breaking news New

Menggeledah Intensi-Intensi Busuk Umat Beragama

Akhir-akhir ini, pengalaman negatif akibat tindakan destruktif kembali mencengkram ketentraman hidup kita. Kita dapat melihatnya dalam berbagai prilaku dan tindakan tragis yang dilakukan oleh sekelompok orang. Mereka gencar menebarkan kebencian, kekerasan, intoleransi, kefanatikan melalui propanganda religius yang akhir-akhir ini menjadi krisis dalam kehidupan sosial kita.

 Mereka hadir dan tampil dalam wilayah kehidupan bersama dengan egoisme narsistiknya yang hendak membabat habis orang lain yang berbeda dengannya. Wajah mereka terlihat bengis, kejam, tanpa cinta kasih terhadap yang lain yaitu kelompok-kelompok yang berbeda paham dan pandangan dengannya

Kita tentu masih ingat dengan peristiwa tragis di Samarinda beberapa hari lalu akibat serangan bom yang dilakukan oleh seorang teroris yang mengaku sebagai utusan dari kelompok agama tertentu. Dalam aksi teror tersebut yang menjadi korban adalah anak-anak dimana salah satu di antaranya telah meninggal dunia sementara beberapa yang lainnya masih dalam kondisi kritis dan sedang dalam perawatan yang intensif. 

Aksi teror dengan mengatasnamakan agama yang menimpah para korban tersebut serentak menghentakkan kita dari rutinitas hidup sehari-hari dan masuk dalam ruang permenungan terhadap makna eksistensi kita dalam kehidupan bersama di dunia ini. Tentu peristiwa yang dialami korban telah menyeret hati kita pada situasi duka. Sebab harga diri manusia begitu mudah dicabik dan dicobekhabisi oleh pelaku destruktif tersebut. Anehnya bahwa pelaku dalam peristiwa ini mengaku bahwa perbuatannya merupakan representasi dari ajaran agamanya. Dia menganggap diri bahwa tindakan pengeboman yang dilakukannya itu merupakan bentuk aktualiasasi dari ajaran agamanya. Tindakannya itu adalah perintah yang diberikan Tuhan baginya, sebuah perintah yang menjanjikan kehidupan surgawi bagi para pelaku. Sang teroris memakai nama Tuhan untuk melegitimasi tindakan brutal dan kejinya. Kehendak Tuhan dia kangkangi melalui kehendaknya yang merobek dan melenyapkan eksistensi korban melalui aksi pengeboman yang dilakukannya.

Sebelumnya, peristiwa aksi demonstrasi besar-besaran dilakukan oleh sekolompok Front Pembela Islam (FPI) pada 4 November lalu di Jakarta. Mereka menuntut Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok untuk ditindak secara hukum akibat dugaan telah melakukan penistaan terhadap agama Islam dalam hal ini terkait surat Almaidah 51. Dalam aksi demo tersebut, kita mendengar tebaran kebencian, kekerasan, caci makian, penodaan, serta sederetan bentuk tuturan lainnya yang merepresentasikan hal-hal negatif disampaikan oleh para pendemo terhadap Ahok yang diduga sebagai penista agama Islam. Mereka memakai nama Tuhan untuk mencanci maki Ahok yang telah menistakan agamanya bahkan demi nama Tuhan itu mereka mengancam untuk membunuh Ahok sebagai sang penista.

Tentu pada tataran ini, kita bertanya bahwa benarkah agama mengajarkan untuk bertindak dan bertutur demikian? Bukankah pada hakikatnya agama adalah sebuah jalan yang dipakai oleh manusia untuk mencapai pada suatu keselamatan, kedamaian, kebaikan, kelemahlembutan, cinta kasih, baik untuk kehidupan di dunia ini maupun bagi bekal untuk kehidupan di akhirat? Kenapa orang-orang beragama begitu sadis dan kejam bertindak dan bertutur demikian? Siapakah sebenarnya yang salah? Apakah agama ataukah orang-orang beragama?

Agama dalam wajah bengis ini seringkali dianggap sebagai momok menakutkan bagi orang-orang yang begitu mencintai perdamaian dan kehidupan ini. Alih-alih melihat agama sebagai sumber ketentraman dan kedamaian yang datang dari Tuhan bagi seluruh umat manusia tanpa dibatasi oleh sekat-sekat tertentu, pada nyatanya umat beragama cendrung merusaknya dengan tindakan-tindakan bengisnya terhadap kehidupan dan kemanusiaan. Yang lebih parah lagi bahwa mereka suka mereduksikan Tuhan itu menjadi milik ‘kami’ dan hanya untuk ‘kami’. Kata ‘milik’ di sini memang sudah mengandung nuansa negatif, sebab dalam kata ‘milik’ itu terdapat ikhtiar bahwa sang pemilik dapat melakukan apa saja terhadap apa yang dimilikinya itu. Sedangkan kata ‘kami’ di sini dalam arti bahwa orang-orang yang berada dalam satu lingkaran paham dan ideologi yang sama. Mereka seolah-olah adalah orang-orang terpilih, orang-orang yang sudah mampu menghancurkan tabir misteri dari Tuhan. Kemisterian Tuhan mereka kangkangi oleh pikiran naïf mereka. Pikiran yang sebenarnya sangat terbatas dan tidak mampu menjelaskan Tuhan yang tak terbatas itu. Mereka mengaku diri sebagai orang yang diutus Tuhan untuk menghancurkan orang-orang yang kafir yang menodai dan merusakan eksistensi Tuhan. Singkatnya mereka adalah orang-orang yang menganggap dirinya sebagai bala tentara Tuhan yang datang membela kerajaan Tuhan di muka bumi ini.

Berhadapan dengan fenomen orang-orang seperti ini, tentu menarik bagi kita untuk memikirkan secara kritis terkait dengan paham yang mendorong mereka berprilaku seperti ini. Kita mesti menjadi orang yang mengambil jarak dengan diri mereka, dalam arti bahwa kita tidak boleh mudah terpengaruh apalagi terperangkap dalam cara berpikir tersebut yang bagi saya sendiri sangat tidak masuk akal dan naif. Kita mesti menjadi seorang pencuriga berhadapan dengan pratek-praktek dari orang-orang picik dan naif seperti ini dengan menelusuri lebih dalam melampaui batas-batas netral terhadap fakta yang dilakukannya. Dengan demikian, kita akan menemukan berbagai motif yang menggerakkan mereka sehingga berpola pikir dan bertindak secara brutal tersebut.

Kebencian akan Kehidupan

Potret praktek tebaran kedengkian yang dilakukan oleh umat beragama dalam fenomena tersebut tentu menimbulkan keprihatinan kita bersama terhadap eksistensi agama dalam peradaban kita. Kita tentu akan bertanya bahwa apakah memang kehadiran agama dalam kehidupan kita memang sudah seperti itu ataukah kita tetap mempertahankan bahwa agama juga memiliki dan justru lebih banyak berkontribusi bagi peradaban umat manusia? Agama memang pada dirinya sendiri tidaklah jahat. Tentu argumentasi ini dapat kita terima apabila kita ingat dalam berbagai praktek orang-orang beragama yang sungguh-sungguh menghayati kehidupan beragamanya dengan benar. Misalnya sampai rela memberikan hidupnya untuk mewartakan keselamatan bagi umat manusia di dunia ini, yang betul-betul mengangkat harkat dan martabat manusia lewat tindakan altruistisnya, sebut saja seperti dalam Gereja Katolik ada Mother Theresa, Mahatma Gandi dalam tradisi Buddisme. Agama yang ditampilkan oleh orang-orang seperti ini memiliki wajah yang ramah terhadap kehidupan, pro kemanusiaan, damai dan sejuk di hati, indah dipandang mata, dan sederetan keutamaan lainnya.

Namun, agama akan berubah wajah ketika agama dipakai oleh orang atau sekelompok orang demi membenarkan niat dan kehendak busuknya untuk menindas orang lain bahkan sampai menghancurkan kehidupan. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki keluasan hati sehingga dengan muda diseret oleh sifat alamiahnya yang membuat mereka nekat melakukan tindakan brutal, kejam, kejih. Hati mereka penuh kedengkian.

Kedengkian yang ditebarkan oleh orang-orang beragama dalam wajah busuk seperti ini memang ada tidak tanpa alasan. Mereka melakukan semua itu karena memiliki pandangan tersendiri terhadap kehidupan ini. Kita dapat melihat bahwa praktek kedengkian yang dilakukannya merupakan ungkapan dari kebenciannya terhadap hidup. Orang beragama yang melakukan tindakan destruktif ini tentu memiliki tujuan ‘yang baik’. ‘Yang baik’ di sini diukur dari perspektif mereka bahwa mereka melakukan tindakan atau praktek kejahatan tersebut karena mendapatkan kesenangan dan kenikmatan darinya. Dengan praktek kejahatan, kebutuhan akan kepuasan diri ini akan terpenuhi baginya.

Orang-orang seperti ini merupakan deretan orang yang menganggap hidup ini tanpa arti. Mereka tidak mampu menemukan makna dalam kehidupannya dan oleh karena itu tidak memiliki upaya untuk menjadikan hidup ini lebih baik. Ketidakmampuan untuk menemukan makna dalam hidup ini akan memudahkan orang terseret dalam suatu pola pikir yang banal. Orang-orang yang hidup dalam kebanalan akan cendrung melihat hidupnya seperti dalam ungkapan Keith Weith – Filsuf dan Teolog Inggris – sebagai lelucon kebengisan atau kecelakaan yang disesalkan, mereka menyerah pada impuls-impuls yang sadistis dan destruktif.

Stigmatisasi bagi Yang Lain

Sebuah fakta dari praktek beberapa atau sekolompok orang beragama adalah kecendrungan untuk memberikan stigma terhadap yang lain. Mereka menganggap dirinya adalah lebih unggul dibandingkan dengan yang lain. Yang lain dalam pengertian ini adalah orang-orang atau sekelompok orang yang memiliki pandangan yang berbeda dengan mereka, orang-orang yang memiliki keyakinan yang berbeda dengan mereka. Dengan berpijak pada konsep bahwa dirinya paling benar, dirinya paling unggul, dirinya paling hebat – egoisme narsistik, mereka menjadi menutup diri terhadap yang lain. Sikap menutup diri terhadap yang lain ini merupakan akar kebencian dan benih kesombongan terhadap yang lain. Yang lain distigma sebagai yang jahat, yang buruk, sangat rendah, dan sebagai implikasinya bahwa yang lain tersebut dapat diperlakukan dengan tidak wajar. Dengan kata lain, stigmatisasi terhadap yang lain adalah sebuah undangan untuk melecehkan, menghina, mencaci maki, bahkan membabat habis dan memusnahkan yang lain tersebut.

Dari fenomena ini, dapat kita lihat bahwa praktek kehidupan beragama seperti itu sebenarnya lebih didorong oleh sebuah keinginan atau kehendak untuk berkuasa terhadap yang lain. Mereka melakukan segala sesuatu karena diseret oleh hasrat untuk berkuasa. Hasrat untuk menguasai ini biasanya terwujudnyatakan karena orang yang menghidupinya tidak mampu menghadapi segala persoalan hidup yang datang menimpahnya. Mereka lemah dalam bergulat dengan berbagai kompleksitas hidup yang terus-menerus berubah. Mereka tidak mampu menangani pluralitas realitas yang ada. Mereka adalah orang-orang galau yang membutuhkan sebuah kepastian, sebuah kepastian yang naïf – kebenaran fixed (Nietsche) – dalam arti tidak menghendaki perubahan dan antiprogresivitas. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki jiwa kreatif. Mereka adalah orang-orang yang dalam pandangan Nietsche – filsuf di penghujung pemikiran modern – sebagai manusia yang sakit, tidak memiliki keutamaan internal yang menjadi kekuatan atau pegangan hidupnya sehingga cendrung mencari hal-hal di luar dirinya untuk menyetir hidupnya atau dengan kata lain mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki kemampuan otonomi.

Warta Pembela Tuhan

Kalau kita semua setuju bahwa Tuhan adalah Yang Maha Tinggi, Maha Kuasa, Maha Besar, dan lain sebagainya, tentu pewartaan untuk membela Tuhan merupakan sesuatu yang keliru bagi kita. Dalam hati tentu kita akan bertanya bahwa bukankah dalam diri-Nya sendiri, Tuhan itu sudah adalah Sang Maha Kuasa, Maha Besar yang melampaui kekuasaan dan kekuatan manusia, dan oleh karena itu tidak menuntut pembelaan dari kita manusia yang lemah ini? Bukankah sebuah pembelaan terjadi hanya ketika apa atau siapa yang dibela itu berada dalam kondisi atau situasi yang lemah dan tak memiliki daya apapun? Pembelaan terhadap Tuhan akan menjadi sesuatu yang kontrakdiksi, karena ketika kita hendak membela Tuhan, yang kita bela itu sebenarnya bukan lagi Tuhan karena telah bertentangan dengan esensi-Nya yaitu segala konsep kemahaan tadi.

Berhadapan dengan hal ini, menarik bagi kita untuk mempertanyaakan lebih jauh terkait dengan tindakan dari orang-orang yang menyatakan dirinya sebagai pembela Tuhan. Dalam hal ini, kita mesti dan mau tidak mau mencurigai dan menggeledah motif dan tujuan hakiki mereka sehingga berani mengatakan demikian. Orang-orang tersebut sepertinya adalah deretan orang-orang yang membutuhkan pengakuan, membutuhkan kepedulian, gila hormat. Mereka adalah manusia lemah yang tidak merasa dipedulikan dan tidak diakui serta dianggap oleh orang lain dalam realita sosialnya. Mereka adalah orang-orang yang haus akan kekuasaan, orang-orang yang tidak berprestasi dalam hal keutamaan. Orang-orang yang menuntut penghargaan dari orang lain. Dalam hal ini, mereka memakai Tuhan untuk menyelubungi hasratnya tersebut agar hal tersebut kelihatannya elok, suci, dan lain sebagainya.

Persentuhan Langsung sebagai Alternatif

Berbagai persoalan yang ditampilkan oleh umat beragama dalam wajah bengis tersebut di atas telah menjadi suatu keprihatinan bersama. Orang-orang seperti ini dicap dan diklaim oleh masyarakat umum sebagai kelompok radikalisme atau ekstrimisme. Dari perspektif pandangan umum, mereka adalah orang atau sekelompok massa yang mengganggu dan akan merusak integritas kehidupan bersama. Keprihatinan ini telah mendorong berbagai pihak untuk melakukan penelitian mencari jawaban sebagai solusi untuk meredahkan potensi radikalisme, ekstrimisme tersebut. Berbagai jalan telah dilakukan yang dibantu dengan studi dari berbagai bentuk disiplin ilmu, namun hasilnya belum juga tercapai.

Berhadapan dengan jalan buntu ini, saya menemukan suatu pikiran yang bagi saya cukup mencerahkan budi dan dapat menggerakkan aksi nyata saya dalam menghadapi orang-orang yang telah dirasuki oleh nafsu radikalisme, ekstrimisme atas nama agama tersebut. Saya berpikir bahwa sudah seharusnya kita melakukan perjumpaan langsung dengan orang-orang seperti ini dan berusaha melakukan dialog dan kontak fisik dengan mereka. Melalui kontak fisik ini, bagi saya dapat meredahkan potensi kekerasan dari pihak tersebut. Mereka adalah orang-orang yang butuh cinta kasih dan perhatian dan kita semua, dan oleh karena itu sebagai sesama kita mesti berjumpa dan mendengarkan mereka melalui perjumpaan langsung atau fisik tersebut. Memang tawaran ini tentu akan memiliki resiko yang besar dan pasti hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keberanian yang kokoh dan kuat. Namun, hal ini tentu berangkat dari suatu pengandaian atau asumsi bahwa pada dasarnya manusia itu baik dan pasti akan dapat berubah. Pada akhirnya, persentuhan melalui kontak langsung secara fisik akan meredahkan emosi-emosi negatif destruktif mereka dan akan menyadarkan eksistensi mereka sebagai manusia.

Oleh: Yones Hambur,  mahasiswa STF DRIYARKARA – Jakarta

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password