breaking news New

Dunia Maya dan Apatisme

Perkembangan Teknologi Informasi (TI) kian tak terbendung, khususnya internet. Kenyataan ini didukung dengan munculnya berbagai fitur seperti facebook, twitter, instagram, line, dan lainnya. Dulu, munculnya internet dianggap sebagai salah satu bahaya globalisasi terhadap budaya dan agama, tapi sekarang internet telah menjadi teman, bahkan kebutuhan yang mesti terpenuhi. Dari benci menjadi cinta, dari teknofobia menjadi teknofilia.

Di Indonesia, internet atau yang akrab disebut sebagai dunia maya, berkembang sangat pesat. Selain dari penggunaannya yang mencapai jutaan jiwa, penggunaannya juga untuk bermacam-macam kepentingan. Dari hanya sekadar ikut nimbrung dalam arus kemajuan teknologi, hingga dalam soal bisnis, periklanan, jual-beli informasi, dan bahkan aktivitas politik.

Hubungan dunia maya dan aktivitas politik menarik untuk disimak, mengingat meningkatnya tema politik yang diwacanakan melalui dunia maya. Sebetulnya, aktivitas politik yang melibatkan warga negara biasa dan para elit politik di dunia maya adalah sesuatu yang paradoksal. Di satu sisi, fenomena ini dapat menjadi pemicu dari tindakan politik real. Di sisi lain, aktivitas politik dunia maya bisa membuat rakyat apatis terhadap berbagai masalah sosial-politik di tanah air. Efek yang kedua tentunya berbahaya.

Situasi Politik dan Dunia Maya

​Situasi sosial politik di Indonesia masih seperti lagu lama. Masalah kegaduhan politik belum juga kelar, misalnya; masalah korupsi di kalangan elit, lemahnya penegakan hukum, terpecah belahnya partai politik, kemiskinan dan pengangguran, hingga masalah ketidaketisan para pemimpin. Kondisi ini membuat rakyat kecil jenuh, bosan, bahkan kebal. Lalu, timbul suatu pertanyaan; apakah situasi ini yang membuat rakyat tidak lagi memprotes, para mahasiswa jarang turun jalan untuk berdemo, para aktivis yang kelihatannya sudah kehabisan tenaga? Singkatnya, warga negara apatis.

​Di samping kacaunya situasi politik dan cueknya warga negara untuk bertindak, dunia maya justru ramai dihuni oleh warga negara yang cuek tersebut. Di dunia maya kita menyaksikan orang berargumen soal politik, berteriak minta keadilan, ungkapan hati soal ketidakpuasan terhadap pemerintah, hingga berwacana untuk memengaruhi masa yang kontra pemerintah. Dunia maya seolah-olah menjadi ruang publik baru yang dapat menghubungkan rakyat dengan pemerintah.

​Dunia maya ini adalah dunia yang abstrak, segala sesuatu yang disajikan kepada kita bersifat tidak real atau abstrak. Tetapi tidak bisa ditolak pula bahwa pembicaraan di dalam dunia maya bersifat aktual dan nyata, misalnya membicarakan fakta politik yang real. Bisa dikatakan bahwa imajinasi kita di dunia maya adalah bentuk pelarian dari dunia aktual. Ekstrimnya, kita tercerabut dari dunia aktual.

​Kesimpulan dini, bahwa orang tercerabut dari dunia aktual ke dunia maya, mengingatkan kita pada kritikan agama Karl Marx. Marx, seorang filsuf Jerman berpendapat, agama adalah dunia ilusi yang meninabobokan rakyat miskin dari penderitaannya. Janji agama akan indahnya hidup setelah kehidupan di dunia ini, membuat rakyat miskin menerima begitu saja keadaan mereka, tanpa ada usaha. Mereka terbius oleh ilusi agama yang dibuat oleh para elit. Tidak bermaksud untuk menyamakan dunia maya dan agama, tapi situasinya sedikit sama. Intinya, orang lupa kalau tubuh realnya ada di dunia nyata, bukan di dunia maya.

Sikap Apatis

Pengaruh perkembangan dunia maya dalam konteks politik di Indonesia, memungkinkan dua konsekuensi terjadi. Di satu sisi, dunia maya bisa saja menjadi sarana penggalangan masa untuk melakukan suatu gerakan politik. Di lain sisi, aktivitas politik di dunia maya bisa menjadi pemicu menguatnya sikap apatis di kalangan warga negara.

Untuk konsekuensi pertama, kita ingat kembali situasi pilpres 2015. Sosialisasi konser “salam 2 jari” sebagai dukungan untuk calon Jokowi-JK begitu kuat di facebook dan twitter. Hasilnya tidak sia-sia, masa yang datang ke stadion Gelora Bung Karno sebagai tempat dilaksanakannya konser mencapai ribuan orang. Intensi kehadiran mereka tidak diketahui secara pasti, entah hadir hanya untuk menikmati konser atau sungguh-sungguh ingin mendengarkan visi misi calon presiden, yang jelas mereka disosialisasikan melalui dunia maya.

Situasi sekarang, kita pernah saksikan juga semangat yang menggebu-gebu dari komunitas “Teman Ahok”, bersosialisasi melalui dunia maya untuk menggalang dukungan kepada Ahok. Melalui dunia maya, para relawan yang menamakan diri sebagai “Teman Ahok”, menggalang dukungan agar orang secara nyata pergi ke posko “Teman Ahok”, mengumpulkan KTP sebagai dukungan terhadap Ahok dalam Pilgub DKI 2017 mendatang, meskipun kemudian maju melalui jalur partai. Bukan hanya itu, banyak komunitas juga berawal dan terbentuk melalui interaksi di dunia maya dan pada akhirnya membentuk komunitas aktual yang bisa saling berkumpul.

Selain efek aktivitas politik di dunia maya yang bisa menggalang masa, terjadi pula efek lain, di mana orang bersikap apatis terhadap berbagai masalah sosial politik yang nyata. Berwacana soal politik di dunia maya, tidak jarang bahkah lebih banyak menimbulkan sikap yang cuek terhadap masalah di dunia nyata. Saat melihat banyaknya populasi orang yang peduli terhadap masalah politik di dunia maya, kita lantas bertanya; di manakah mereka di dunia nyata? Atau mungkin mereka itu pribadi imajiner yang menjadi bagian dari produk teknologi, yang sengaja diciptakan sebagai partner pengguna internet?

​Sikap apatis warga negara Indonesia yang terbentuk karena aktivitas yang intens di dunia maya dapat dikatakan sebagai peralihan kesadaran. Artinya, orang tidak lagi sadar bahwa suatu tindakan politik yang real mesti diejahwantakan di dunia nyata, dalam dunia konkret, di tempat ia berdiri. Kuatnya aktivitas di dunia maya membuat orang seolah-olah sudah berpartisipasi dalam berpolitik. Karena kenyataan bahwa hubungan dengan dunia maya itu, membuat orang menyerahkan diri pada sistem, orang bertindak di dalamnya, dan mendapatkan berbagai informasi.

​Kierkegaard pernah merefleksikan kehidupan publik di masanya, bahwa ruang publik yang dipenuhi dengan wacana dan omongan hanya akan menciptakan dunia yang lepas dari persoalan keseharian. Ini salah satu bahaya dunia maya, yang penuh dengan wacana, ide abstrak, perdebatan yang tak berujung, dan persoalan tanpa solusi. Orang terlibat dalam wacana semu, asal berpendapat dan berargumen, yang penting ambil bagian dari perkembangan isu sosial politis. Orang lantas berpikir untuk tidak perlu lagi bertindak di dunia nyata untuk mencari solusi. Orang puas dengan berargumen di dunia maya yang kadang tidak perlu pertanggungjawaban rasional. Inilah bahaya apatisme warga negara di era teknologi zaman sekarang.

 

Oleh: Ricky Gabut

Alumnus STF Driyarkara Jakarta

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password