breaking news New

Cerpen Minggu : “Dua Belas Ikat Karet Gelang”

​​HUJAN belum juga berhenti, dari petang tadi hingga jelang tengah malam. Goreti terus menatap pintu, berharap ada yang datang. Di balik celah- celah dinding bambu harapan itu terbagi, terus mengawas.

Jam menunjukan pukul 06.00, Goreti makin gusar, berdiri dan sekali lagi mengintip lewat celah dinding bambu. Tangannya menyentuh dinding bambu, ada getaran dingin menghayat kalbu.

Dia teringat akan dinding ini, setahun yang lalu Julius sendiri yang membuat dinding ini. Bambu dipikul dari kali mati dua kilo jauh dari rumahnya, bambu yang setengah tua yang warnanya masih hijau kekuningan disulap Julius menjadi dinding.

Bambu dicacah perlahan- lahan dari ujung, ke tengah, hingga ke belakang, keliling bambu. Julius membelah satu arah dari ujung atas terus sampai ujung bawah dan dengan satu sentakan, memaksa bambu itu terbuka terbentang. Bambu terkoyak dan terbuka. Setiap sisi buku bambu dibersihkan, sesudah itu bambu dijemur sampai mengering. 

Ada sentuhan tangan Julius di situ, Goreti merasakan itu. Sentuhan kesabaraan, kasih sayang dan rasa cinta.

Goreti tersentak dibangunkan lonceng Gereja Renha Rosario. Sentuhan itu telah hilang tiga hari lamanya, ke manakah dia ? Juliusku.

                                 ****

Malam perlahan merayap menuju pelataran pagi. Angin laut dan angin gunung bercampur, ciptakan cuaca dingin yang menusuk tulang.

Dari kejauhan arah utara terdengar bunyi ‘ketinting’ berpacu bersentuhan membelah permukaan laut, buih- buih putih laut berhamburan bertubrukan dengan badan ‘ketinting’.

Dari arah berlawanan sebelah selatan, bunyi ‘kricik- kricik’ buah asam yang lepas dari pohonnya, jatuh menghantam permukaan tanah. Burung- burung pipit yang menumpang di dahan- dahan akan terbangun, ‘kaget’ tapi cuman sebentar, terus tidur lagi. Mereka tahu, ini musim ‘asam masak’. 

                                 ****

Permukaan bale- bale terasa dingin, Julius berselonjor kaki, tak berbaju. Ada kegelisahan yang mengusik, tubuhnya dirasa gerah, sedikit- sedikit mengibaskan baju yang masih di tangannya, kadang bajunya diusap di antara dagu dan dadanya.

Beranjak sebentar, minum di antara kegelapan. Berselonjor, bangun lagi, minum lagi, berselonjor lagi, semuanya dilakukan refleks kepanikan. “Aku harus kuat, jangan kalut !”, batin membentak.

                                  ****

Pagi- pagi benar, kira- kira pukul 05.00, Julius sudah bangun, berpamitan dengan opung Kobus.

“Opung, terima kasih banyak telah menampung saya, saya harus berangkat, rasa saya lebih cepat lebih baik”.

“Hendak ke mana kamu nak, tinggallah barang dua tiga hari di sini, jangan cepat- cepatlah pergi” pinta opung Kobus.

“Sungguh baik opung kepada saya, dari kemarin pagi hingga pagi ini, opung sudah memberikan tempat berteduh, sudah cukup opung, saya harus buru- buru beranjak, sebelum terlambat”, sela Julius

“Apa yang membuatmu buru- buru nak, apa yang kamu maksudkan dengan terlambat ?”, tanya opung. Matanya tajam menatap Julius.

“Bukan apa- apa opung, sudahlah saya harus cepat berangkat, sebelum terbit matahari, “, potong Julius.

“Saya berangkat, sekali lagi terima kasih atas tumpangannya”, Julius pamit.

“Iya, silakan, hati- hatilah di jalan”, sela opung pasrah.

Julius berjalan ke arah selatan, melintasi jalan setapak di antara pohon- pohon jagung yang sudah mulai berbunga. Kepalanya selalu tertunduk ke bawah, matanya selalu menatap permukaan jalan, debu- debu keputusasaan berkelibar. Kadang sekali dua kali dia berpapasan dengan orang- orang yang hendak ke arah utara menuju pasar. 

Dua jam perjalanan yang melelahkan, sekarang sudah pukul 07.00. Jalan setapak yang dilalui terasa sepi, sedari tadi cuman dua orang yang dia jumpa, setelah itu tak ada lagi.

Dulu lima tahun yang lalu, jalan ini pernah dilalui Julius. Kondisi jalan memang masih sama, sepi orang dan permukaan jalan yang berlumut.

Sebenarnya dalam benak Julius, dia sudah enggan untuk kembali ke jalan ini. Jalan yang membuka hidupnya pada kehancuran. Dua putranya meninggal sebagai tumbal, bisnis ikan teri hancur berantakan juga karena tumbal. Memang awalnya semua berjalan dengan lancar, dia dengan mudah menikahi Goreti, mendapatkan sebidang tanah dari keluarga Goreti, membangun rumah dengan penuh kesabaran. Selang tiga bulan bisnisnya naik drastis, omset perhari di atas rata- rata. Mereka dikaruniai dua buah hati yang lucu. Semuanya berjalan lancar.

Hal ini terasa ganjil pada tahun kedua, berawal dari si sulung Deri yang tiba- tiba terjangkit penyakit aneh, semua rumah sakit menolaknya, kata dokter Deri tak mengidap penyakit apapun. Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan Deri, keadaannya semakin memburuk, berat badan turun drastis, kurus seperti diisap darahnya. Tak ayal jelang dua minggu, Deri pun meninggal.

Apa yang terjadi pada si sulung Deri juga terjadi pada anak kedua Julius. Penyakit yang sama, berat badan turun drastis, kurus dan akhirnya meninggal juga.

Kesialan ini pun merambah, menjalar perlahan ke bisnis Julius. Omset mulai tak karuan, perhari pemasukan tak menentu sudah tak mampu menutup modal, lama kelamaan akhirnya bangkrut.

Julius dilanda kekalutan, gelisah. Inilah yang membuat Julius kembali ke jalan ini.

                                  ****

“Aku harus mengembalikannya, aku tak mau dirundung kesialan terus, aku tak mau” ! , Julius berteriak sambil mempercepat jalannya.

Sebentar lagi dia akan tiba. 

Di ujung jalan sana ada pohon beringin besar. Mungkin umur pohon itu sudah sangat  tua. Kiri kanan pohon ditumbuhi ilalang membentuk lubang, mirip gua. Julius merayap pelan melewati ilalang, tanpa basa- basi Julius melempar karet gelang sebanyak dua belas ikat, semuanya dipintal, juga dengan dua belas ikatan. 

Sesudah itu Julius merunduk perlahan ke permukaan tanah, berbisik pelan, 

“Mbah, maafkan aku, cukup sampai di sini persahabatan kita, terima kasih atas bantuan mbah selama ini”.

Angin tiba- tiba kencang bertiup menerpa ilalang, Julius tenang, menutup matanya sambil terus mencium permukaan tanah.

Lima belas menit kemudian, angin kembali seperti semula, tenang. Julius membuka matanya perlahan mengangkat kepalanya, dilihatnya karet gelang dua belas ikat telah lenyap dari tempatnya.

Tak pikir panjang Julius cepat beranjak. Kembali ke  Goreti, kembali membangun dari awal. Maafkan aku Goreti.

Rambutan November 2016 – RR

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password