breaking news New

Albania: Negeri Tempat Para Pemeluk Agama Saling Bergandengan Tangan

Kabarnusantara.net – Paus Fransiskus memuji negeri kecil yang terletak di semenanjung Balkan atas toleransi agamanya yang patut diperhatikan. Paus mengatakan toleransi agama ini semestinya menjadi contoh untuk seluruh orang di dunia.Meskipun ini adalah pertama kalinya saya bertemu Hasib Buba, saya sudah mendengar suaranya beberapa kali menggema di jalanan yang berkelok-kelok dan di gang-gang di Berat, sebuah kota kecil di sebelah selatan Albania.

Dengan rambut hitam dibelah rapi, jenggot yang terpelihara dengan baik dan berkemeja panjang, pemimpin agama berusia 25 tahun tersebut menjelaskan bahwa sebagai seorang muazin, salah satu kewajibannya adalah untuk mengumandangkan azan, panggilan untuk salat yang diserukan dari menara masjid, lima kali setiap hari.

Dia merupakan gambaran seorang Muslim yang taat, tapi saya terkejut setelah mengetahui ini tidaklah selalu seperti itu.

“Saya sebenarnya dibesarkan dengan ajaran Kristiani,” Buba menjelaskan, “dan selama bertahun-tahun saya menjalani ajaran tersebut. Saat saya lebih dewasa, saya berdebat dengan salah satu teman saya, yang seorang Muslim. Debat tersebut berlangsung berbulan-bulan, dan untuk mempersiapkan diskusi kami dengan lebih baik, saya mulai membaca-baca tentang Islam, saya berusaha belajar semuanya tentang agama tersebut.”

“Akhirnya, saya memenangkan debat, tapi proses tersebut membawa saya menanyakan tentang keyakinan yang saya anut. Jawaban-jawaban yang disediakan oleh Islam lebih masuk akal bagi saya, jadi saya masuk Islam,” ujarnya.

Walaupun pilihan untuk masuk Islam mungkin terlihat mengejutkan bagi beberapa orang, kenyataannya Albania telah lama dipandang sebagai tempat yang mencerminkan toleransi agama dan keharmonisan.
Agama yang paling banyak dianut adalah Islam dan Kristen, dengan jumlah Muslim lebih dari setengah jumlah total penduduk. Tapi, masih ada persatuan di antara orang-orang di negeri tersebut. Gereja-gereja dan masjid-masjid sering kali berada di jalanan yang sama, dan pernikahan antar agama diterima secara luas dalam budayanya.

Kota Berat khususnya, adalah penting sebagaimana Museum Onufri di sana yang melambangkan kerukunan. Karya seni Albania abad ke-18 ini melukiskan suatu adegan Kristiani dengan menara-menara masjid terlihat menjulang sebagai latar belakangnya dan lukisan ini disanjung-sanjung sebagai simbol keharmonisan agama yang terkenal di negara tersebut.

Pada kunjungannya tahun 2014, Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik, memuji negeri di semenanjung Balkan tersebut atas toleransi beragama mereka yang terkenal.

Selama pidatonya di Tirana, Albania, Paus Fransiskus memuji “hidup berdampingan secara damai” atas agama-agama yang ada di negeri tersebut, dengan menambahkan, “ini khususnya pada saat-saat seperti sekarang di mana semangat agama yang murni dirusak oleh kelompok ekstrem, dan di mana perbedaan agama diputarbalikkan.”

Dengan didorong oleh rasa ingin tahu bagaimana penduduk Albania tetap bersatu, saya bertanya kepada Buba mengenai hal ini.

“Albania selalu ada keterbukaan dalam menerima orang lain. Jika Anda menelusuri sejarah negara ini, Anda melihat keharmonisan di setiap abad. Bahkan pada waktu zaman Kesultanan Utsmaniyah. Banyak orang menghubungkannya dengan komunisme, tapi saya tidak mempercayainya. Jika Anda menengok pada sejarah sebelumnya, hal itu tidak masuk akal.”

Buba mengacu pada periode antara tahun 1944 sampai 1992 ketika Albania di bawah rezim komunis ketat yang dimulai oleh diktator Enver Hoxha.

Selama periode rezim tersebut, Albania menjadi negara yang terisolasi penuh dengan hampir tanpa ikatan dengan dunia luar.

Pada 1967, Hoxha memperketat ‘cengkeramannya’ terhadap negara tersebut bahkan melarang semua agama dengan menyatakan Albania adalah negara ateis pertama di dunia. Selama waktu itu, gereja-gereja dan masjid-masjid disita oleh militer, dirusak atau dijadikan bioskop atau ruang dansa. Para anggota kependetaan dicopot gelarnya, dipermalukan dan -dalam beberapa kasus- mereka dikurung.

Beberapa orang berspekulasi bahwa kekerasan untuk menyingkirkan agama-agama mengakibatkan Albania mengadopsi pola pikir sekuler, dan negara tersebut tidak mengalami pertentangan agama karena kepercayaan bukanlah unsur penting kehidupan bagi banyak orang saat ini.

Buba mempunyai pendapat berbeda dan menolak spekulasi tersebut, menurutnya itu hal yang sinis.

Untuk mengilustrasikan bagaimana keharmonisan agama ada di Albania, dia memberi tahu contoh yang ada baru-baru ini di Malbardh, sebuah desa kecil di Albania utara.

Beberapa tahun lalu, daerah kecil tersebut menjadi berita utama di seluruh negeri saat penduduk Muslim lokal menggalang dana dan membangun kembali gereja Katolik satu-satunya di sana yang diruntuhkan bersamaan dengan tempat-tempat peribadatan lainnya selama rezim Hoxha.

Malbardh bukan satu-satunya daerah yang mempunyai cerita-cerita seperti ini. Leskovik, sebuah desa dekat perbatasan Yunani, dikenal karena tempat peribadatan untuk umum yang dibangun dari reruntuhan masjid yang rusak pada waktu Perang Dunia kedua.

Reruntuhan tersebut tetap tak tersentuh selama era komunisme, tapi sekarang tempat peribadatan tersebut, yang terletak di lantai dasar menara masjid terdahulu, sering dikunjungi oleh umat Muslim dan Kristen untuk berdoa.

Cerita-cerita ini khususnya penting saat ini. Dengan rasa ketakutan yang ditumbuhkan oleh kelompok-kelompok ekstrem, tampaknya memisah-misahkan agama hanya mendorong ketakutan menjadi lebih besar.

“Saya mendengar semua perbincangan tentang orang-orang ingin membangun tembok dan melarang penganut kepercayaan-kepercayaan tertentu masuk ke negara-negara tertentu,” kata Buba. “Ini hanya akan menumbuhkan kebencian dan kesalahpahaman. Alasan keharmonisan ada di Albania adalah karena kita saling melibatkan diri dengan sesama. Kita berdebat, kita berdiskusi, dan kita mendidik diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita.”

Selama dua tahun saya di negeri ini, saya menyaksikan apa yang dikatakan Buba secara langsung.

Ada berbagai acara keagamaan Muslim dan Kristiani yang dihadiri oleh kedua penganut agama tersebut. The Day of the Blessed Water, contohnya, adalah hari libur Kristen yang dirayakan oleh para peserta dengan menyelam ke dalam sungai untuk mencari sebuah salib, tapi acara ini terbuka untuk semua dan ada banyak orang Muslim sebagai pemenangnya selama beberapa tahun ini.

Sementara itu, Buba menjelaskan bahwa sudah bukan hal tak lazim bagi orang Kristen untuk berpartisipasi ikut pesta selama hari raya Idul Fitri, yang mengakhiri bulan puasa Ramadan.

Dengan keterlibatan dengan sesama begitu seringnya dan dengan cara-cara yang berarti, umat Muslim dan Kristen Albania telah menciptakan komunitas kuat yang didirikan pada sikap memahami dan menghormati.

Susah untuk mengatakan apakah dunia akan mengambil contoh dari sikap Buba dan Albania dan menerapkannya di hati mereka, tapi ada sesuatu yang bisa dikatakan dari negara kecil di semenanjung Balkan tersebut di mana anak-anak tumbuh besar mendengar azan dan lonceng gereja dari luar jendela mereka. Bagi mereka, hidup berdampingan dan keharmonisan menjadi hal normal selayaknya bernapas.(RR/KbN)

Versi bahasa Inggris artikel yang ditulis oleh Quinn Hargitai.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password