breaking news New

Keluar dari Zona Isolatif

“Pergilah dari kampung pikiranmu, dan belajarlah dunia yang mahaluas, di sana anda akan menemukan keindahan dan keburukan,” demikian penulis menggambarkan sebuah pola kehidupan. Kehidupan manusia yang terkungkung dalam tempurung pikiran justru mengerdilkan ia untuk membaca dunia luas. 

Ingat, dari penelitian UNESCO, ditamsilkan bahwa minat membaca manusia Indonesia hanya mencapai 0, 001%. Artinya, dari antara seribu manusia Indonesia hanya satu orang yang memiliki budaya membaca. Kemiskinan budaya membaca membuat miskinnya analisa. Miskinnya analisa memudahkan orang terjerumus dalam kepicikan dan kebodohan.
Senada dengan itu, Hidajat Nataatmadja pernah bilang demikian, “Penjara yang paling nyaman adalah tempurung kepicikan pikiran sendiri. Begitu nyaman sehingga kita baru sadar bahwa itu penjara sewaktu kita terjaga di neraka.” Banyak orang bercita-cita menemukan kebahagiaan, tetapi kehidupannya hanya mencapai titik semu.

Dalam kanca kehidupan, begitu banyak hal yang perlu kita baca. Teks atau buku utama dalam kehidupan adalah hidup itu sendiri. Maka, Toni Morrison pernah menandaskan, “Jika ada sebuah buku yang ingin Anda baca, tetapi buku tersebut belum ada yang menulisnya, maka Andalah yang harus menulis buku itu.”

Tugas utama manusia adalah menulis dan merumuskan buku kehidupan. Dia bisa belajar dari sana. Orang yang selalu belajar akan melihat segala sesuatu sebagai peluang untuk bisa menuju pembangunan hidup.

Penyakit tidak hanya datang dari makanan dan minuman. Fakta menyebutkan, sebagian besar penyakit timbul akibat pikiran negatif. Hanya dengan berpikir positif, menyayangi sesama, alam, sesungguhnya membuat kita bahagia. Itulah pernyataan Gede Prama. Bagaimana orang berpikir tentang yang baik, kalau orang terus berada dalam lembah isolatif. Lembah isolatif membungkus orang sehingga ia tetap kecil.

Dari sana, MB (Montfort’s Brothers) mencoba membidik dan memberikan rekomendasi agar orang tidak tinggal dalam zona isolatif pikiran. Pertama, Hidup adalah buku kehidupan. Kalau Anda malas membaca buku yang berisi teori, paling tidak Anda bisa membaca buku kehidupan itu sendiri. Buku kehidupan itu sendiri mulai dari rumah sampai ke persoalan sosial. Jika, ada sesuatu yang aneh harus dipertanyakan dan dikritisi. Maka, sekolah itu adalah aktivitas mulai dari pagi sampai sore. Sekolah itu adalah sekolah kehidupan.

Kedua, mendengarkan. Banyak orang berlomba-lomba menjadi pembicara, hanya segelintir orang yang mau menjadi pendengar. Ketika MB berkunjung ke sebuah kafe. Di sana, kami melihat bahwa di sebuah kelompok yang sedang mamiri (Makan minum ringan), setiap orang ingin berbicara. Kami hanya memusatkan perhatian pada seorang cewek yang dengan setia memasang kupingnya. Dan menutup mulut serta memusatkan mata untuk mendengarkan sharing dari sahabat-sahabatnya. Itu adalah sebuah sekolah bagi kami. Dengan demikian MB mengamini, cobalah dulu, baru cerita. Pahamilah dulu, baru menjawab. Pikirlah dulu, baru berkata. Dengarlah dulu, baru beri penilaian. Bekerjalah dulu, baru berharap.

Ketiga, keluar dari kampung pikiran yang sempit. MB tidak membicarakan bahwa kampung negatif. Tidak sama sekali. Kampung dalam konteks ini adalah cakrawala yang sempit dan nyaman. Lupa bahwa ada juga cakrawala yang lebih elok dan baik di luar kampungnya. Jika orang terlalu naif menolak cakrawala baru, itu artinya orang itu sedang memelihara tubuhnya bukan otaknya. Kecenderungan pemahaman manusia hanya bersandarkan satu aspek. Sedangkan aspek lain absen dari penilaian.

Keempat, think global, act local. Bolahlah Anda punya pemahaman mahaluas dan mahakaya. Akan tetapi, dalam bertindak mulailah dari sekarang. Anda tidak bisa langsung menjadi penulis terkenal sebelum anda menulis catatan harian anda. Latihan selalu mulai dari 0 sebelum ke 1.

Dari diskusi MB, kiranya membantu Anda melihat bahwa perlunya keluar dari zona isolatif pikiran. Saat tertentu memang anda harus pergi ke dalam diri anda sendiri. Di sana anda akan menemukan keheningan dan kedirian. Di lain sisi, anda perlu ke luar mengunjungi kampung pikiran orang lain.

 Eugen Sardono, SMM adalah Montfortan. Tinggal di Malang.

1 Comment

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password