breaking news New

Kaum Muda Flores, Kekatolikkan dan Konflik

Tidak bisa dimungkiri lagi, Flores identik dengan kekatolikkan. Katolik mengakar dan bertumbuh subur di sana. Cetakkan misionaris, biarawan/ti, dan pemimpin yang handal berasal dari pulau bunga ini. Namun sangat ironis, kehidupan generasi muda masih jauh dari yang diharapkan.

Berbagai celaan dan anggapan bahwa anak muda Flores belum menunjukkan banyak perubahan. Anak muda Flores bahkan menjadi promotor konflik. Misalnya saja kasus di Malang. Anak muda Flores yang sekolah di Jawa juga mendapat berbagai pandangan negatif dari orang setempat. Peristiwa ini sangat menyedihkan sekaligus memilukan. Mahasiswa-mahasiswa ini berasal dari mana? Menganut agama apa? Di mana iman mereka yang sudah dinisbihkan oleh orang tua? Di tanah rantauan, mereka seperti keledai liar. Padahal, mereka adalah agen pastoral Gereja dan bangsa. Selama ini, orang absen melihat relasi agama dan anak muda Flores. 

Berpijak Dari Iman “Kekatolikkan”

Menjadi orang rantauan adalah peristiwa yang sering terdengar dalam Kitab Suci. Kita menggandengkan dengan kehidupan Abraham. Pada waktu itu Abraham menjadi orang asing di negeri Filistin, yang dipimpin oleh Abimelek. Dalam Kej 21: 22-24 sangat indah cerita ini dilukiskan:

Oleh sebab itu, bersumpahlah kepadaku di sini demi Allah, bahwa engkau tidak akan berlaku curang kepadaku, atau kepada anak-anakku, atau kepada cucu cicitku; sesuai dengan persahabatan yang kulakukan kepadamu, demikianlah harus engkau berlaku kepadaku dan kepada negeri yang kautinggali sebagai orang asing.”Lalu kata Abraham: “Aku bersumpah!

Cerita dalam Kitab Suci memberi pengajaran iman bahwa pemilik tanah (Abimelek) melakukan perjanjian dengan orang rantauan (Abraham). Betapa indah Kitab Suci menceritakan, bahwa yang datang mengadakan perjanjian adalah tuan tanah, bukan orang asing. Itu artinya tuan tanah merindukkan perdamaian. Tuan tanah menginginkan persahabatan dan persaudaraan, bukan sebaliknya. 

Kaum muda Flores adalah anak rantauan yang mencari “nasib” di negeri orang. Sadarlah kalian, anak Flores! kalian adalah anak rantauan. Kalian adalah “Abraham” yang merantau di Jawa, di negeri pemilik tanah (Abimelek). Sungguh sayang, bawah tuan tanah resah dan muak dengan kelakuan orang asing. Bukankah ini adalah sebuah paradoks?

Radix Perdamaian

Radix (akar) perdamaian bersifat teologis. Ia berasalah dari atas, yang tidak lain adalah Tuhan sendiri. Damai kedalamannya menganut pola hubungan sosio-vertikal dan horisontal. Kedamaian yang dibangun dalam hubungan dengan Allah dapat diaplikasikan dalam pola relasi dengan sesama. Kualitas hubungannya dengan Allah dapat ditunjukkan dalam pola relasi moral terhadap yang lain. Pertanyaan pun mencuat ke permukaan, justru bangsa teokratislah (menganut agama Katolik) yang menjadi biang keladi kekerasan? Daerah yang dianggap mempunyai agama sebagai pengatur hidup mereka. Ini justru menjadi kecemasan besar. Titik persoalannya tat kala orang tuli terhadap “hati nurani” sebagai pengatur hidup. Dampaknya tak heran jika arus violence terus melanggar hukum bonnum commune. Esse-co-esse est yang diserukan Gabriel Marcel menggagas pola hidup yang bisa melihat orang lain sebagai komponen atau “aku” yang lain. Melihat kehadiran “aku” yang lain sebagai saudara. Dalam buku Jenszt Vom Guten und Bosen, Nietzsche menemukan dua jenis kasta manusia. Ada herrenmoral (moralitas tuan) dan herdenmoral (moralitas budak). Mengamini dan mengimani konsep seperti ini, mahasiswa Flores terjerembab dalam jurang kehancuran. 

Berbicara tentang kebenaran. Sosok Platon pernah mengungkapkan bahwa kebenaran adalah sahabat sejatinya. Kebenaran menjadi dasar pijakan dalam setiap persoalan. Tetapi di manakah kebenaran ditemukan dalam kemelut pertikaian? Acap kali pendalam kualitas moral, misalnya dalam keputusan “orang menegakan kebenaran” tidak menyangkut kenyataan das sein (apa yang ada) melainkan das sollen ( apa yang harus ada). Das sein mengafirmasikan anak muda Flores melakukan tindakan kriminal. Tidak bisa dielak lagi. Ini fakta, bukan?

Perjuangan menghilangkan konflik acap kali digandengkan dengan iman yang dianut. Saking asyik hidup di tanah rantauan, sampai-sampai tidak melihat lagi spek moral dan iman yang dianut. Sampai lupa bahwa, di dalam diri ada titel anak rantauan.  

Lalu pertanyaan pun menguak ke permukaan, masih benarkah sikap demikian? Menjadikan ‘kerabat’ sebagai objek demi memuaskan nafsu? Panggilan untuk melihat kebenaran ada dalam “tubuh damai” adalah sebuah cundutio sine qua non (keharusan). Dalam tubuh damai itu sendiri ada kebenaran. 

Terlepas dari kenakalan anak muda Flores, sebagai bagian dari generasi muda, saya mengharpakan agar tetap menciptakan perdamaian di Manggarai, tidak lagi menyoalkan kebenaran dan kesalahan. Karena antara benar dan salah adalah dua unsur yang sulit dipertemukan, apalagi kalau muasal persoalan dari titik yang serba terbatas. Kedamaian melahirkan pola relasi subjek-subjek. Melihat orang sebagai sesama yang patut dihormati dan dijunjung tinggi nilai martabat. Seruan Socrates bahwa “saya tidak mengetahui apa-apa”, kiranya menjadi seruan kita juga. Kendatipun kita sudah belajar terbang seperti burung, berenang seperti ikan. Kini saatnya kita belajar berjalan seperti manusia. Seruan yang sarat akan nilai moral dari Socrates, kesadaran akan ketidaktahuan kita membuat kita merasa kecil. Kekecilan itulah yang melahirkan sikap menghormati sesama. Saya tak ada artinya di hadapan sang “pengasal sejati”. Manusia hanyalah akibat dari sang clausa prima, yaitu Tuhan sendiri. Dengan demikian kebenaran sejati itu hanya ada dalam Dia.

Seruan Profetis

Kiranya persoalan ini tidak mendatangkan konflik baru. Biarkan konflik itu sudah terjadi. Memang harus diakui bahwa luka itu tetap ada bekasnya. Namun, kita mengamini perdamaian sebagai guru utama pertikaian. Kalau terus mencari siapa yang menjadi the winner, peluang mempertemukan masalah sangat sulit. Tubuh damai itu menjelma dalam hati yang murni. Mengikuti semua arah hati nurani. Orang Yunani mengatakan hati adalah keseluruhan hidup manusia. Dalam hati tertampung semua “kelemahlembutan”, “cintakasih”, dan “pengampunan”. Kebenaran yang seperti apa yang perlu diperjuangkan? Tentu kebenaran yang tidak mengobyekan sesama, melainkan menjalin relasi “sesama saudara”. Keberanan yang memegang “pengampunan”. 

Laurent Fura, SMM, tinggal di Kota Malang, Mahasiswa Filsafat, STF Widya Sasana, Malang, Jawa Timur

18 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password