breaking news New

SEKULARISME, SEKULARISASI DAN AGAMA

Agama hendaknya menjadi batu kokoh yang berdiri tegak untuk melawan arus dunia. Ia memang harus berenang berlawanan arah. 


Pengantar

Berbicara tentang sekularisme, sekularisasi dan agama menjadi pusat perhatian manusia. Sekularisme berbicara tentang “wajah dunia” kita. Sekularisme melahirkan antipati terhadap agama. Aguste Comte menguraikan tiga teori tentang perkembangan umat manusia. Ketiga tahap itu adalah; pertama, tahap teologis. Tahap ini bercokol pada paradigma bahwa Allah adalah sumber segala-galaNya. Namun ini masih dilihat dalam tahap rendah. Tahap kedua adalah, tahap metafisis. Bagaimana mengurai konsep abstrak tentang dunia dan manusia. Dan tahap kulminasinya adalah tahap positif atau ilmiah. Awalnya titik kesadaran yang lahir dalam setiap insan untuk membongkar kedalaman diri melalui tahap ilmiah. Suatu hal dapat diuji validitas dari kedalaman ilmiah. Rasio manusia mendapat tempat urgen dalam mengambil sesuatu kebijakan.

​Berbarengan dengan apa yang terkuak tadi, dapatlah kita mengafirmasi bahwa manusia sedang berenang dalam tahap ini. Manusia dikompasi oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang diciptakannya sendiri. Jelaslah bahwa agama bukan lagi menjadi domain unsure (unsur utama) dalam hidup manusia. Agama seolah-olah menjadi sebagai penghias untuk membuktikan dirinya bahwa ia masih beragama. Dunia tidak lagi memerlukan agama untuk menunjukkan dirinya. Sekularisme justru tumbuh subur di sini. Sekularisme in-se ingin mencabut hal-hal yang bersifat ilahi ke hal-hal profan. Dengan demikian apakah agama tutup perannya di sini? 

​Serempak dengan itu agama tidak tutup mata. Ia memposisikan dirinya sebagai the truth. Ia terus meneriakkan kebenaran sebagai unsur hakiki yang harus dihidupi manusia. Agama tetap pada dirinya mengimani dan mengamini Tuhan di atas segala-galanya. Antara mengimani Tuhan dan mengimani dunia merupakan hal yang sangat paradoksal. Karena adanya sebuah pembatas di mana yang satunya mentrasendensi akan yang “ilahi” dan yang lainnya mentransendensi diri sebagai yang aku yang ilahi. Bahwa Tuhan=tuan. Inilah sebuah gejala yang lama-kelamaan akan menjadi bom yang meledak dalam hidup manusia. Kekuatan sekularisasi seolah-olah menjadi penengah. Kendati pun ia mengamini akan kehadiran hal-hal sekular (dunia), ia juga tidak menyangkal kehadiran yang “ilahi”. Atau dengan lain perkataan, ia tetap mengamini Tuhan itu sendiri. Ia seolah-olah berwajah ganda. Kadang sebagai berkat dan kadang sebagai kutukan. Buktinya saja dalam sains dan teknologi yang merambah dunia sekarang.

Antara Sekularisme, Sekularisasi dan Agama

​Pada awalnya agama mendominasi kehidupan manusia. Otoritas agama sangat kuat dalam hidup manusia. Tata kala feed back dengan pengalaman getir masa lalu. Saat itu muncullah toko Galileo Galilei, seorang sarjana Fisika. Ia dibunuh oleh Gereja karena telah mereduksi keimanan Gereja yang meyakini bahwa bumi adalah pusat tata surya. Gereja sangat menutup diri terhadap perkembangan peradaban manusia yang ingin mencari tahu segala sesuatu. Berkaitan dengan masalah ketidaksakralan agama adalah bagaimana arah hidup manusia di dekade tarakhir. Dengan artian bahwa persoalan-persoalan suci sepanjang perguliran sejarah, telah kehilangan nilai dan entitasnya, posisinya telah diambil alih oleh daya rasio yang menyanjungkan kualitas intelek manusia. Nilai-nilai kesucian hingga pada batasan tertentu mampu bertahan dalam menghadapi segala problem umum, akan tetapi setelah beberapa lama kemudian, sebagaimana yang nampak di dunia Barat, masyarakat lebih mengutamakan hal duniawi yang bisa menjamin kebahagiaan. Dari situ ada sebuah gejala bahwa agama tidak mutlak benar. Ada sesuatu dalam diri manusia yang bisa menunjang kebenaran yang belum bisa dibuktikan oleh agama.

Setelah dibuktikan secara ilmiah, ternyata teori yang dia ungkapkan mengandung kebenaran. Gereja tidak bisa memfakum diri dengan dunia. Dari situlah muncullah keinginan untuk menghargai hal-hal duniawi. Maka sekularisasi lahir dengan mencoba mengedepankan hal-hal yang bisa dibuktikan secara ilmiah. Dan sains dan teknologi pun muncul. Itulah yang dinamakan sekularisasi. Dalam dirinya menjelmalah sains dan teknologi. Aksentuasinya ia tidak menyangkal akan yang Ilahi. Ini pun dipertajam oleh Albert Einstein yang bergumam “agama tanpa sains adalah buta dan sains tanpa agama adalah lumpuh”. Ini mengindikasikan bahwa Gereja harus bisa membuka diri terhadap perkembangan dunia. Manusia dianugerahi akal budi untuk berpikir. Hanya hewan yang bisa mengatakan bahwa akal budi tidak penting karena mereka makhluk yang tidak mempunyai akal.

Suatu kecemasan umum bahwa, saking derasnya arus sekularisasi maka orang tidak bisa membedakan lagi mana hal duniawi dan mana hal rohani. Adanya desakralisasi keagamaan. Hal yang dianggap tabu oleh agama kini disembah oleh dunia. kalau agama melarang umatnya melakukan aborsi, kloning, dan seks bebas dan sederetan perbuatan yang amoral lainnya. Namun itu terus diamini dan diimani oleh dunia. Maka muncullah sekularisme. Sekularisme adalah kondisi di mana manusia tidak mengagungkan akan kehadiran yang Ilahi. Malah ia mendewakan diri dan dunia. Agama justru penghalang manusia untuk bisa berkembang. Inilah gejala alienasi diri dari kehadiran Allah. 

Penutup

Dapat dikatakan bahwa antara sekularisasi dan sekularisme kedua hal yang berbeda. Paham yang mengatakan bahwa sekularisasi sebagai biang keladi munculnya dekadensi moral adalah sebuah paham yang tidak bisa dibenarkan. Sekularisme yang kita bisa tolak. Terlalu ekstrim dan naif kalau kita katakan bahwa sekularisme dan atheis adalah sahabat akrab. Mereka merupakan dua saudara kembar yang kalau dipelihara dan disirami dengan subur justru bisa melahirkan dunia yang mendewakan diri sendiri dan barang duniawi. Apakah sekularisasi juga bernada positif? Tidak bisa seratus persen ya. Karena sungguh bahwa ia kadang berwajah ganda. Bisa berperan sebagai kutukan atau sebagai berkah bagi kehidupan manusia. Lalu di manakah agama?

Kita mungkin pernah melihat mata uang logam. Kurang lebih seperti itulah agama dan dunia. Agama hendaknya menjadi batu kokoh yang berdiri tegak untuk melawan arus dunia. Ia memang harus berenang berlawanan arah. Ketika ia berdiri kokoh, maka segala macam arus yang menghempas bangsa bisa dinafikkan demi menjunjung nilai kemanusiaan. Dan bukan malah sebaliknya ia justru lebih sekuler dari sekularisme. Kendati pun ia berenang bersama di dunia namun tidak berarti ia terlarut bersama arus dunia. kendati pun terhanyut hendaknya tidak terlarut. Sehingga kita melihat dunia sebagai keluarga kita. 

Oleh: Eugen Sardono, Mahasiswa di Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang. 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password