breaking news New

Maaf

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar dan bahkan mengucapkan kata maaf. Ketika menginjak kaki orang, kita dengan mudah mencucapkan “maaf”. Atau, ketika kita melakukan kesalahan, entah sekecil apapun, dengan mudahnya juga kita mengucapkan kata maaf. Saking seringnya kata itu diucapkan, kita bahkan lupa untuk memahami makna juga arti yang terkandung di dalamnya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, maaf berarti: 1 pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dsb) karena suatu kesalahan; ampun: 2 ungkapan permintaan ampun atau penyesalan; 3 ungkapan permintaan izin untuk melakukan sesuatu. Kata maaf rupanya memiliki banyak pengertian. Dan pengertian-pengertian itu membantu kita untuk mengerti dan memahami setiap ucapan dan permintaan maaf dari setiap orang. Dari ketiga pengertian itu, saya mengajak Anda sekalian untuk melihat pengertian pada poin nomor 1 dan nomor 2. Kedua pengertian itu menjadi sangat penting dipahami guna menganalisa apa yang terjadi dengan dinamika dan fenomena kehidupan bangsa Indonesia akhir-akhir ini.

Kata maaf, untuk konteks Indonesia akhir-akhir ini, sangat sering diperbincangkan. Hal itu berhubungan dengan kejadian yang menimpa Cahaya Basuki Purnama (Ahok) yang dituduh telah menistakan agama. Atas tuduhan itu, beliau dengan berani dan tegas menyampaikan permintaan maaf terhadap semua orang, pihak, dan kalangan yang merasa dirinya tersinggung. Dalam konteks itu, kata maaf yang diucapkannya ada dalam konteks pengertian nomor 2. Menarik bahwa, kata maaf dalam konteks itu memuat arti permintaan ampun atau penyesalan. Ada dinamika di sana. Meskipun Ahok tidak terbukti melakukan penistaan agama (berdasarkan videonya yang asli) namun ia dengan penuh keberanian dan kerendahan hati menyampaikan kata maaf. Pada titik itu, Ahok menanggung kesalahan orang yang mengedit video, yang seharusnya dituntut dan dihukum. Sebuah lompatan yang sangat luar biasa. Yang tidak bersalah berani mengucapkan permintaan maaf.

Permintaan maaf selanjutnya mengandaikan adanya pengampunan atau dalam artian kata di atas membebaskan seseorang dari suatu kesalahan (pengertian nomor 1). Dalam pengertian itulah kata maaf mengandung maknanya yang terdalam sebagai sebuah sikap sekaligus kebijaksanaan yang ada dalam diri setiap manusia. Dengan kata lain, jika tidak memiliki kapasitas untuk memaafkan dalam diri maka kemanusiaan seseorang patut dipertanyakan. Sebab, binatang dalam dirinya sendiri tidak memiliki kapasitas memaafkan meskipun secara instingtif tetap mengenal batas dalam kegarangan dan keberingasannya. Memang benar bahwa memaafkan atau tidak tergantung pada subjek yang berhak untuk memberikannya namun yang tidak dapat dipungkiri bahwa kodratnya sebagai makhluk spiritual memungkinkan manusia cepat atau lambat pasti memaafkan. Tidak ada manusia yang dapat bertahan dalam kemarahan atau rasa dengki yang tak berkesudahan.

Aksi yang kita lihat dalam menentang Ahok beberapa hari terakhir menjadi tanda betapa jauhnya kebajikan memaafkan dari dalam diri manusia. Kata maaf sungguh tidak mendapat tempatnya dalam diri mereka yang menentang dan bahkan menuduh Ahok sebagai penista agama. Halnya semakin menjadi miris ketika ketidaksanggupan untuk memaafkan didasarkan pada agama ataupun ajarannya. Padahal dalam masing-masing agama diajarkan bahwa memaafkan merupakan sebuah kesempatan untuk menunjukkan arti kepenuhan sebagai manusia beriman (beragama).

Mengartikan kata maaf dengan mengampuni sesungguhnya merupakan sebuah loncatan yang sangat luar biasa. Mengampuni umumnya sering dikaitkan dengan kuasa Allah. Dialah yang memiki kuasa untuk mengampuni sebab Dia adalah Mahapengampun. Atas dasar itulah, ketika manusia sanggup untuk memaafkan sesamanya secara sungguh-sungguh dan tulus maka pada saat itu juga ia berpartisipasi pada sifat Allah yang Maha Mengampuni. Hal itu idealnya harus diketahui dan dikenal oleh kaum agamis yang senantiasa berurusan dengan perkara-perkara agama. Jika itu yang terjadi maka agama telah berada dalam jalurnya yang tepat sebagai penerus ajaran iman yang baik.

Dalam kasus dan tuduhan serta tuntutan terhadap Ahok, pengampunan tidak mendapatkan artinya yang riil. Hal itu ditengarai oleh kehadiran mereka yang mengaku diri sebagai umat beragama yang sungguh-sungguh beriman dan bahkan mengenal kehendak Allah secara benar. Sangat tragis. Sebab wajah agama dan ajaran yang dibawakan tidak menyentuh sama sekali apa yang menjadi hakikat Dia sebagai Mahapengampun sekaligus Maharahim. Malah, yang mereka pertontonkan adalah sebuah kebengisan dan kekejaman yang menyeramkan. Padahal, agama dan orang yang hidupnya sungguh-sungguh diresapi oleh ajaran agamanya akan lebih mudah memaafkan daripada mudah terprovokasi untuk menghukum bahkan menghina sesamanya.

 Oleh: Hiro Edison

2 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password