breaking news New

Kawan8 Bedah Rekayasa Kasus JIS Bersama Himakum Unas

Jakarta, Kabarnusantara.net – Kawan8 bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Ilmu Hukum (Himakum) Universitas Nasional Jakarta akan membedah Kasus JIS pada hari Selasa (29/11) di Aula Universitas Nasional.

Kawan8 merupakan perkumpulan relawan netizen yang peduli dengan 8 terpidana kasus JIS yang sempat ramai dibicarakan publik beberapa bulan lalu.

Berikut term of reference yang dibuat oleh Kawan8:

Pada medio 2014 publik dikejutkan oleh pemberitaan mengenai terjadinya kekerasan seksual yang terjadi di sekolah internasional, Jakarta Intercultural School (JIS). Seluruh masyarakat mengecam atas peristiwa tersebut. Delapan orang, yang terdiri dari 2 pengajar (Neil bantleman dan Ferdinand Tjiong) dan enam petugas kebersihan (Agun Iskandar, Virgiawan, Syahrial, Zaenal, (Alm) Azwan serta Afrischa Setyani) yang dituduh saat ini dipenjara.

Dipertengahan 2016, kasus ini tiba-tiba kembali mencuat. Berawal dari twitter dan akhirnya menjadi viral didunia maya, sehingga berbagai media kembali mengangkat kasus ini. Adalah akun @kurawa yang membuat investigasi kembali atas kasus ini dan menyimpulkan ini merupakan kasus rekayasa yang berdasarkan investigasi dengan niat jahat dan tuntutan palsu, serta telah mengorbankan delapan orang kedalam penjara dan satu orang tewas dalam tahanan polisi.

Investigasi ini memaparkan kelemahan-kelemahan bukti yang menjerat delapan orang tersebut. Dengan kesimpulan, kasus kekerasan seksual tersebut tidak pernah ada. Mata publik segera terbuka, mulai dari pemberitaan hingga berbagai kegiatan mulai disuarakan agar hakim Mahkamah Agung (MA) meninjau kasus ini secara teliti demi tegaknya keadilan. Saat kasus ini diperiksa oleh polisi, kejaksaan hingga diputus ditingkat Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi hingga Mahkamah Agung, opini publiklah yang lebih banyak berperan. Sehingga bukti-bukti lemah dan dipaksakan yang diajukan oleh polisi dalam pengadilan hingga tingkat Mahkamah Agung (MA), menjadi kabur oleh pembentukan opini yang sudah terbentuk. Keadilan tidak mendapatkan tempat.

Saat itu, Ibu dari para anak yang mengaku menjadi korban, awalnya mengajukan tuntutan perdata senilai 12,5 juta US Dollar kepada pihak sekolah. Setelah menggandeng pengacara OC Kaligis (yang tertangkap KPK karena kasus suap) tuntutan tersebut naik menjadi 125 juta US Dollar, atau sekitar Rp. 1,6 Trilyun.

Angin segar datang dari Singapura dan Belgia. Hasil visum Anuscopi yang dilakukan oleh ibu dari AD, -salah satu anak yang dianggap menjadi korban- di RS. KK Women’s and children’s hospital Singapura tidak menunjukkan adanya kekerasan seksual, seperti yang disangka oleh ibu si anak. Pengadilan Singapura telah memerintahkan ibu dari AD untuk membayar ganti rugi atas hal tersebut.
Sedangkan hasil visum di rumah sakit Belgia yang dilakukan oleh ibu dari MAK, anak pertama yang mengaku korban, ternyata juga menunjukkan si anak tidak menderita penyakit herpes.

Namun, lagi-lagi pengadilan kita abai atas temuan tersebut. Demi asas keterlanjuran dan mengamini opini publik yang terbentuk di awal kasus, Mahkamah Agung (MA) menyatakan delapan orang tersebut bersalah.

Sekali lagi, keadilan dibunuh oleh pengadilan

Hingga saat ini, dari tujuh terpidana (satu orang tewas dalam tahanan polisi dengan luka lebam), baru dua orang yang telah keluar salinan putusan Mahkamah Agung, yakni Neil dan Ferdi. Selebihnya, lima orang lainnya Agun Iskandar, Virgiawan, Syahrial, Zaenal dan serta Afrischa Setyani, masih menunggu surat salinan putusan kasasi mereka, agar mereka dapat memperjuangkan keadilan dan kebebasan mereka melalui tahap Peninjauan Kembali (PK).

Kasus ini menjadi bukti pentingnya untuk menata sistem hukum di Indonesia. Opini publik yang terlanjur dibentuk, secara nyata menjadi pertimbangan para penegak hukum dalam mengambil keputusan. Dengan konsekuensi, delapan orang harus terenggut kehidupannya dan terpisah dari keluarganya.

Diselenggarakannya kegiatan ini untuk mengingatkan kembali publik mengenai pentingnya proses hukum yang berlandaskan keadilan agar kebenaran terungkap. Dalam kasus ini kita akan menemukan fakta obyektif dan fakta hukum bahwa dua pengajar dan enam orang petugas kebersihan tersebut tidak bersalah. Mereka telah menjadi korban investigasi dengan niat jahat, tuntutan palsu dan peradilan sesat.

Tentang KAWAN8

Berdiri pada 26 April 2016, Kawan8 awalnya merupakan perkumpulan relawan netizen yang sadar bahwa kasus ini sarat dengan rekayasa. Maraknya dukungan publik dan bertambahnya relawan dari berbagai latar belakang, Kawan8 banyak melakukan kegiatan untuk mengampanyekan kasus ini dengan tujuan para terpidana dapat menghirup udara bebas dan negara merehabilitasi nama baik mereka. Kawan8 merupakan organisasi pro bono dan tidak memiliki afiliasi politik, sosial atau hubungan dengan pihak mana pun.

Saat ini para relawan telah mengumpulkan sumbangan untuk perjuangan pembebasan para korban rekayasa kasus ini.

Kawan8 mengumpulkan donasi di https://m.kitabisa.com/justice4theinnocents yang asas penggunaannya transparansi dan diumumkan terbuka kepada publik, setelah diaudit oleh lembaga audit independen.(Kawan8/Hipa/KbN)

21 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password