breaking news New

Damai dan Kekerasan

Dalam sebuah adagium Latin klasik diungkapkan “Bellum pacis pater”-perang adalah bapak dari perdamaian. Ungkapan khas ini muncul tatkala negara lemah diintimidasi oleh negara yang berkuasa. Untuk mencapai semuanya perang adalah the right way. Tetapi ketika ungkapan ini terus didendangkan, itu hanyalah sebuah bentuk legitimasi terhadap intimidasi. Bahaya intimidasi membias pada pelbagai sampul orientasi. Keinginan kelompok atau negara dalam mendominasi kekuasaan semakin merambah dan terus menghantam tubuh dunia.

Deklarasi ISIL mendirikan kekhalifahan yang dimotori Abu Bakr al-Baghdadi dan mencaplok daerah-daerah Suriah dan Irak tidak memiliki legitimasi. “Konsep khalifah sekarang merupakan bagian dari sejarah Islam. Konsep ini sudah diganti dengan negara- bangsa dan demokrasi. Itu berarti [kekuasaan] tidak terpusat di bawah kepemimpinan satu orang,” kata Komaruddin kepada Khabar Southeast Asia. Kekuasaan itu sendirilah yang melahirkan kekerasan. Dapat kita ikuti terus juga BEIRUT – Kelompok Islamic State in Iraq and Levant (ISIL) menguasai penuh seluruh kilang minyak dan gas milik Suriah di Provinsi Deir Ezzor. Lokasi tersebut sangat strategis dan berbatasan dengan Irak. Berkuasanya ISIL atas kilang minyak Suriah tidak lepas dari pengumuman mereka yang telah membentuk kekhalifahan Islam di Suriah dan Irak. ISIL juga terus melakukan perlawanan terhadap kedua pemerintahan di negara itu. 

“ISIL mengambil kilang Tanak di lokasi Gurun Sheiyat di Provinsi Ezzor,” menurut yrian Observatory for Human Rights, seperti dikutip AFP, Sabtu (5/7/2014). Israel pun tak kalah dan terus menyerang jalur Gaza. Sampai saat ini mereka terus mencaplok jalur Gaza dan membombardir anak-anak dan juga kaum perempuan. Begitu banyak memakan korban dari aksi kekerasan yang terus mereka lakukan. 

Berbarengan dengan berita di atas, tokoh Mahatma Gandhi tampil beberapa tahun yang lalu menyerukan perdamaian. Ia menyerukan ahimsa. Perdamaian adalah jalan menuju ketertiban hidup bersama. Kendati pun kebebasan ada di tangan manusia, justru kebebasan itu akan membuatnya diikat oleh keterbelengguan. Manusia salah kaprah, menggunakan kebebasannya untuk “menghantam” kelemahan sesama. Kebebasan yang salah digunakan menciptkan pola relasi subjek-objek. Melihat orang lain sebagai objek yang harus dikerok abis-abisan. Pola relasi seperti ini terus melahirkan anak kekerasan. 

Radiks Perdamaian 

Radiks (akar) perdamaian bersifat teologis. Ia berasal dari atas yang tidak lain adalah Tuhan sendiri. Damai kedalamannya menganut pola hubungan sosio-vertikal dan horisontal. 

Kedamain yang dibangun dalam hubungan dengan Allah dapat diaplikasikan dalam pola relasi dengan sesama. Kualitas hubungannya dengan Allah dapat ditunjukkan dalam pola relasi moral terhadap yang lain. Pertanyaan pun mencuat ke permukaan, justru negara teokratislah yang menjadi biang keladi kekerasan?. Negara yang dianggap mempunyai agama sebagai pengatur hidup mereka. Ini justru menjadi kecemasan besar. Titik persoalannya tatkala orang tuli terhadap “hati nurani” sebagai pengatur hidup. Dampaknya tak heran jika arus violence terus melanggar hukum bonnum.

 Esse-co-esse est yang diserukan Gabriel Marcel menggagas pola hidup yang bisa melihat orang lain sebagai komponen atau “aku”yang lain. Melihat kehadiran “aku” yang lain sebagai saudara. Dalam buku Jenszt Vom Guten und Bosen, Nietzsche menemukan dua jenis kasta manusia. Ada herrenmoral (moralitas tuan) dan herdenmoral (moralitas budak). Mengamini dan mengimani konsep seperti ini manusia terjerembab dalam jurang kehancuran. 

Hukum ilahi menjadi patokan dalam mengukur nilai moral. Tuhan mengatasi yang lain. Bahwa hukum ilahi mentransendensi aspek sosial hidup manusia. Menipisnya kesadaran religius di kalangan manusia modern yang melahirkan moralitas budak dan tuan. Kekerasan dijunjung tinggi bahkan dijadikan anak emas, sementara damai seolah-olah dijadikan anak tiri sehingga jarang mendapat sentuhan atau pun sorotan. Filsafat sekular dan pemikiran modern mendominasi aspek hidup manusia.  

Kebenaran dalam “Tubuh Damai” 

Berbicara tentang kebenaran. Sosok Plato pernah mengungkapkan bahwa kebenaran adalah sahabat sejatinya. Kebenaran menjadi dasar pijakan dalam setiap persoalan. Tetapi di manakah kebenaran ditemukan dalam kemelut pertikaian? Acap kali pendalam kualitas moral, misalnya dalam keputusan “ orang menegakan kebenaran” tidak menyangkut kenyataan das sein (apa yang ada) melainkan das sollen ( apa yang harus ada). Kenyataan pada apa yang ada kini dijungkirbalik maknanya. Yang ada hanya menghasilkan sebuah nir-makna. Perjuangan akan kebenaran acap kali dilihat pada sisi kebenaran itu sendiri. Saking asyik memperjuangkan kebenaran, sampai-sampai tidak melihat lagi aspek moral. Banyak nyawa menjadi korban dari perebutan kebenaran. Setiap negara atau kelompok masing- masing membela kebenaran, alhasil apa dampaknya? Begitu banyak terjadi aksi kekerasan.

Lalu pertanyaan pun menguak ke permukaan, masih benarkah sikap demikian? Menjadikan sesama sebagai objek demi membela kebenaran.

 Panggilan untuk melihat kebenaran ada dalam “tubuh damai” adalah sebuah cundutio sine qua non (keharusan). Dalam tubuh damai itu sendiri ada kebenaran. Menciptakan perdamaian tidak lagi menyoalkan kebenaran dan kesalahan. Karena antara benar dan salah adalah dua unsur yang sulit dipertemukan, apalagi kalau muasal persoalan dari titik politik.

Kedamaian melahirkan pola relasi subjek-subjek. Melihat orang sebagai sesama yang patut dihormati dan dijunjung tinggi nilai martabat. Seruan Socrates bahwa “saya tidak mengetahui apa-apa”, kiranya menjadi seruan kita juga. Kendati pun kita sudah belajar terbang seperti burung, berenang seperti ikan. Kini saatnya kita belajar berjalan seperti manusia. Seruan yang sarat akan nilai moral dari Socrates, kesadaran akan ketidaktahuan kita membuat kita merasa kecil. Kekecilan itulah yang melahirkan sikap menghormati sesama. Saya tak ada artinya di hadapan sang “pengasal sejati”. Manusia hanyalah akibat dari sang klausa prima, yaitu Tuhan sendiri. Dengan demikian kebenaran sejati itu hanya ada dalam Dia. 

Kedamaianlah sebagai guru utama pertikaian. Kalau terus mencari siapa yang menjadi the winner. Peluang untuk mereduksi kemapanan individualitas hidup orang menjadi besar tatkala unsur politik melibat di sana. 

Tubuh damai itu menjelma dalam hati yang murni. Mengikuti semua arah hati nurani.Orang Yunani mengatakan hati adalah keseluruhan hidup manusia. Dalam hati tertampung semua kebenaran. Kebenaran yang seperti apa yang perlu diperjuangkan. Tentu kebenaran yang di dalam tidak mengobyekan sesama, melainkan menjalin relasi subjek-subjek. Marilah kita berjalan bersama membangun perdamaian dalam bangsa kita. 

(Penulis, Eugen Sardono adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang).

Editor: Hipatios WL

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password