breaking news New

Pendidikan Pedagogis

Persoalan yang seringkali menyita baik waktu maupun pemikiran manusia hingga saat ini ialah konsep tentang pendidikan. Pendidikan dalam konteks ini bukanlah dalam pengertian sistem serta perangkat yang berkaitan dengan keberlangsungan sebuah proses pendidikan seperti kurikulum, standar kompetensi, serta semua perangkat lainnya. Pendidikan yang akan disoroti pada tulisan ini hendak difokuskan pada konsep dan pemahaman tentang pendidikan itu sendiri.
​Salah satu konsep yang masih dominan dalam dunia pendidikan saat ini ialah memandang peserta didik sebagai pribadi yang tabula rasa atau sering disebut kertas kosong. Mereka tampil sebagai pribadi polos yang tidak mengenal apa-apa. Oleh karena itu, mereka harus diisi oleh hal dan pengetahuan apa saja.

​Melihat peserta didik sebagai kertas kosong tidak dapat tidak membawa serta konsekuensi untuk memasukan peran dan sumbangsih dunia pendidikan yang sangat istimewa. Dunia pendidikan seakan tampil sebagai matra tak tergantikan bak lilin yang dinyalakan di ruangan yang gelap. Pendidikan kemudian dipahami sebagai sebuah proses untuk mentransfer segala pengetahuan. Peserta didik kemudian hanya dilihat sebagai tong yang harus diisi penuh dengan segala hal. Untuk mencapai hal itu, pendidik kemudian tampil sebagai knowledge agent. Artinya ialah tenaga pendidik, entah siapa pun, bertugas untuk mentransferkan pengetahuan bagi mereka yang tampil sebagai pribadi yang tabula rasa itu. Dengan demikian, masa depan para peserta didik tergantung dan bergantung pada pengetahuan serta semua yang dimiliki oleh para pendidik.

​Melihat peserta didik sebagai kertas kosong in se mengandung sebuah paham bahwa mereka tidak memiliki apapun dalam dirinya. Mereka lantas diperlakukan sebagai obyek dari sebuah proses pendidikan itu sendiri. Bagi merekalah semua informasi dan pengetahuan ditransferkan. Mereka, tidak dapat tidak harus belajar dan menerimanya meskipun tanpa sebuah proses seleksi dan penyaringan yang utuh. Dengan demikian, proses pendidikan serta belajar mengajar tidaklah lebih dari sebuah rangkaian acara memindahkan pengetahuan dari para pendidik kepada peserta didik.

​Konsep dan cara pandang yang melihat manusia sebagai yang tabula rasa sesungguhnya lahir dari sebuah pergulatan para pemikir zaman dahulu perihal asal dan sumber pengetahuan manusia. Dalam pergulatan itu muncul para pemikir yang mengatakan bahwa pengetahaun manusia lahir dari pengamatan dan pengalaman indrawi. Pandangan itu sering disebut dengan empirisme. Bagi mereka, pengetahuan manusia hanya mungkin lahir dari apa yang dilihat, dicecap, dihirup, didengar, dan diraba. Semua kesan itu menghasilkan pengetahuan bagi manusia. Bagi para penganut paham empirisme ini, manusia kemudian hanya dilihat sebagai kertas kosong atau tabula rasa. Oleh karena itu, pengetahuan manusia hanya dimengerti dalam batas pemahaman dan pengertian sebagai hasil penerimaan dari kesan-kesan inderawi semata.

​Aliran pemikiran lain yang sangat bertentangan dengan konsep empirisme di atas ialah rasionalisme. Bagi mereka, pengetahuan manusia berasal dan bersumber pada rasionalitas manusia itu sendiri. Semua yang ada dalam dunia real merupakan bayangan atau pantulan dari apa yang ada dalam dunia intelek manusia. Karena itu, pengetahuan manusia tidak dapat diasalkan atau disumberkan pada pengenalan inderawi. Pengenalan itu dapat menipu sehingga pengetahuan yang dihasilkan tidaklah utuh atau sempurna. Persoalan antara aliran empirisme dengan rasionalisme di atas menjadi persoalan abadi dalam dunia filsafat. Keduanya ibarat memecah teka-teki yang tidak akan pernah berakhir seperti persoalan ‘mana yang duluan, ayam atau telur’.

​Imanuel Kant kemudian tampil sebagi penengah antara aliran empirisme dan rasionalisme. Baginya, dalam diri manusia terdapat kekuatan tidak hanya untuk mengenal pengetahuan berdasarkan kesan-kesan indrawi tetapi juga berdasarkan kemampuan rasionalitas manusia. Darinya lahir konsep pengetahuan apriori dan aposteriori. Konsepnya itulah yang menjadi jembatan antara empirisme dan rasionalisme. Dengan demikian, dalam diri manusia sudah terkandung pengetahuan yang tidak hanya terbentuk dari pengalaman inderawinya. Pengetahuan itu terbentuk oleh karena rasionalitas yang melekat erat dalam eksistensi manusia.

​Konsep yang mengakui bahwa peserta didik bukanlah kertas kosong dengan sendirinya mengubah konsep tentang proses pendidikan. Pendidikan kemudian tidak hanya lagi dilihat sebagai proses untuk mentransfer pengetahuan dari para pendidik kepada peserta didik. Pendidikan kemudian dilihat sebagai sebuah proses tukar menukar pengetahuan. Para pendidik mau tidak mau harus mengakui bahwa rasionalitas peserta didik memungkinkan terjadinya pertukaran pengetahuan itu. Dengan demikian, proses pendidikan menjadi sebuah proses yang dinamis sebab ada sikap saling terbuka didalamnya.

​Keterbukaan dalam proses saling menukar pengetahuan melahirkan konsep pendidikan pedagogis. Pedagogis hendak mengatakan sebuah proses pendidikan dan pengajaran yang saling membuka diri antara pengajar dengan pesesrta didik. Dalamnya termuat sikap saling terbuka untuk memberi dan menerima pengetahuan. Persepsi yang memendang peserta didik hanya sebagai kertas kosong dalam sebuah proses pendidikan hendaknya dihapus atau dihilangkan. Sebab, konsep pendidikan pedagogis menjadi gaya berpikir yang sangat tepat dalam pelaksanaan sebuah pendidikan. Dengan demikian, proses pendidikan yang ada sungguh-sungguh menjadi sebuah usaha untuk memanusiakan manusia.

Oleh: Hiro Edison, Mahasiswa STF Widya Sasana Malang

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password