breaking news New

Ahok, Fenomena Baru Menjadi Pusat Perhatian Dunia

Jakarta,Kabarnusantara.net– Ahok menjadi fenomena baru yang kini menjadi pusat perhatian dunia. Gubernur DKI Jakarta nonaktif itu telah membuat perhatian semua orang berpusat ke Jakarta, ibu kota negara Indonesia. Tak saja masyarakat Indonesia, hampir seluruh masyarakat dunia pun ikut melirik Jakarta.

“Ada 101 daerah yang ikut Pilkada 15 Februari 2017 mendatang, tapi ramehnya hanya di Jakarta. Seolah-olah Pilkada ini hanya ada di Jakarta”, ujar Peneliti Formappi, Sebastian Salang, dalam diskusi publik bertajuk ‘Gangguan Kampanye: Bentuk Penistaan Demokrasi’ yang diselenggarakan di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, (23/11).

Menurut dia, Jakarta merupakan tempat pertarungan berbagai macam kepentingan politik. Media, menjadi salah satu alasan kenapa Ahok yang bertarung pada Pilkada Jakarta menjadi fenomena baru. Demokrasi saat ini tak terlepas dari peran media yang berkontribusi sangat besar.

“Pilkada Ibukota menjadi menarik, itu karena keberadan media berpusat di Jakarta”, ujarnya.

Dia juga mengakui, fenomena Ahok telah menjadi pusat perhatian dunia karena semua kegiatan dan aktivitas Calon Gubernur nomor unut 2 itu selalu diberitakan dan menjadi pusat pemberitaan hampir semua media. “Semua hal tentang Ahok diberitakan”, sambungnya.

Lebih lanjut Sebastian mengatakan, Jakarta menjadi tempat berkumpulnya orang hebat. Tak saja orang hebat, dia juga mengakui, jika di ibukota negara Indonesia ini terdapat banyak orang aneh.

“Semua orang hebat kumpul di Jakarta. Yang aneh juga ada di Jakarta. Kalau tak percaya, pagi-pagi bapak ibu datang saja ke Bundaran HI, di sana ada macam-macam manusia”, ujarnya.

Lebih lanjut Sebastian mengungkapkan, dinamika politik Jakarta menjadi barometer untuk seluruh wilayah di Indonesia. Dunia internasional pun ikut memperhatikan dinamika politik dan berjalannya pesta demokrasi di ibukota negara ini.

Menurut dia, satu fenomena baru yang terjadi pada Pilkada DKI Jakarta kali ini adalah tak munculnya peran partai politik yang biasanya tercium dengan transaksi dan mahar politik.

Tapi, di DKI Jakarta muncul sebuah gerakan baru yang dinamakan generasi digital. Menurut dia, gerakan ini perlu diapresiasi, karena menggambarkan bahwa generasi muda berkontribusai terhadap perkembangan demokrasi. Tapi di satu sisi, gerakan ini menjadi satu tantangan bagi senior yang sudah lama menjadi aktor politik tanah air.

“Fenomena DKI Jakarta mematahkan kenyataan anak muda tidak ikut dalam politik. Anak muda justru buat kejutan. Politik hari ini di Jakarta adalah gambaran dinamika politik ke depan. Tren ini gambaran positif”, ujarnya.

Demokrasi dipukul mundur oleh generasi digital

Menurut Sebastian Salang, perkembangan demokrasi saat ini menjadi suatu yang perlu diwaspadai. Sebab, gerakan generasi digital, selain mengganggu politik yang biasanya diperankan oleh tokoh senior, kini mengancam perkembangan demokrasi, bahkan mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Generasi muda telah memainkan perannya dalam pertarungan politik dengan memanfaatkan perkembangan tekhnologi.

Menurut dia, demokrasi yang kita harapkan adalah demokrasi yang santun, yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Tapi, harapan itu dipatahkan dengan munculnya demokrasi digital yang perannya cukup berdampak pada fenomena politik saat ini.

“Perkembangan yang bagus perlahan bergeser ke pinggir, hingga mucul politik yang penuh serba-sangka, penuh intrik dengan eksploitasi suku, ras dan agama. Ini yang kemudian menjadi kekhwatiran kita”, tegasnya.

Terkait dengan adanya penghadangan dan penolakan pada saat kampanye yang dilakukan oleh sekelompok massa terhadap pasangan calon gubernur dan wakil gubernur nomor urut 2, Ahok-Djarot. Sebastian berpendapat, perbuatan tersebut merupakan gaya politik yang kuno.

“Padahal demokrasi kita sudah baik, tapi masih ada aksi semacam itu. Ini yang dinamakan cara politik kuno, dan bukan bagian dari demokrasi”, tegasnya.

Menurut dia, demokrasi sudah memberi ruang dan sarana yang cukup luas bagi kita. Pada saat kampanye, semestinya masyarakat memanfaatkannya dengan baik. Karena kampanye menjadi ruang bagi masyarakat untuk bertanya dan menyampaikan aspirasi kepada pasangan calon.

Pada saat kampanye pula, pasangan calon memperoleh sarana untuk menggali dan mencari tahu persoalan masyarakat. Sehingga dengan demikian, demokrasi semestinya kita bisa rasakan, salah satunya pada saat kampanye.

Jika hal ini masih terjadi, ini menandakan bahwa kita belum merdeka dalam berdemokrasi.

Dia berpendapat, untuk massa yang tidak senang dengan salah satu pasangan calon, tidak boleh melakukan aksi seperti penolakan dan penghadangan.

“Cukup dengan tidak memilih pasangan calon tersebut. Sebab, masayarakat punya hak untuk menilai dan memilih mana pasangan calon yang baik dan mampu membawa perubahan pembangunan ke arah yang lebih baik”, tegasnya.

Untuk tetap menjaga demokrasi yang baik dan terwujudnya kehidupan yang kondusif, dia berharap agar masyarakat menghargai kerja aparat penegak hukum.

“Ini tamparan luar biasa bagi kita. Kalau kita mau selamatkan bangsa ini, kita dorong aparat penegak hukum agar bisa menjalankan tugasnya dengan baik, professional dan mengedenpankan independensi, serta tidak terpengaruh dengan tekanan oleh pihak mana pun”, ujar Sebastian dengan tegas. (Ervan /Hip /KbN)

221 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password