breaking news New

Menjadi Guru yang Asyik

Oleh: Yosef Lorensius S.*

Guru memang harus asyik. Tanpa guru yang asyik, sangat sulit menemukan pembelajaran yang menyenangkan.

Tuntutan agar guru asyik dan menikmati dalam mendidik adalah mendasar. Yang dihadapi guru adalah pribadi yang berpikir dan diajak untuk beljar. Output pendidikan juga sangat lekat dengan menghasilkan generasi yang mampu bebas berpikir dan kreatif.

Hal ini menjadi dasar mengapa Harian Kompas dalam kolom pendidikan mengupas tentang Dicari: Guru yang Asyik. Apakah memang sudah tidak ada guru yang asyik? Sebegitu sulitkah menemukan guru yang menikmati panggilannya sebagai pendidik ?

Dalam hasil jajak pendapat Kompas pada April 2016 menyebutkan bahwa 46,1 persen siswa dan siswi SMA menilai bahwa guru yang asyik adalah guru yang pandai mengajar di kelas. Penyampaian yang menarik dan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti kaum muda bisa membantu murid (SMA) mencerna aneka pelajaran.

Efek belajar dengan guru yang asyik dapat meningkatkan suasana nyaman di sekolah. Sebanyak 85,6 persen responden menyatakan akan lebih semangat belajar jika diajar guru yang disukai. Yang menarik adalah bahwa keberadaan guru yang asyik ternyata tidak langka. Sebanyak 98,4 persen guru yang di sekolah dinyatakan asyik. Hal ini tentu menunjukkan angin segar dan preseden yang baik.

Dari hasil riset Kompas di atas kita melihat beberapa hal yang penting. Pertama, guru harus hadir sepenuhnya dalam kelas untuk “melayani”siswa. Guru merupakan sosok yang sangat dinanti kehadirannya oleh siswa. Namun, itu tentu tergantung bagaimana kita menghadapi anak didik. Jika kita dianggap asyik dan menyenangkan, keberadaan kita akan sangat dinanti. Demikian pun sebaliknya.

Kedua, soal isi pembelajaran. Jangan berpikir bahwa menyenangkan siswa itu dengan memberikan waktu bebas atau beraktivitas sesuai dengan kemauan mereka. Pada dasarnya, siswa sudah sadar betul dengan kebutuhannya. Dia bahkan sudah pada taraf menilai apakah yang diberikan guru itu sudah sesuai dengan kebutuhannya. Mereka menyadari bahwa kadang mereka hanya ingin bersenang-senang di kelas. Namun, mereka tidak menyukai pembelajaran yang tidak ada isinya.

Ketiga, tentang cara penyampaian. Suatu hal bahwa bahasa itu berkembang sesuai zamannya. Tidak ada salahnya, guru sesekali mengajar dengan bahasa anak muda. Lebih tepatnya, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Tentu tantangan guru guru adalah menyampaikan hal yang sulit dalam kemasan yang sederhana dan mudah dimengerti.

Keempat, soal kedekatan dengan siswa. Sudah tidak zamannya lagi guru hadir hanya untuk mengajar di kelas. Guru tidak lagi menggunakan prinsip setelah mengajar tugasnya selesai. Perlu disadari bahwa persoalan siswa saat ini lebih kompleks. Persoalan mereka tidak hanya soal pendidikan, namun paling besar adalah pergaulan dan keluarga. Saat keluarga tidak memiliki waktu untuk sekadar meluangkan waktu untuk mendengar, siswa kadang berharap ada sosok yang bisa diajak bicara. Tentu guru harus membuka hati soal hal ini. Demikian juga saat mereka disishkan dari pergaulan dan menghadapi masalah dalam pergaulan, mereka kadang membutuhkan guru untuk “ada” di samping mereka.

Kelima, soa keterbukaan dan budaya dialog. Sebagai seorang guru, seolah sikap dasarnya adalah menggurui. Menggagap bahwa siswa tidak tahu apa-apa, atau belum tahu banyak tentang fenomena di dunia ini. Keterbukaan merupakan bentuk dari menghargai siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki pengetahuan. Tugas guru adalah menambah pundi-pundi pengetahuannya. Guru juga membangun kultur dialog dalam pembelajaran supaya siswa terbiasa dan berani menyampaikan pendapat. Keterbukaan juga tentang menerima kritik dari siswa. Jika gurunya memiliki kebesaran hati menerima kritik, siswa dengan sendirinya menggali nilai dari proses tersebut.

​Problem pendidikan yang makin kompleks menuntut guru sebagai tokoh superhero. Saat siswa terbiasa dengan budaya serba cepat dan mengabaikan proses, guru harus sabar dalam mendidik. Guru juga sudah dituntut untuk memfokuskan pembelajaran mereka pada siswa sebagai subjek pembelajaran.

Menjadi guru yang asyik bukan lagi sebuah tuntutan, namun menjadi sebuah kebutuhan. Kebutuhan yang harus secara mau tidak mau dipenuhi oleh setiap insan yang bangga menjadi guru.

Menjadi guru bukanlah sebuah pekerjaan. Menjadi guru harus didasari oleh panggilan luhur untuk mendidik anak bangsa. Sebagai sebuah panggilan, menjadi guru harus dijalani dengan sepenuh hati dalam sikap pelayanan.

​Guru yang hebat tentu guru yang mampu menginspirasi muridnya. Guru yang diingat dan dikirimi ucapan selamat hari guru saat muridnya tahu momen hari guru. Guru yang membuat muridnya mengerti tentang pendidikan dan pengajaran karena terinspirasi gurunya. Guru yang tak segan dipeluk muridnya karena dia merasa bahwa guru tersebut adalah sosok yang sangat dicintai dan dihargainya. Selamat Hari Guru 2016 untuk semua guru di seluruh Indonesia. Jadilah guru yang asyik.

Penulis adalah Guru salah satu sekolah swasta di Jakarta. 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password