breaking news New

Agama Berwajah Antihumanis

Mengatakan agama sebagai antihumanis sesungguhnya merupakan sebuah pernyataan yang paradoksal. Pernyataan itu bersifat contradictio in termis. Artinya ialah Agama dalam dirinya sendiri sudah bersifat humanis. Tidak ada satau pun agama di dunia ini yang mengajarkan bahwa membenci sesama itu benar. Atau, membunuh sesama itu baik. Juga berperang atas nama agama atau Allah itu benar. Dengan demikian, mengatakan agama berwajah antihumanis sesungguhnya mengandung sebuah pertentangan. Akan tetapi dalam kenyataannya, agama terkadang tampil dengan wajahnya yang antihumanis dan sejarah telah memberikan buktinya yang tidak sedikit.

Menyimak sejarah politik bangsa akhir-akhir ini, teristimewa apa yang terjadi di Jakarta hari-hari belakangan, sungguh telah menggugat wajah humanis agama. Tuduhan serta serangan terhadap Basuki Cahya Purnama, atau yang dikenal dengan nama Ahok, dengan alasan penistaan agama menjadi panorama yang menarik untuk disimak. Beliau dituduh telah menista agama Islam oleh karena mengutip Surat Almaidah 51. Tuduhan itulah yang membangkitkan amarah serta kemarahan semua kalangan umat muslimin yang diwakili oleh ormas-ormas yang bernaung di bawah nama pembela Islam ataupun apa namanya. Dan yang menarik ialah, demi kenyataan itu mereka mengadakan aksi unjuk rasa besar-besaran yang tidak lain dan tidak bukan ialah menuntut agar Ahok diproses secara hukum.

​Pernyataan maaf Ahok kepada semua kalangan yang merasa dirinya tersinggung rupanya tidak cukup. Aneh namun nyata, sebab Allah yang dikenal oleh setiap agama sebagai Mahapengampun serta melihat sikap maaf sebagai sikap yang paling mulia ada dalam diri manusia, atas nama-Nya tetap dituntut untuk diadili setiap orang yang menistakan-Nya. Pada titik itulah, wajah agama yang percaya pada kemaharahiman Allah tidak sanggup untuk meneruskan kerahiman dan kebaikan-Nya kepada manusia. Agama yang sejatinya berurusan dengan Dia yang Ilahi kini berubah menjadi perkara manusiawi semata. Perubahan itulah yang melahirkan wajah agama yang antihumanis sebab agama kini diurus oleh orang-orang yang merasa diri sebagai wakil Allah di dunia. Di tangan mereka itulah, Agama berubah menjadi monster yang tidak kalah garangnya seperti serigala yang kelaparan untuk selalu siap menerkam mangsa. Mengerikan.

​Apa yang terjadi dengan Ahok merupakan salah satu contoh betapa tidak bersahabatnya wajah kaum agamis saat ini. Menarik bahwa situasi itu ibarat menjadi sumber bagi para nelayan untuk memancing di air keruh. Bertepatan dengan hiruk pikuk suasana menjelang pemilihan gubernur DKI, tuduhan terhadap Ahok menjadi sumber yang tidak ada habisnya untuk digunakan guna menjegalnya atau minimal membuat masyarakat tidak memilihnya. Sebuah potret cara berpolitik yang infantil. Namun terlepas dari itu, isu agama benar-benar menjadi senjata yang paling pokok untuk menjegalnya sebab tidak ada yang lebih sensitif untuk digunakan selain isu itu. Pada titik itulah agama digiring ke dalam titiknya yang paling nadir yaitu dipolitisasi demi kepentingan kalangan tertentu. Dan hal ini kadang dilupakan oleh mereka yang memegang corong dalam bersuara atas nama agama.

​Tampilnya agama yang berwajah antihumanis sesungguhnya menjadi sebuah kemunduran entah sejarah ataupun kehidupan beragama. Betapa tidak, sejarah agama-agama entah agama apapun pernah terlibat dalam cara pandang yang merendahkan manusia lebih-lebih mereka yang tidak seiman. Terhadap mereka itu, tindakan menyingkirkan atau bahkan membunuh sering dianggap suci. Sebab yang dikedepankan ialah ajaran agama masing-masing karena itu harus diterima sebagai satau-satunya yang harus dianut. Oleh karena itu, jika yang terjadi di Ibukota Negara berlandaskan pada paham agama maka sejarah kehidupan beragama di negeri ini sungguh-sungguh berjalan mundur sangat jauh ke belakang.

​Menuduh Ahok sebagai penista agama harus diakui sangatlah berat sebelah. Sebab tuduhan yang dialamatkan kepadanya didasarkan pada video. Video yang oleh kecanggihan otak manusia dan teknologi bisa diedit guna menjatuhkan dan bahkan menyerang Ahok demi kepentingan politik atau apalah namanya yang berorientasi pada penolakan terhadap Ahok. Seandainya tuduhan terhadapanya sungguh-sungguh berdasar pada tuntutan penegakan hukum maka tidaklah layak untuk menyerangnya berdasarkan bendera agama melainkan harus bersandar pada proses hukum. Yang dituntut sejatinya ialah pengedar rekaman dan video tersebut sebab telah dikatakan bahwa apa yang beredar itu sangat berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Ahok. Oleh karena itu, aksi damai yang menuntut agar Ahok diproses secara hukum atas dasar kepentingan agama patutlah disayangkan. Ketaatan akan hukum menjadi teruji jika proses hukum atas Ahok diberikan pada pihak yang berwajib dan dengan legowo menerima apa pun hasilnya nanti tanpa harus melibatkan isu agama yang sungguh sangat sensitif untuk digemborkan.

Oleh: Hiro Edison, mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang.

65 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password