breaking news New

Kampung Nelayan Wuring di Maumere-Flores Jadi Destinasi Wisata Peduli Sampah

Kabarnusantara.net – Bupati Sikka, Drs.Yoseph Ansar Rera, mengatakan bangunan pemukiman warga yang tidak tertata secara baik turut menciptakan kesan kumuh di Kampung Wuring, Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Pulau Flores. Pemukimanan yang didominasi warga asal Suku Bajo, Provinsi Sulawesi Selatan, menjadi destinasi wisata yang paling dekat dari Kota Maumere.Rumah panggung berdiri di atas laut menciptakan pemandangan indah pemukimnan komunitas ini. Sekitar 10 menit dari Bandara Fran Seda atau sekitar lima menit dari Kota Maumere.

“Bangunan didirikan tidak teratur,sehingga kesannya kumuh. Karena itu, perlu ditata lebih baik, supaya tercipta kondisi yang bersih dan nyaman,” ujar Ansar, dalam apel sebelum kerja bakti diprakarsai Lanal Maumere di Kampung Wuring, Sabtu (3/12/2016).

TNI AL-Lanal Maumere, memperingati Hari Armada TNI AL ke-71 melakukan bakti sosial melibatkan 400 orang meliputi anggota Kodim 1603 Sikka,Polres Sikka, Brimob, Bea dan Cukai Maumere, kelompok difabel, warga kelurahan Wolomarang dan anak buah kapal `mengeroyok sampah plastik selama tiga jam lebih.

Ansar mengingatkan peran RT, RW,kelurahan dan kecamatan melanjutkan kegiatan yang dilakukan Lanal Maumere dan Bank Sampah Flores, dengan kerja bakti rutin setiap hari Sabtu.

“Kalau tidak ditindaklanjuti maka awal yang baik yang telah diprakarasi TNI AL akan sia-sia. Wisatawan akan malas datang ke sini, sebab sampau menumpuk dimana-mana,” tandas Ansar. 

Sekilas Kampung Nelayan Wuring

Mendengar kata Wuring, mayoritas masyarakat Maumere langsung mengingat sebuah desa yang pernah dipindahkan ke daerah Nangahure. Desa pesisir yang pernah dipindahkan pada tahun 1991 ketika tsunami melanda daerah Nusa Tenggara Timur. Wuring dikenal sebagai tempat tinggal masyarakat Bajo yang berprofesi sebagai nelayan. Dimana Wuring masuk dalam Kabupaten Sikka yang berjarak kurang lebih 2 km dari Kota Maumere.
Layaknya perkampungan nelayan, sebagian besar nelayan di Wuring menggantungkan hidupnya dengan menangkap ikan di laut. Saat pagi hari, para nelayan sudah melaut untuk mencari ikan atau membersihkan jaring. Terlihat juga anak-anak yang sibuk berenang di laut. detikTravel berkunjung ke sana beberapa waktu lalu.

Uniknya, rumah nelayan di Wuring ini dibuat seperti rumah panggung. Semua rumah disangga oleh bambu yang ditancapkan ke dasar tepian laut. Selain sebagai fondasi rumah, bambu juga digunakan untuk menghubungkan setiap rumah hingga ke jalan utama.

Dengan menapaki jalur bambu yang ada, kita dapat berjalan sekitar 500 meter hingga ke laut. Dari ujung tepiannya, terlihat Laut Maumere yang begitu jernih dan indah. Saking jernihnya, perahu nelayan yang ditambatkan pun terlihat mengambang.

Sekilas melihat, ada persamaan antara kampung nelayan Wuring dan kampung nelayan suku Bajo di Sulawesi, khususnya soal bentuk rumahnya yang terapung dan saling terhubung. Ternyata, mayoritas nelayan yang ada di kampung nelayan Wuring adalah pendatang dari Sulawesi. Ada yang merupakan orang Bajo, hingga Bugis.

Mereka pun beragama Islam, berbeda dengan masyarakat asli Maumere yang beraga Katolik dan Kristen. Perbedaan pun tidak menjadi hambatan antar masyarakat yang berbeda untuk hidup rukun saling berdampingan.

Kegiatan di kampung nelayan Wuring pun akan semakin semarak ketika sore tiba. Transaksi jual beli ikan biasanya dilakukan pada sore hari. Di pagi hari, suasana begitu tenang dan damai. Nyaman sekali rasanya.

Hantu Laut

Orang Bajo mempercayai bahwa laut itu memiliki “penghuni”, mereka menyebutnya “hantu laut”. Sehingga dulu ada cara-cara yang mereka lakukan sebelum turun ke laut. Namun lama kelamaan proses tersebut sudah mereka tinggalkan. Sulit untuk menemukan nelayan yang mau melakukan prosesi turun laut sebelum memancing. 

Namun masih ada beberapa hal yang dipercaya oleh masyarakat Bajo hingga saat ini, yaitu cara pengobatan sederhana yang memanggil “hantu laut”. Mereka percaya jika seseorang sakit maka ada “hantu laut” yang merasuki tubuh si sakit. Selain itu pengobatan juga dilakukan dengan mandi air laut. Jika seseorang sakit, dipercaya untuk menyembuhkannya hanya perlu mandi air laut. Karena itu jangan pernah heran jika anak kecil umur 1 tahun sudah pandai berenang.

Perempuan perkasa

Menarik lainnya adalah perempuan di Wuring dikenal sebagai perempuan perkasa. Mereka mampu mencari nafkah sendiri bagi keluarganya. Pemandangan yang lumrah ketika sore hari, perempuan-perempuan Wuring sedang berjualan ikan di pasar. Mereka yang bertugas menjual ikan hasil tangkapan suaminya. Jadi ada sebuah pembagian porsi kerja di dalam keluarga. Setelah suami mencari ikan, sang istri akan menjual hasil tangkapan suami di pasar. Sang suami akan menjaga anak-anak mereka ketika istri sedang menjual ikan. Sebuah ikatan kuat dan saling mendukung. 

Kerjaan ini mereka lakoni agar ada pemasukan tambahan bagi keluarganya. Karena selama ini hanya ikan tuna yang langsung laku dijual. Ada pembeli dari luar Wuring atau biasa disebut Papalele (laki-laki) dan Mamalele jika perempuan. Biasanya papalele dan mamalele membeli ikan tuna (bengkunis) dan cakalang saja. Karena kedua jenis ikan tersebut yang memiliki harga tinggi di pasar lokal.  

Jadi jika seorang nelayan mendapatkan ikan dari jenis lain seperti ikan pedang, ikan teri, cumi dan lain sebagainya hanya bisa dijual oleh sang istri nelayan. Harga ikan ditentukan dari musim ikan. Biasanya jika musim hujan datang, harga ikan bisa melambung. Tapi jika musim kemarau dan ikan sedang banyak maka bisa dipastikan ikan menjadi sangat murah.(RR/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password