breaking news New

Gereja dan Kaum LGBT

Akhir-akhir ini persoalan tentang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) menjadi banyak diminati oleh masyarakat. Persoalan ini mengundang banyak respon masyarakat bukan karena baru pertama kali muncul di permukaan tetapi karena hal itu berkembang dengan cepat dan mudah dalam kehidupan bersama. Tidak dapat dipungkiri bahwa jumlah orang yang terlibat dalam aktivitas ini terus meningkat setiap tahunnya. Lantas hal itu menuntut kita unutk berbuka mata dan hati agar “wabah” ini tidak menurunkan nilai-nilai moral manusia yang berlaku umum.
Setiap elemen dalam masyarakat baik secara individu maupun kelompok diundang untuk mengatasi persoalan ini misalnya negara, gereja dan pejuang nilai-nilai kemanusian. Keikutsertaan semua elemen itu tentu memberi banyak pilihan dalam mengatasi “wabah” ini. Maka dalam konteks inilah saya menempatkan beberapa reaksi, tanggapan dan cara pelayanan Gereja Katolik terhadap kaum LGBT. 

Gereja Katolik sebagai suatu lembaga yang berandil besar dalam perkembangan moral umat manusia tentu harus melibatkan diri dalam mengatasi persoalan ini. Persoalan ini hadir untuk menantang nilai-nilai kehidupan yang layak diperjuangkan berdasarkan ajaran Kristiani. Pada dasarnya pokok pewartaan iman kita sering menyentuh berbagai persoalan yang tidak mudah diatasi. Gereja hendaknya mampu merawat dan mempertahankan nilai-nilai kehidupan yang mesti diperjuangkan. Nilai-nilai yang diperjuangkan itu tentu saja bersifat universal atau berlaku secara umum di berbagai belahan dunia. 

Pokok Persoalan LGBT

Pokok persoalan mengenai LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) tentu saja menyentuh pemahaman dasar mengenai seksualitas, perkawinan dan keluarga. Dalam kehidupan bersama persoalan biseksual selalu dipandang sebagai tindakan yang menyimpang karena dengan tegas menolak ciri monogami dan kesatuan cinta kasih timbal balik dari perkawinan. Dengan demikian secara otomatis menggoyahkan makna terdalam dari sakramen perkawinan sebagai perjanjian persekutuan antara seorang perempuan dan seorang laki-laki. Homoseksual dan biseksual adalah dua hal yang sama karena terlibat dalam relasi seksual dengan sesama jenis. Oleh karena itu, Jika terlibat dalam relasi seksual di luar perkawinan sah maka dinilai sebagai suatu bentuk perzinahan, percabulan atau hubungan di luar nikah. 

Hal tersebut diatas hampir sama dengan keberatan mengenai transgender. Transgender adalah kesengajaan mengganti dan mengubah jenis kelamin. Mengubah dan menggantikan jenis kelamin adalah salah satu efek perkembangan teknologi. Teknologi mempermudah cara kerja peminat transgender. Dalam nada yang sama tak dapat dielakkan lagi bahwa pandangan kaum transgender tidak bahagia dengan kodratnya adalah benar. Mereka dengan sengaja mengubah kodrat yang diberikan Tuhan kepadanya. 

Pada dasarnya akar persoalan LGBT itu sendiri mengakar dalam diri berdasarkan situasi, pergaulan dan perkembangan zaman. Kecendrungan yang begitu kuat untuk terlibat dalam aktivitas ini tentu saja mengabaikan esensi atau keberadaan diri sebagai makhluk hidup yang saling melengkapi khususnya dalam kontenks seksual. Dan mereka sering mengabaikan makna terdalam dari seksualitas itu sendiri yaitu tujuan prokreatif. Atas dasar itulah semua masyarakat beraksi untuk menolak cara hidup kaum LGBT. 

Penolakan itu sering dilihat oleh kaum LGBT sebagai perendahan terhadap martabatnya dan menghilangkan kebebasan mereka. Kendati demikian mereka adalah pribadi yang hendaknya diterima dan dirangkul dengan baik sehingga persoalannya dapat diatasi. Gereja Katolik juga terpanggil untuk melayani mereka sehingga mimpi mereka untuk berbagi tempat didalam kehidupan bersama dapat diterima. Namun penerimaan itu bukan pada pengakuan bahwa LGBT itu dibolehkan tetapi penerimaan itu lebih kepada kemauan mereka untuk berubah dan menyadari kesalahannya.

Pertimbangan Gereja Katolik

Dalam menghadapi persoalan ini, Gereja tidak mau menjadi seperti hakim yang mengadili bahwa kaum LGBT itu benar atau salah. Kendati demikian, berdasarkan beberapa ajaran yang ada di dalam Gereja itu sendiri praktek hidup kaum LGBT ini tidak dapat di terima karena dua alasan berikut. Pertama, konsep dasar mengenai seksualitas dan perkawinan. Gereja Katolik memahami perkawinan selalu sebagai suatu persekutuan cinta antara seorang pria dan seorang perempuan. 

Hubungan seksual yang sakral dan dalam arti yang penuh hanya berlangsung dalam ikatan perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Perkawinan selalu mensyaratkan dua jenis kelamin yang berbeda. Maka, istilah “perkawinan sejenis” sebenarnya merupakan contradictio in terminis. Dua laki-laki dan juga dua perempuan secara biologis tidak dapat kawin satu sama lain dalam makna yang sesungguhnya. “Perkawinan” seperti itu pun tidak sungguh-sungguh memperlihatkan pemberian diri yang utuh yang merupakan hal esensial dalam perkawinan. 

Persekutuan di antara mereka pun tidak dapat dijadikan sebagai suatu kenyataan sebagaimana yang dipunyai secara khas dalam perkawinan. Inilah sebabnya, Gereja Katolik menilai tindakan homoseksual itu sebagai suatu yang buruk pada dirinya sendiri dan melawan hukum moral kodrati. Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru pun memandang aktivitas homoseksual sebagai suatu dosa karena bertentangan dengan tujuan tata penciptaan Allah sendiri. Perbedaan seks atau jenis kelamin itu sendiri dikehendaki oleh Allah dan dimaksudkan untuk saling melengkapi satu sama lain demi kebaikan keduanya dan generasi atau keturunan. Seksualitas itu adalah anugerah Allah sendiri.

Kedua, tujuan prokreatif. Persekutuan antara suami dan istri bukan hanya sebatas pada hubungan cinta kasih tetapi lebih kepada proses penerusan generasi. Perkawinan antara kaum LGBT (sesama jenis) tentu tidak memungkinkan adanya prokreasi dan cara-cara yang mereka gunakan sering melecehkan martabat manusia. Penerimaan terhadap bentuk perkawinan sesama jenis ini menjadi ancaman bagi keluhuran keluarga sebagai dasar dalam kehidupan bersama. Dapat dibayangkan bahwa betapa hebatlah rusaknya moral seorang anak yang diadopsi oleh pasangan LGBT ini.

Sikap Gereja terhadap Kaum LGBT

Persoalan LGBT ini sangatlah kompleks sehingga dibutuhkan sikap yang bijak dalam menghadapinya. Gereja yang berpartisipasi langsung dalam mengatasi persoalan ini tidak gampang menolak dan menerima mereka. Menyadari hal itu Gereja mencoba untuk bersikap adil dengan beberapa pertimbangan. Pertama, hendaknya kita bisa membedakan LGBT atas dasar kecendrungan (bawaan sejak lahir) dan tindakan atau prilaku. Sebagai sebuah kecendrungan kita harus mampu mengontrolnya sehingga tidak membuat kita jatuh ke dalam hal negatif. Sebagai sebuah tindakan atau prilaku, LGBT dipandang sebagai kesesatan dan prilaku moral yang tidak baik. Dengan adanya pembedaan seperti itu kita mampu mengontrol pola tindakan mereka yang terjerumus dalam persoalan ini. Kontrol sosial yang tinggi menunjukan niat suci dan kemurnian kita terhadap kaum LGBT.

Kedua, perlu bersikap bijak dengan mereka melalui keramahtamahan dan tidak diskriminatif. Mereka adalah individu yang perlu dihargai sehingga mereka mampu menjalani kebebasannya dengan baik. Berprilaku simpatik kepada mereka bukan berarti kita menerima apa yang mereka lakukan tetapi berusaha untuk mendorong atau mengubah mereka kepada jalan yang benar. Oleh karena itu, semua umat manusia diundang untuk terlibat dalam mengatasi persoalan ini sehingga menjadi nyatalah cinta kasih yang sejati dan penghargaan atas hidup. 

Oleh: Antonius Yorito Jambar 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password