breaking news New

Sikap Manusia yang Kejam dan Sombong dalam Menterjemahkan Agama

Postingan salah satu personel SID, band rock asal Bali.

Belakangan ini beberapa kali saya temui di fanpage/twitter/instagram saya komentar dari kalian yang intinya mengatakan “dulu saya menyukai JRX, tapi karena JRX sering membicarakan agama, saya jadi tidak menyukainya lagi” atau “saya menyukai JRX karena musiknya, bukan karena pandangannya tentang Tuhan”

Pada intinya, JRX yang ideal bagi ‘mereka’ adalah JRX yang hanya berbicara tentang musik. Jadi kalau ibaratnya saya ini petani, maka saya hanya berhak berbicara tentang sawah dan harga pupuk. Meski hak hidupnya terancam, para petani hanya boleh teriak tentang sawah dan harga pupuk. Hebat sekali Indonesia ini.

Mereka lupa. Selain musisi, saya juga MANUSIA.

Dan perlu saya tegaskan, saya TIDAK PERNAH membicarakan suatu agama. Saya tidak pernah menyerang suatu agama karena bagi saya, semua agama itu sama dan sejajar. Sama-sama mengajarkan kebaikan dan mencari kedamaian. Yang saya bicarakan adalah SIKAP MANUSIA yang kejam dan sombong dalam MENERJEMAHKAN agama.

Ini tentang manusia nya, bukan tentang agama nya. Ini bukan tentang kesalahan agama, ini tentang kesalahan manusia dalam menerjemahkan agama.

Bagi saya ini cukup menarik, sedikit ironis malah. Di Indonesia yang ‘katanya’ beragam, religius dan sopan ini, ternyata masih ada anak-anak muda yang over-sensitif setiap kali diajak membicarakan hal-hal yang berbau agama. Alasan mereka kebanyakan “jangan membicarakan agama, nanti ada yang tersinggung” dan ya, memang benar banyak yang tersinggung lalu tanpa dasar kuat menuduh saya memojokkan agama tertentu. Di dunia maya, kebencian cepat sekali menular. Begitu gampang utk menjadi ‘pahlawan agama’ di dunia maya. Ketika beberapa kali saya tanya apa buktinya saya memojokkan agama, mereka berkata “dari status-status anda, saya menangkap pesan kalau anda anti agama tertentu”

Disinilah masalahnya. Prasangka di atas segalanya. Prasangka adalah kebenaran bagi mereka. Dan karena sikap over-sensitif itu, mereka lebih memilih percaya dengan prasangka ketimbang percaya dengan kebenaran. Mereka menutup mata terhadap fakta bahwa prasangka mereka dibangun atas dasar keterbatasan wawasan/ilmu dalam menerjemahkan opini saya.

Jadi jelas sudah, mereka-mereka yang salah menerjemahkan agama nya, akan selalu salah dalam menerjemahkan apapun yang berbau agama. Ketika memasuki wilayah agama, mereka hanya memiliki kebencian, curiga dan naluri memusnahkan siapa saja yg mereka anggap “musuh”. Sekali lagi, prasangka di atas kebenaran.

Di sini saya sadar, bahwa selama ini yang menyukai saya belum tentu mengerti akan lirik/esensi/pesan dari lagu-lagu saya. Di sini juga saya sadar bahwa inilah yang kita sebut sebagai seleksi alam untuk menentukan siapa yang layak siapa yang tidak. Dan saya manusia yang cukup sadar dan tahu diri bahwa saya terlahir bukan untuk menjadi penjilat yang bisa menyenangkan hati semua orang.

Dalam kasus ini, saya melihat kehilangan penggemar/simpatisan adalah konsekuensi dalam usaha saya untuk menjadi seorang warga negara Indonesia yang menolak keras diskriminasi dan kekerasan atas dasar SARA.

Dan saya tidak pernah takut atas konsekuensi ini, karena saya percaya di luar sana ada lebih banyak anak muda dengan pemikiran bersih yang -terlepas dari mereka suka musik saya atau tidak- lebih memilih percaya terhadap kemanusian, keadilan dan kebenaran.

Terima kasih,

JRX, Superman is Dead

(Sumber : Fanpage JRX)

2 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password