breaking news New

Budaya Rumah-Kita Dan Ngopi Bareng Antar-Umat Beragama

Nusantara dikenal dengan keanekaragaman dalam kebhinnekaan. Suku, agama, ras, budaya, bahasa, menjadi kekayaan Indonesia. Indonesia juga kaya dengan panorama alamnya, seperti tempat-tempat unik nan indah. Namun dalam keanekaan dan keindahan tersebut, banyak persoalan muncul. Seperti salah satunya yakni persoalan isu-isu SARA yang sangat kontekstual terjadi. Tragedi 4 November diakhiri dengan kericuhan. Pembakaran Gereja Katolik terjadi di Kalimantan Tengah. Gambar Tuhan Yesus dan Bunda Maria terpajang di sandal jepit dan lembaran-lembaran Kitab Suci dijadikan pembungkus makanan (baca tulisannya Denis Siregar). Dan masih banyak isu SARA lainnya memicu perpecahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Persoalan seputar SARA tidak pernah berakhir. Para pemikir/penulis selalu menuangkan ide-ide segarnya, tetapi isu-isu SARA ini justru semakin menghebohkan. Cara, strategi, dan refleksi seputar isu-isu ini tidak mempan, bagaikan luka parah yang tak pernah sembuh terobati. Pertanyaannya, mengapa persoalan agama/isu-isu SARA ini sering terjadi di NKRI? Apakah yang salah dari strategi dan cara penyelesaiannya?       

Budaya rumah-kita merupakan bahasa simbolis yang dapat mengungkapkan kesadaran seluruh rakyat Indonesia. Rumah memiliki arti fisikal. Rumah juga memiliki makna filosofis yang diakui sebagai budaya rumah-kita. Budaya rumah-kita adalah budaya NKRI. Budaya NKRI menjadi landasan dan pedoman dalam penyelesaian isu-isu sara yang sedang kita hadapi bersama.

Isu-Isu Sara; Luka Lama dan Dokter Sejati

 Isu-isu SARA merupakan luka lama. Luka tak pernah mempan terobati. Luka nanah tercecer di antara perbedaan. Luka ini cepat kambuh bila terkena goresan-goresan kecil. Apalagi debu atau kerikil atau hal lain yang teramat besar mengenainya, luka ini semakin membengkak dan melebar di sekucur tubuh. Akibatnya Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika terancam. Rasa Perdamaian diombang-ambingkan. Pesona panorama alam NKRI mulai memudar. Lalu, apakah yang mau dibanggakan bila semuanya berantakan? Ini tentang luka dalam dada anak-anak bangsa yang berbeda keyakinan. Luka parah!! 

 Mengapa terjadi luka parah? Pertanyaan diamku pun bergetar di antara garis-garis hitam buku harianku. Faktor pemicu terjadinya luka anak-anak bangsa yakni fanatisme, politik meraja di ranah agama, kesalahpahaman, ketertutupan diri, pembenaran diri, ketidakmampuan mendekap perbedaan dan kurangnya relasi-cinta-dialog antaragama. Banyak faktor terjadinya luka sara dan bukan hanya yang telah saya tuliskan ini. Sesungguhnya, alasan-alasan ini tidak perlu, apabila setiap anak bangsa menyadari kehidupan liyan (orang lain), entah siapapun dia dan apapun agamanya, merupakan hidupku dan atau hidup kita juga. Bahwa, liyan adalah representasi dari kehadiran sang Pencipta. Liyan semartabat denganku, semartabat dengan kita. Sebab dia diciptakan sama seperti kita. Lantas, apa yang membedakan kita dalam perbedaan?

​Perbedaan itu memesona. Kebhinnekaan itu indah. Keanekaan itu bagaikan atmosfir, angin segar tertiup melambai-lambai di bumi Nusantara. Sangat memikat hati bila suara keanekaragaman dipadukan menjadi satu suara yakni suara kebhinnekaan. Suara kebhinnekaan bagaikan nada-nada gitar. Bila gitar tersebut dipetik atau dimainkan, entah dengan gaya klasik ataupun modern, bunyinya bervariasi, berirama dan menyejukkan hati. Apalagi bunyi gitar tersebut dipadukan dengan syair-syair lagu, ohhhh betapa indahnya keanekaan dalam kebhinnekaan nusantara ini.

Kesadaran akan pesona keanekaraman dan kebhinnekaan merupakan motivasi sekaligus harapan agar luka lama diobati dengan pil dari Sorga. Pil dari Sorga merupakan obat manjur dari Allah Yang Maha Kuasa. Allah adalah dokter sejati. Hanya dokter sejati ini dapat menyembuhkan luka lama anak-anak bangsa.

Seperti diketahui, kita memiliki ajaran berbeda dan cara berbeda pula untuk berjumpa dengan Sang Dokter Sejati. Sekali lagi, Allah adalah Dokter Sejati kita meski kita berbeda agama. Kita yang sedang tersakiti wajib pergi ke rumah sakit. Rumah sakit tersebut lebih dekat dari sejengkal jauhnya. Atau jarak rumah sakit itu tidak dapat diukur dengan ukuran jarak. Rumah sakit itu juga tidak dapat dihitung dengan jarum waktu. Rumah sakit-Nya berada di hati kita masing-masing.

Di rumah sakit ini, Dokter Sejati hadir dengan segala kewibawaan-Nya. Dia menyediakan pelbagai obat mujarab. Variasi jenis obat tersebut sangat beraneka sesuai dengan penyakitnya. Kualitasnya sangat luar biasa dan terjamin dapat menyembuhkan pelbagai penyakit. Dengan beriman kepada-Nya, penyakit yang diderita manusia disembuhkan termasuk luka lama anak-anak bangsa Indonesia.

Bersegeralah berobat!!! Jangan menunggu. Sang Dokter Sejati sedang menunggumu dengan cintakasih. Rasa kepedulian-Nya melebihi rasa cinta kita terhadap pacar/sang kekasih. Cinta-Nya luar biasa untuk yang sakit-siapapun dia dan apapun jenis penyakitnya. Cinta-Nya menyembuhkan. Kepedulian-Nya menyegarkan. Cinta dan kepedulian-Nya adalah pil mujarab.

Banyak kesaksian tentang Dokter Sejati ini. Wajah buta dapat melihat. Sepasang telinga yang tuli dapat mendengarkan suara bahkan bisikan-bisikan. Kaki yang lumpuh dapat berjalan. Penyakit menular disembuhkan. Mental yang membatu terobati. Orang gila menjadi normal. Penyakit psikologis dapat ditahirkan. Bahkan orang mati pun dihidupkan-Nya kembali. Lantas, penyakit apalagi yang tidak dapat disembuhkan? Bukankah luka-luka lama anak-anak bangsa Indonesia disembuhkan oleh-Nya?

Kuasa Sang Dokter Sejati tersebut menguatkan. Dia memiliki banyak cara untuk menyembuhkan. Jika demikian, anak-anak bangsa yang terserang virus dan luka lama pasti disembuhkan. Asalkan kita datang kepadanya dengan iman, kesadaran, keterbukaan, harapan akan perdamaian, kebhinnekaan dalam kemajemukan dan harapan akan pertobatan. Yakinlah, Tuhan pasti menyembuhkan, karena Dia-lah Sang Penyembuh, Sang Pendamai, Sang Pemersatu, Sang Cinta, dan Sang…,Sang lainnya.

Budaya Rumah-Kita

Secara ringkas, rumah merupakan bangunan yang terdiri dari tiang penopang, dinding, ruas-ruas atap. Rumah memiliki kamar (kamar pribadi, kamar keluarga dan kamar tamu), ruang privat keluarga, ruang tamu, dan teras. Ayah, ibu, anak-anak, dan atau keluarga tinggal tetap, “at home” (betah) di dalam rumah. Filosofi rumah mengandung nilai-nilai kehidupan. Rasa kekeluargaan, cintakasih, persaudaraan, perdamaian, dialog/diskusi, kerjasama menjadi hakikat dari identitas rumah. Masih banyak nilai lain menjadi kekhasan rumah. Filosofi rumah menjadi budaya rumah-kita.

Budaya rumah-kita merupakan bahasa perbandingan untuk menerangkan realitas NKRI. NKRI dianalogikan sebagai rumah-kita. Rumah-NKRI merupakan rumah bersama; rumah seluruh manusia Indonesia. Fondasi rumah-NKRI merupakan Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Tiang penopangnya disebut kebhinnekaan. Dinding serta ruas-ruas atapnya yakni keanekaragaman. Dan ruang tamu dan atau teras rumah-kita adalah ruang dialog atau diskusi.

Tragedi 4 November, pembakaran Gereja Katolik, dan isu-isu SARA lainnya merupakan persoalan manusia Indonesia. Persoalan tersebut bukan hanya persoalan orang-orang di propinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta (DKI) saja. Persoalan tersebut tidak hanya terkait umat beragama Islam dan Kristen Protestan atau Katolik. Persoalan mengenai isu-isu SARA menjadi tanggung jawab bersama seluruh rakyat Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Sebab persoalan-persoalan tersebut terjadi di rumah-kita. Oleh karenanya, semua penghuni rumah-kita wajib menyelesaikan isu-isu SARA tersebut.

Rumah-kita, NKRI, memiliki keanekaan, nampak bagai pelangi, berwarna-warni, elok permai dan indah dipandang mata. Keanekaan dan kebhinnekaan NKRI memesona. Di tengah pelangi keanekaan, ruang keagamaan tidak menutup diri. Pintu kamar dan jeruji jendela rumah-NKRI dibuka lebar. Biarkan angin segar berhembus hingga di sudut kamar. Dan kita wajib keluar dari ketertutupan menuju ruang terbuka; tempat kita bersua di ruang tamu atau mahligai rumah-kita

Ngopi Bareng yuk!!!

Seperti dikatakan di atas, ruang tamu merupakan ruang dialog. Ruang tamu menjadi milik semua penghuni rumah-kita (NKRI). Setiap pribadi, dengan bebas, menggunakan ruang tersebut. Dengan tahu dan mau, hak dan kewajiban, berekspresi di ruang bersama ini. Ruang tamu dijadikan tempat perjumpaan. Tempat, di mana semua anggota menikmati “ngopi bersama”. Kita mewujudkan budaya ngopi antar umat beragama. Ngopi bareng yuk, my friends….

Ngopi bareng tidak sekedar menikmati secangkir kopi hitam/kopi susu/es kopi. Namun yang dimaksudkan ngopi bersama yakni ngobrol pintar, seperti dikatakan oleh para sahabat, aktor komunitas “Ngopi” di Malang. Ngobrol pintar berarti dialog cerdas, terbuka, apa adanya di ruang tamu. Setiap pribadi hadir dan mendengarkan sharing, berdiskusi, berdialog dengan rasa kekeluargaan. Waktu perjumpaan dan dialog tidak memiliki batasan-batasan. Semua orang menjadi aktor cintakasih, dialog, perjumpaan, persaudaraan, perdamaian. Setiap pribadi menjadi pewarta nilai Pancasila dan kebhinnekaan.

Bumi Nusantara sedang diserang isu-isu Sara. Untuk itu, seluruh rakyat Indonesia bertamu di ruang tamu rumah-kita. Kita menikmati Ngopi bareng. Ngopi bareng bermaksud untuk berdialog antaragama berdasar pada budaya rumah-kita. Sambil menikmati kopi susu/es kopi, eh, kalo bukan itu, nikmati kopi ala Maggarai Flores aja deh, biar lebih hangat, menggairahkan, pokoknya wwaaooo gitu!!! Rasakan sensasinya…. Belum coba??? Hhhhhhhhmmmm enak lho…. Untuk itu, arahkan pandangan ke Manggarai Flores sana…saya jamin, kamu akan tahu, gimana enaknya kopi Manggarai. Kamu akan tahu juga betapa indahnya cara Ngopi orang Manggarai. (Sorry bro, bagian ini hanya selingan aja….tapi baiklah kalo coba….hhheee)

Setiap umat beragama wajib ngopi bareng, asalkan jangan di luar atau keluar dari budaya rumah-kita ya….Kita semua berdialog cerdas, kreatif dan inovatif. Sikap rendah hati, saling mendengarkan sharing, terbuka terhadap ajaran agama lain itu sangat penting. Bila perlu kita saling belajar tentang kebenaran ajaran agama tanpa mengurangi inti ajaran agama kita sendiri. Inilah seni merawat toleransi antar-umat beragama.

Setelah Ngopi di ruang tamu (ruang dialog) kita melakukan sosialisasi pentingnya seni merawat sikap toleransi kepada saudara-saudara kita sekamar (saudara-saudara seiman). Barangkali ada di antara saudara kita belum berobat ke Sang Dokter Sejati karena alasan tertentu. Atau mereka tidak mau ke Dokter Sejati karena tidak mau disembuhkan. Atau mereka mau disembuhkan tetapi tidak mengenal Dokter itu. Atau mereka mau disembuhkan dan tahu Dokter sejatinya tetapi tidak mau tahu dan tidak mau berobat. Anda yang sudah disembuhkan dan sudah berdialog antar-umat beragama, baiklah anda menjadi aktor atau perpanjangan tangan-Nya untuk menyadarkan mereka agar mewujudkan budaya rumah-kita. Oleh karena itu, budaya rumah-kita, NKRI, menjadi landasan dan pedoman dalam membangun relasi societas (tata hidup bersama) di Indonesia.

Oleh: Nasarius Fidin.
 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password