terima kasih kepada Kepolisian Indonesia. 

“Kami tahu bahwa Kapten Bram merupakan pemain utama dalam jaringan penyelundupan manusia di seluruh Indonesia dan kami mengucapkan selamat kepada Polisi Nasional RI atas tekad mereka untuk menghentikan penjahat ini membahayakan nyawa orang-orang rentan lainnya,” demikian disampaikan Menteri Imigrasi Australia Peter Dutton dalam statemen seperti dilansir kantor berita Reuters, Sabtu (24/9/2016).

Menteri Kehakiman Australia Michael Keenan menyebut Kapten Bram sebagai penyelundup terkenal, namun ia tidak bekerja sendiri. 

“Kami sangat senang karena penyelundup manusia yang terkenal ini telah dihentikan… namun kami tahu masih ada penjahat-penjahat penyelundup manusia lainnya di luar sana dan kami akan terus bekerja sama dengan mitra-mitra regional kami untuk membawa mereka ke pengadilan,” tutur Keenan dalam statemen bersama dengan Menteri Imigrasi Australia Peter Dutton seperti dilansir detik.com

Kapten Bram ditangkap di Jakarta Barat pada Kamis, 22 September dan akan dipindahkan ke Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur untuk diadili karena ia adalah DPO Polres Rote.

“Pelaku ini ditangkap kemarin, 22 September 2016 lalu di kawasan Semanan, Kalideres, Jakarta Barat. Dia bekerja mengkoordinir para pencari suaka asal luar negeri dan dibawa ke Selandia Baru,” kata Sulistiyono di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Jumat (23/9/2016).

Sebelumnya, Kepala Penyidik Subdit III Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Kombes Sulistiyono mengatakan, Kapten Bram ditangkap setelah polisi melakukan pengembangan terhadap kapal pengangkut yang berangkat dari Tegal, Jawa Tengah pada Mei 2015 dengan tujuan Selandia Baru. Kapal tersebut dicurigai mengangkut 65 imigran yang berasal dari Bangladesh, Myanmar dan Srilanka.

Kasus tersebut bermula pada Mei 2015 saat Kapten Bram dan sepuluh pelaku lainnya memberangkatkan para pencari suaka secara ilegal ke Selandia baru. Setiap pencari suaka diminta membayar US$ 4.000 hingga US$ 8.000. (Hipatios/KbN)

1 Comment

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password